Saturday, 7 November 2009

PIKNIK

Minggu pagi-pagi. Ama sudah terbangun oleh deringan ponselnya. Deringan monopronik dengan lagu 'rera pe weli'. Berlawanan dengan suasana lagu, kini matahari akan segera naik dari ujung pulau yang hampir-hampir datar ini.

Malaysia

Tepatnya tanggal 08-02-2007 adalah awal perjalanan menuju sebuah tempat baru atau tempat yang asing bagi pribadi saya. Sebuah tempat dimana menurut orang kami atau orang yang biasa pergi-pulang kesana menyebutnya tempat melarat (menurut pemikiran sendiri: bisa dibilang tempat untuk mencari kemiskinan). Adalah negara tetangga kita, Kerajaan Malaysia, khususnya negri Sabah di sebelah utara Pulau Kalimantan.
Tentang tempat melarat bisa dijelaskan bahwa biasanya orang di kampung kami (Flores-Adonara), menyebut orang yang pergi ke Sabah adalah orang pergi melarat. Artinya orang yang mau pergi ke Sabah adalah orang yang berani menerima resiko atau tantangan hidup di tanah orang yang belum jelas arah tujuannya. Kita adalah orang luar yang masuk dan menyelip diantara orang-orang yang ada didalamnya. Disini, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, orang yang ada didalam masih renggang sehingga orang yang berada di luar bisa menyelip dan bergabung dengan orang yang berada didalamnya. Kedua, orang yang berada didalam sudah penuh sehingga orang yang berada diluar tidak bisa masuk dan menyelip kedalamnya. Kemungkinan kedua ini bisa disebut pergi untuk melarat. Karena meskipun sudah berada di tanah rantau tetapi tidak mendapat pekerjaan (menganggur). Inilah tantangan berat yang bisa saja terjadi bagi seorang perantau.
*************
Perjalanan dengan menggunakan KM AWU dari Maumere menuju Nunukan memakan waktu lima hari. Jadi hari Senin (12-02-07) saya sudah sampai di Nunukan. Dengan mengurus pasport selama tiga hari akhirnya hari Kamis (15-02-07) saya bisa menyebrang ke negri sebrang (Tawau) dengan menggunakan feri KM Labuan dan dengan menempuh perjalanan dengan menggunakan bus selama satu malam akhirnya sampai di Kota Kinabalu.
Pagi itu angin pantai berhembus kencang dengan membawa hawa dingin membuat orang yang sedari kemarin sore menuggu keberangkatan dengan menggunakan kapal laut tidak bisa ngantuk hanya duduk berjejer menahan kedinginan. Jadwal keberangkatan seharusnya pada pukul 21.00 tetapi tertunda sampai pukul 02.00 pagi. Ini membuat orang merasah gerah karena harus menunggu dan terus menunggu.
Diantara jejeran orang itu, ada seorang remaja umur belasan yang sudah dari kemarin sore hanya berjalan keliling sendirian. "Mungkin dia sedang mencari seseorang atau mungkin dia sendirian dan sedang mencari kenalan", pikirku dalam hati. Tanpa ambil pusing dengannya aku terus menuju ke warung makan kecil yang berjejer di sepanjang pelabuhan guna mendapatkan segelas kopi hangat untuk menghilangkan rasa ngantuk dan dinginnya angin pantai. Segelas kopi Flores dengan sebungkus rokok surya merupakan hidangan lezat ala pria di malam yang dingin itu.
''Kopinya segelas berapa mas?'' Tiba-tiba dari belakang seorang bertanya. ''Kopi ya, mas? Tukas si penjaga warung. ''Ya mas. Tambah satu bungkus rokok sampoena''. Jawab si pemuda tampan sekitar umur belasan. ''Semuanya Rp 10.000. Tanpa banyak komentar dia lansung menganbil dompet dari tas kecil yang tergantung di pinggangnya dan menyodorkan ke penjaga warung. ''Ini mas''. Langsung dia memgambil tempat persis di depanku.
Seteguk kopi hangat langsung saja mengalir ke dalam perutnya ditambah semburan asap rokok kelihatan begitu lezat untuk terus di nikmati. Wajah tampan itu kelihatan acuh tak acuh dengan keadaan disekelilingnya.
''Mau kemana De?''. Tanyaku selang beberapa menit. ''Saya mau ke Nunukan Bapa'' jawabnya tegas dengan logat kentara orang Adonara.

