Saturday, 7 November 2009

ADBAR

Waktu menunjukkan hampir pukul dua malam ini. Sebuah jalan saya di kawasan walikota tentu saja tidak gelap pekat karena lampu jalan memerangi dari dua sisi, kira-kira tiap jarak 20 meter. Kota sunyi dalam lelap tidur penghuninya, tetapi tidak di jalan raya itu. Sekitar dua puluhan orang menyusuri jalan lebar itu dengan cerita masing-masing.
Kamu mungkin merasa berada pada tempat dan waktu yang salah karena menemukan bahwa kelompok orang ini adalah orang Adonara, tepatnya pelajar Adonara Barat. Mereka baru selesai dari kegiatan pertemuan beberapa menit lalu. Yang terlibat adalah pelajar Adonara Barat yang aktif dalam IPMAB. Kelompok orang yang berjalan kaki ini adalah sebagian anggotanya. Sebagiannya yang lain memilih bertahan di gedung pertemuan atau menginap di kost-kostan di sekitar gedung.
Tak ada satupun kendaraan umum yang lewat. Semua orang bergerombol di badan jalan. Hanya sesekali lewat mobil dan motor besar milik polisi yang berpatroli. Sekilas kelihatan bahwa polisi juga sibuk dengan handy talky. Soalnya, malam ini telah melewati pukul 00.00, maka saat ini sudah terhitung dalam hari libur wajib di kota Kupang. Hari ini, atau tepatnya lima jam lagi, pemilihan paket walikota dilakukan. Gerombolan orang di jalanan pada dinihari patut dicurigai sebagai tim serangan fajar, yaitu kelompok orang yang disuruh salah satu calon yang akan menyuap warga untuk memilihnya.
Tujuan mereka masih jauh, sekitar empat kilometer lagi. Mereka, pelajar Adonara Barat, berjalan kali sejauh itu pada satu dinihari. Tak ada kendaraan jemputan, kendaraan umum, apalagi ojek. Apa yang mereka lakukan sehingga di saat biasanya sedang beristirahat mereka masih dalam pekerjaan mereka?
Sejak 18 jam lalu, atau pukul 8 pagi kemarin, semuanya sudah berhimpun di aula PMI yang terletak di walikota. Undangan dari panitia menyebut ini kegiatan Rapat Umum Anggota. Agenda pentingnya adalah laporan pengurusi pembahasan AD/ART serta pemilihan pengurus baru.
Perhatian dipusatkan pada pemilihan pengurus baru. Isu yang lebih dulu merebak adalah soal wilayah timur-barat. Persaingan timur-barat yang akhirnya mengabaikan soal kualitas telah ada sejak dulu. Jauh hari sebelum pertemuan, tiap wilayah telah mengorganisir massanya. Pengorganisasian massa tergantung dari kedekatan pribadi. Kelompok yang nyata-nyata ada-tapi tentu saja tidak diakui secara terbuka- terbagi dua: Lite, Lewobele, Nubalema, dan daerah timur Adonara Barat di satu pihak, berhadapan dengan Kokotobo, Bukit Seburi, Waiwadan dan daerah barat lainnya. Biasanya, tiap kelompok memberi kesempatan bagi seorang untuk 'maju', istilah untuk jadi calon ketua. Memperjuangkan supaya calon dari wilayahnya menjadi pemenang adalah tujuan utama dari pertemuan ini. Kurang jelas, yang dipertaruhkan di sini apakah gengsi pribadi atau gengsi kelompok, atau sesuatu yang lebih penting?
Yang maju dari wilayah bagian barat adalah Vitus Pehan, seorang aktivis PMKRI dari Fisip Undana, sedangkan yang maju dari wilayah timur adalah seorang aktivis API REINHA dari FKIP Undana. Untuk mengejar kemenangan, maka tiap calon harus tampil menunjukkan kemampuan serta kesiapannya, dan di samping itu (yang paling penting) mendatangkan sebanyak mungkin massa. Massa terbagi menjadi massa petarung dan massa pemilih. Kalau kita katakan massa untuk merujuk pada orang dalam jumlah besar, maka tidak cocok di sini, karena jumlah orang tidak sampai ratusan yang hadir. Massa petarung berjuang dengan ide dan konsep-konsep pada saat rapat. Massa inilah yang nantinya paling vokal, istilah untuk banyak bicara saat rapat, dan paling ribut saat rapat. Sedangkan massa pemilih penting kalau voting dilaksanakan. Massa ini kadang-kadang tidak penting saat rapat berlangsung dan wajib ada saat voting, kalau perlu dikirim penjemput untuk menjemput orang dari kediamannya masing-masing dengan kendaraan. