Wednesday, 2 September 2020

Nama Lokal dan nama Latin Tumbuhan Area Adonara

Kayu

Airnana
Auyayang/Suren
Bahi/Kosambi Schleichera oleosa
Bao/Beringin Ficus Benyamina
Johar
Kapo/Kapuk rhodognaphalon schumannianum
Kayo Gula/Trembesi Samanea Saman 
Kayo lulu bele
Kayo tae
Kebae/Sengon Paraserianthes falcataria
Keoting
Kebelun/Jarak Pagar
Kedanga/Timoho Kleinhovia hospita
Keluang/Bunga Kupu-kupu Bahuinia Monandra
Kelumbuk Pterocymbium tinctorium
Kenilat/Kersen
Kero
Kerore/Mengkudu Morinda citrifolia
King
Kule
Kukung/Walikukung Schoutenia ovata
Kung/Pohon Ara Ficus racemosa
Lamtoro
Ledo
Maa
Maha
Padu Bima/Jarak Ricinus communis
Pergea
Reo/Kayu Jawa
Rerat/Dadap Erythrina variegata
Rita/Pulai Alstonia Scholaris
Tapo Matan
Teet/Benda Artocarpus elasticus
Wukak/Kepuh Sterculia foetida

Palem
Koli
Tapo/Kelapa
Wua/Pinang
Pola/Aren
/Putak


Herba dan Liana
Au
Baki
Belang
Belate/Jelatang
Bengo/Koro Benguk
Hura
Kebeteng
Keboyang
Kelawak
Kelebo
Kemede/Uwi Dioscorea alata
Kemodolido
Kepoho Lolon/Sembukan Paederia foetida
Keroko/Widuri Calotropis Gigantea
Keso/Gandu Entada phaseoloides
Kewekut
King
Kuu
Krokot
Lako li'ang
Laang/Lalak Uvaria Rufa
Odo/Ubi gadung Dioscorea hispida
Patikan
Petung
Pering
Rembusa Passifora Feotida
Wulo


Monday, 24 January 2011

PUISI UNTUK MANTAN PACAR

Oleh: Vitus Riantoby

Gerimis datang tanpa dirimu
Genggaman dan binar mata terbayang

Binar mata pertanda cinta
Hanya untuk diriku dan dirimu

Jangan tinggalkan dalam penantian
Jangan lupakan dalam kerinduan

Jangan biarkan tangis tanpa sandaran
jangan biarkan tangis larut dalam gerimis

hapuslah air mata dengan kelembutan
sediakan bahu kasih sayang untuk bersandar

Dekaplah dan biarkan aku menangis
rasakan hanya kasih sayang yang ada
jangan nodai cinta walaupun setitik gerimis!

MIMIN

Diriku dan dirimu yang kini terbaring di antara kenangan dan mimpi
adalah simbol kemisteriusan cinta yang sulit kita pahami…



(sebuah cerpen dukungan terhadap Komodo sebagai Keajaiban Dunia)

AKU TIBA di Pulau Komodo ini setelah menapaki jalan udara. Sebab angin telah khatam menghantarkan

MATINYA MATA HATI


Sebuah Cerpen Oleh Pion Ratulolly


Aku bergegas menarik jangkar dan menaikan layar sampan[1]ku. Malam ini juga aku harus pulang ke rumah. Aku memutuskan untuk berhenti memancing. Bukan lantaran tak satu pun ikan yang kutangkap semenjak

LELAKI BERTAHI LALAT DI PINGGANG


Sebuah Cerpen Oleh Pion Ratulolly


Wae[1], perempuan Adonara itu seperti gading. Sebagaimana gading yang dijadikan sebagai belis[2]

AROMA BAU LOLON [1]


Sebuah Cerpen Oleh Pion Ratulolly


MALAM yang hujan. Kilat dan gemuruh berantrian memotret keresahan serta meledak-ledakan perasaan kalutku. Dan air mata adalah lautan perasaan takut dan cemas yang sangat dalam. Aku belum berani

Mandi di Kamar


(sebuah contekan mbling)

Oleh: Pion Ratulolly

di lembar-lembar malam yang lembur
kita sesekali terperosok di lembah bentur
antara nafas dan nafsu yang terus memburu
membirukan mata tanpa kata

ah!!!
desah yang panjang dan telanjang
bagai lolongan anjing pincang di ujung tumbang

kenikmatan manakah yang sungguh-sungguh
sanggup menuntaskan lelehan keringat
juga darah yang dijarah-jarah, sayang?
…………………………………………..

ah!!!
sial,
mimpi memandikanku di kamar

kupang, 23/12/10