TARI HEDUNG

Dramatisasi perang! Sangat berkesan, meski perang adalah pencabulan terhadap ciptaan Tuhan yang mulia. Tidak, kalau perang dibuat untuk membela sesuatu yang mulia yang hendak dilenyapkan atau ditindas oleh yang lain.
Gerakan tari dinamis, menunjukkan ekspresi yang dalam tentang kekuatan, ketangkasan, dan kelihaian. Itu unsur-unsur positif. Sebagai dramatisasi, dimasukkan pula ekspresi fisik tentang ancaman, keangkuhan, kebuasan, dan nafsu untuk menindas dan menguasai. Itu unsur negatif. Semuanya dipadu dalam unsur gerak, ruang, dan irama.

1. Gerakan.
Semakin banyak jenis gerakkan yang dibuat, semakin banyak isyarat pesan yang disampaikan tentang isi dan semakin menarik pula tarian itu. Gerakan tentu harus relevan dengan pesan yang ingin disampaikan atau ditunjukkan. Kekayaan gerak adalah hal yang bisa dieksplorasi terutama bagi yang telah mendalami apa pesan atau ekspresi yang ingin disampaikan kepada penonton. Dan sebenarnya, kekayaan gerak adalah hal yang sudah tereksplorasi tetapi kurang diidentifikasi sebagai suatu hal yang umum dan mudah diikuti. Banyak gerakan yang telah diteruskan, diciptakan, ataupun yang dilakukan kembali. Namun kita tidak begitu mengakrabkan diri untuk mengenal gerakan itu dengan sebutan tertentu.
Memang, itu adalah hakikatnya seni, untuk dihayati, tidak sekadar dipelajari.
Gerakan meliputi anggota gerak, ekspresi wajah, bagian tubuh seperti kepala, dan juga perlengkapan yang lain seperti pakaian maupun senjata. Beberapa gerakan dilakukan dengan meniru gerakan umum, bukan gerakan tari. Gerakan umum yang biasa dilakukan antara lain seperti 'kedek'a' (tap keras, membuat bunyi di tanah dengan hentakan kaki), 'genok' (ancang-ancang memotong dengan parang atau menombak), 'golek' (berjalan mengelilingi obyek tertentu), 'hiate' (menarik senjata sampai jauh ke belakang sebelum mengarahkan ke musuh), 'hedo' (menghindar), 'dukuk' (tunduk), 'tonga' (melihat ke atas), 'nadon' (mengangguk), 'geleko' (ke depan lawan melewati arah belakang), 'niku' (menoleh), 'tuen' (berbalik), 'po'ok' (potong), dan lain-lain. Perpaduan gerakan-gerakan ini dan sejumlah gerakan lainnya dengan pengulangan dan unsur irama akan membentuk gerakan tari.

2. Ruang
Tarian hedung mulanya dipakai untuk menyambut orang yang pulang menjadi pemenang perang. Jadi, tari mulanya dibawakan di batas kampung atau di pintu gerbang kampung. Pintu gerbang kampung adalah ruangan yang terbuka dan tidak terlalu membatasi gerakan. Pemakaian ruangan seharusnya disesuaikan dengan pembawaan tarian sehingga jangan mengorbankan tarian demi penyesuaian ruangan. Misalnya sering dijumpai pembawaan tari pada panggung sempit atau melewati rintangan jalan yang sempit atau panggung yang kecil.
Pemakaian ruangan adalah bagaimana setiap gerakan diatur untuk menjangkau ruangan yang ada, dan bagaimana pengaturan posisi tiap personel selama kegiatan menari, dan perubahan posisi-posisinya.
Pementasan tari kadang-kadang hanya menujukkan aspek keteraturan, dan aspek yang lain kurang diperhatikan. Berbaris dalam jarak yang sama, gerakan dan langkah yang serempak adalah salah satu contoh keteraturan yang kini dikenal dalam dunia militer. Keteraturan ini banyak diadopsi dalam gerakan tari yang serba rapi dan kadang tidak menunjukkan ekspresi lain. Padahal masih ada aspek yang perlu ditunjukkan, misalnya bagaimana merusaknya perang itu ditunjukkan dengan posisi yang kacau, dan untuk menunjukkan bagaimana lawan yang tak seimbang, posisi penari mesti tidak seimbang. Atau bagaimana menceritakan tentang prajurit yang jadi pelindung, pasti ada gerakan mengelilingi obyek tertentu, yang dibayangkan sebagai obyek yang mesti dijaga keutuhannya.
Contoh posisi penari dalam ruang.

1. Berbaris.
Ini menunjukkan keteraturan dan posisi yang adil, di mana satu prajurit melawan satu prajurit. Posisi ini paling banyak dipakai, misalnya pada acara penjemputan tamu, di mana posisi penari mesti disesuaikan dengan ruang jalan yang ada. Para penari berbaris dalam jarak teratur dan pada saat tertentu memperagakan gerakan saling menyerang satu lawan satu.
2. Posisi mengelilingi.
Pada posisi ini, seorang atau dua orang berada di tengah-tengah dan dikelilingi oleh beberapa penari lain. Atau, yang ditengah adalah penari wanita.
3. Posisi dua lawan satu.
Pada posisi ini menunjukkan kekuatan yang tidak seimbang tetapi mesti bertahan di bawah ancaman kekalahan.
3. Posisi tanpa lawan.
Pada posisi ini, para penari masuk dalam satu arah dan dengan menganggap musuh datang dari arah lain.
5. Posisi bintang.
Penari masuk dari tiap sudut yang berbeda dan langsung masuk dengan gerakan tarinya masing-masing.
6. Posisi bintang berkelompok. Pada posisi ini, setiap penari dalam kelompok berisi dua atau tiga orang masuk dari sudut masing-masing dengan gerakan tariannya.
7. Posisi tunggal. Kalau hanya seseorang yang menari.

Setiap posisi yang cocok bisa digabungkan dalam satu pementasan, dengan cara merangkaikan tiap posisi itu dalam satu alur kisah atau dramatisasi. Masing-masing posisi mempunyai gerakan sendiri yang khas sesuai isi pesan.

LEGENDA PULAU KLARA

(Sumber cerita: Ian de Peskim)

Dentang bunyi tambur berirama cepat seperti langkah-langkah kaki tergesa. Nyala obor meliuk-liuk layaknya tarian samba di sabana pulau Sabu. Gadis-gadis menari sampai terbius tariannya sendiri di pagi buta ini. Lantas, dari sela-sela pohon lontar, datang perintah tuan kampung. Suara bulat hasil rembug tetua memutuskan tarian diteruskan sampai fajar merekah. Melewati waktu bertahan yang seharusnya. Pesta sudah berlangsung sampai malam ketiga bulan purnama. Orang-orang mengalir datang dan pergi, dan tak henti pula alunan nyanyian solo ditingkahi denting sasando merayu pengunjung untuk terus bertahan di tempat sampai purnama menjadi pucat oleh fajar pagi nanti.
Hari ini upacara pemanggilan. Seperti ritus sia-sia untuk menjemput kembali para pelanggar sumpah adat keramat. Pelanggaran yang membuat lenyap sebuah daratan dari tiga daratan yang sejak dulu dengan damai didiami. Semua percaya, pulau kerabat mereka hanya lenyap dari pandangan, dan akan muncul saat purnama berjaya di atas lautan.
Dunia di pulau itu adalah misteri yang sama tak terungkapnya dengan rencana menyelamatkan pulau dari tindasan penakluk dan penjelajah yang berkuasa atas lautan dan daratan. Pengelana yang kemudian tiba di segenap negeri adalah manusia yang sama tetapi dengan tangan ajaib menciptakan peralatan-peralatan dan membuat manusia lain tunduk mengakui dan takluk pada kekuatan besar itu. Warga pulau sekeliling mengerti apa artinya takluk. Kamu dan semua yang kamu kenal akan diseret ke tempat yang tidak kamu inginkan. Melakukan apa yang tidak kamu niati. Padahal manusia adalah sebuah kebebasan untuk membuat nyata apa yang akalnya beritahu. Akal satu-satunya yang membuat kemanusiaanmu tegak di atas tegarnya karang.
Nyanyian solo telah berhenti kini. Berganti lagi ke tambur dalam irama perang. Laki-laki turun ke tengah-tengah arena dengan mengacung gada kayu. Para wanitanya mengibar-ngibarkan selendang coklat dengan motif bintik-bintik. Di sekeliling tepi kerumunan, bergumam hadirin yang tidak masuk dan ikut gerakan berirama tambur beradu desir ombak.
'Kita kerabat, kita mengundang mereka datang, berbagi keriangan seperti yang ditunjukkan turun-temurun sebagai nilai mulia kebersamaan dan kesatuan yang tak terpecahkan', kumandang suara di tengah himpunan.
Semua diam tepekur, tahu suara itu menembus batas-batas kelihatan dan yang tak kelihatan. Satu-satunya hal yang bisa buat kerabat mereka merasa pasti untuk diundang.
Rasi gubug penceng sudah di kemiringan sepertiga jarak tegak, seseorang sedang mengamati itu. Tanda fajar menyingsing beberapa jarak waktu lagi. Waktu di mana para pengunjung mesti dibuat tetap berada di tempat dengan hati riang dan tak peduli lagi pada waktu yang merayap lamban....

PENGHARGAAN

Huh. Makan surat penghargaan dari duta Vatikan itu! Kalau kamu tahu kamu bisa kenyang kebanggaanmu dengan kertas selembar itu. Kamu mesti tahu, kamu dihargai karena pekerjaanmu, bukan karena kehebatanmu. Dan penghargaan itu bukan diberikan di akhir, itu diberikan di tengah-tengah usahamu supaya kamu dapat sedikit dorongan yang kedengarannya bernilai religius, bagi besarnya gereja katolik.”
Dan langkah di tengah-tengah yang kini kau hentikan itu. Coba lihat, amati. Apa langkahmu benar-benar kau hentikan ataukah kau melanjutkannya di jalan lain dengan tujuan yang sama. Saya hanya mendiagnosa tentu, kalau kamu benar-benar berhenti, mandeg. Satu bahasa yang kedengarannya sinonim dengan mati. Yang namanya penghargaan hanya berlaku kalau kamu masih berharga seperti yang dikatakan dalam penghargaan itu. Kebanggaan yang sebenarnya adalah suatu keadaan di mana anda benar-benar telah berharga, masih berharga, dan terus berharga dan anda merasakan dan tetap menghidupi itu. Meski tanpa selembar kertas dengan tandatangan orang lain atau nama besar sebuah lembaga besar. Mereka itu yang biasanya punya ide besar yang sebetulnya datang dari interaksi antar orang-per orang juga seperti kamu dan orang-orang lainnya. Kita hanya sekumpulan manusia dengan niat dan akal yang bergerak jauh melebihi kekuatan masing-masing kita untuk mengendalikannya, karena itu adalah kehendak dalam himpunan yang menembus batas ruang waktu.
Aris memaki di tengah-tengah perjalanan pulang. Jenuh dengan semua yang terikat pada kebanggan masa lalu sehingga mengira dunia hanyalah himpunan masa lalu yang dikisahkan.
Di kostnya, ia punya seorang yang dengan bangga menceritakan tentang tulisannya yang menembus redaksi horizon dan dimuat di salah satu edisinya. Dan satunya lagi ia jumpai hari ini. Tulisannya dapat penghargaan dari duta Vatikan.
Tapi kini, itu sama-sama hanyalah legenda yang tak meninggalkan bukti dalam diri orang-orang itu.

POLITISI

Ia berbicara seenaknya. Padahal belakangan saya tahu kalau sekolahnya belum kelar.
"Kalau mau jadi PNS, saya pasti sudah lama masuk," bualnya tanpa ragu.
"Masa?"
"Jelas ya. Kolegaku banyak yang pejabat. Wabup sendiri malahan jadi teman baikku. Sering saya main ke rumah jabatan. Kalau saya ke sana, saya sering menelepon ke rumah teman-teman. Saya ajak mereka bicara hal yang tidak penting di telepon. Berjam-jam. Dengar, berjam-jam, kadang bisa sampai separuh malam. Mereka sering balik nanya, apa masih lama saya bisa menelpon. Hahahaha. Jelas. Omongan kita yang tidak masuk akal ini harga pulsanya mahal. Tapi jangan takut saya bangkrut. Ini semua sudah dibayar oleh rakyat. Saya sedang ada di rumah jabatan Wabup sekarang."
"Kacung lu."
"Begitulah enaknya dekat dengan orang politik. Ke mana-mana enak dapat fasilitas. Tapi itu kalau menang pilkada. Kalau kalah, ya jadi abu. Siap diinjak-injak orang."
Ia melirik ke jam tangannya. Cepat-cepat saya menyambung bertanya.
"Sejak kapan kamu masuk ke lingkaran orang politik semacam itu?"
"Barusan saya muncul di pilkada lalu. Waktu itu tim kami dibentuk untuk seorang calon yang sekarang jadi pemenang. Kami punya seratus tiga puluh orang di tim. Saat itu, sebelum masa kampanye tentunya, tim kami turun dengan menyaru sebagai tim peneliti. Tim peneliti apaanlah. Ada yang sebagai peneliti budaya, sosial, pendidikan, kesejahteraan masyarakat, dan politik. Seluruh anggota kami disuruh menyebar ke semua desa di kecamatan. Kami punya dua orang di tiap desa. Tiap akhir pekan ada pertemuan yang digilir tiap ibukota kecamatan, yang kami ganti setiap minggunya. Kami berhasil merekrut banyak kepala tiap pertemuan. Dari situ, mereka kami giring untuk mempelajari setiap konsep yang kami berikan. Mulanya ilmu budaya, sosial, pendidikan, dan kesejahteraan. Nah. Setelah mereka tenggelam dalam kekaguman atas pengetahuan kami-karena mereka bodoh tentunya-tanpa sadar mereka kami cekoki dengan visi-misi unggul partai kami."

LARANGAN

“Kakanda akan berbagi cerita”, kata-kata pertama menandai sesi tutur cerita.
Puluhan peserta membisu di atas tikar, persiapkan diri agar bisa diberi inspirasi dari kegiatan hari itu. Ini hari kedua. Di depan, duduk bersila tiga orang berpeci hijau. Sebuah spanduk hijau di belakang ketiga pencerita ini ditempeli tulisan kertas berwarna terang.
Tuturan berlanjut. Semua mendengar dan sesekali mencatat. Tiga pria ada di barisan tengah, canggung di depan cerita berapi-api. Mereka baru diterima dan diperkenalkan sehari sebelum itu dengan kelompok pemuda yang berhimpun untuk kegiatan membina diri. Ini adalah kelompok yang sudah punya tradisi panjang, sudah dipercaya untuk menjadi tempat berhimpun dan berbina jasmani rohani.
Sesi itu selesai ketika mereka diingatkan kembali pada aturan-aturan sunah. Semua peserta telah paham, setelah berwudhu, tidak diperkenankan untuk bersentuhan dengan muhrim, yaitu para gadis-gadis sesama peserta. Tapi siapa yang bisa mengawasi semuanya? Ketika ada waktu lowong, ketiga pria canggung menyusup ke luar ruangan. Di sela-sela bangunan mesjid raya, banyak sudut-sudut tanpa penerangan lampu. Ketiga pria canggung memergok Kakanda panitia yang sejak tadi tidak kelihatan lagi mengawasi. Ia ternyata kini ada di sana, di sudut dengan siluet gelap, menjauh dari keramaian bersama seorang gadis berjilbab. Di sudut satunya begitu pula. Seorang pria lain dengan gadis yang duduk mematung seperti kebingungan.
Mereka ternyata hanyalah gelegak darah muda di tengah rangkaian kegiatan yang disebut pembinaan ini.
Sesi berikut pun dimulai lagi. Di hadapan peserta, di bawah bendera hijau hitam, duduk bersila seorang kakanda lainnya. Ia belum dikenal sebelumnya oleh ketiga pria canggung yang memang baru hadir bergabung kemarin. Tapi ia seperti sudah mengenal semua hadirin dan apa yang mereka pikirkan. Dan apa yang mereka yakini.
“Sebagai muslim sejati,” ia pun berbagi cerita, sepeti lima enam kakanda sebelumnya, 'kita jangan berhubungan dengan ini'. Kata-kata tegas.
Sebuah kertas dikeluarkan. Semua menahan napas. Kertas itu dibuka satu per satu lipatannya lalu dibentangkan di hadapan hadirin. Gambar salib.
Salah satu dari tiga pria canggung mengangkat tangannya. Menyatakan tidak sepakat. Ia lalu keluar, mengambil tasnya, lalu pamit kepada dua pria canggung lain dan penyelenggara.
“Kenapa kamu berniat pulang?”
“Saya tidak sepakat dengan apa yang disepakati oleh semua orang di sini.”
“Oh, ya. Kamu muslim kan?”
“Ya.”
“Lantas apa yang mengganggu?”
“Ibu saya katolik. Dan mereka yang di dalam itu melarang saya sebagai muslim sejati. Saya rasa saya tak layak untuk ikut di sini.”
Tanpa basa-basi dan tawar menawar, si pria pergi. Tinggalkan sebuah lambang peradaban di belakang sana, kubah besar tempat umat pilihan allah didengar doa-doanya. Di dalam naungan bangunan tembok besar di bawah kubah putih itu. Dan para pemuda di dalamnya. Apakah mereka mengerti peradaban itu ketika seluruh dunia berputar, dan mereka pun ikut berputar, dan karena itu tak ada satupun yang berada di pusat perputaran itu?

ADBAR

Waktu menunjukkan hampir pukul dua malam ini. Sebuah jalan saya di kawasan walikota tentu saja tidak gelap pekat karena lampu jalan memerangi dari dua sisi, kira-kira tiap jarak 20 meter. Kota sunyi dalam lelap tidur penghuninya, tetapi tidak di jalan raya itu. Sekitar dua puluhan orang menyusuri jalan lebar itu dengan cerita masing-masing.
Kamu mungkin merasa berada pada tempat dan waktu yang salah karena menemukan bahwa kelompok orang ini adalah orang Adonara, tepatnya pelajar Adonara Barat. Mereka baru selesai dari kegiatan pertemuan beberapa menit lalu. Yang terlibat adalah pelajar Adonara Barat yang aktif dalam IPMAB. Kelompok orang yang berjalan kaki ini adalah sebagian anggotanya. Sebagiannya yang lain memilih bertahan di gedung pertemuan atau menginap di kost-kostan di sekitar gedung.
Tak ada satupun kendaraan umum yang lewat. Semua orang bergerombol di badan jalan. Hanya sesekali lewat mobil dan motor besar milik polisi yang berpatroli. Sekilas kelihatan bahwa polisi juga sibuk dengan handy talky. Soalnya, malam ini telah melewati pukul 00.00, maka saat ini sudah terhitung dalam hari libur wajib di kota Kupang. Hari ini, atau tepatnya lima jam lagi, pemilihan paket walikota dilakukan. Gerombolan orang di jalanan pada dinihari patut dicurigai sebagai tim serangan fajar, yaitu kelompok orang yang disuruh salah satu calon yang akan menyuap warga untuk memilihnya.
Tujuan mereka masih jauh, sekitar empat kilometer lagi. Mereka, pelajar Adonara Barat, berjalan kali sejauh itu pada satu dinihari. Tak ada kendaraan jemputan, kendaraan umum, apalagi ojek. Apa yang mereka lakukan sehingga di saat biasanya sedang beristirahat mereka masih dalam pekerjaan mereka?
Sejak 18 jam lalu, atau pukul 8 pagi kemarin, semuanya sudah berhimpun di aula PMI yang terletak di walikota. Undangan dari panitia menyebut ini kegiatan Rapat Umum Anggota. Agenda pentingnya adalah laporan pengurusi pembahasan AD/ART serta pemilihan pengurus baru.
Perhatian dipusatkan pada pemilihan pengurus baru. Isu yang lebih dulu merebak adalah soal wilayah timur-barat. Persaingan timur-barat yang akhirnya mengabaikan soal kualitas telah ada sejak dulu. Jauh hari sebelum pertemuan, tiap wilayah telah mengorganisir massanya. Pengorganisasian massa tergantung dari kedekatan pribadi. Kelompok yang nyata-nyata ada-tapi tentu saja tidak diakui secara terbuka- terbagi dua: Lite, Lewobele, Nubalema, dan daerah timur Adonara Barat di satu pihak, berhadapan dengan Kokotobo, Bukit Seburi, Waiwadan dan daerah barat lainnya. Biasanya, tiap kelompok memberi kesempatan bagi seorang untuk 'maju', istilah untuk jadi calon ketua. Memperjuangkan supaya calon dari wilayahnya menjadi pemenang adalah tujuan utama dari pertemuan ini. Kurang jelas, yang dipertaruhkan di sini apakah gengsi pribadi atau gengsi kelompok, atau sesuatu yang lebih penting?
Yang maju dari wilayah bagian barat adalah Vitus Pehan, seorang aktivis PMKRI dari Fisip Undana, sedangkan yang maju dari wilayah timur adalah seorang aktivis API REINHA dari FKIP Undana. Untuk mengejar kemenangan, maka tiap calon harus tampil menunjukkan kemampuan serta kesiapannya, dan di samping itu (yang paling penting) mendatangkan sebanyak mungkin massa. Massa terbagi menjadi massa petarung dan massa pemilih. Kalau kita katakan massa untuk merujuk pada orang dalam jumlah besar, maka tidak cocok di sini, karena jumlah orang tidak sampai ratusan yang hadir. Massa petarung berjuang dengan ide dan konsep-konsep pada saat rapat. Massa inilah yang nantinya paling vokal, istilah untuk banyak bicara saat rapat, dan paling ribut saat rapat. Sedangkan massa pemilih penting kalau voting dilaksanakan. Massa ini kadang-kadang tidak penting saat rapat berlangsung dan wajib ada saat voting, kalau perlu dikirim penjemput untuk menjemput orang dari kediamannya masing-masing dengan kendaraan. Setiap calon pasti telah mendata massa atau orang yang potensial menjadi massanya. Dengan demikian, ia bisa meramalkan, apakah ia bisa maju dengan meyakinkan ataukah tidak.
Untuk mendatangkan massa, perlu pula usaha sendiri. Semua orang tinggal saling berjauhan, sehingga kadang sukar dijangkau. Saya sendiri tinggal sejauh lebih dari sepuluh kilometer dari calon wilayah barat yang secara teritorial masuk wilayah saya. Untuk mendata, seharusnya itu bukan pekerjaan yang susah. Yang menyulitkan adalah karena kita justru memandang itu pekerjaan yang sederhana sehingga menganggapnya remeh.
Sekitar 19 jam lalu.
Sekitar enam sampai tujuh orang telah berkumpul di sebuah rumah kontrakan yang terletak di jalan nangka, Oeba, Kupang. Salah seorangnya memegang daftar lengkap berisi nama-nama orang yang nantinya akan memberi suara saat voting nanti. Ia sibuk memikirkan bagaimana semua orang dalam daftar itu akan datang saat voting pada RUA nanti sehingga suara mereka bisa memenangkannya. Ia telah menyatakan diri akan maju dalam pertarungan merebut posisi ketua kali ini, sehingga basis massa Adonara barat dipegangnya.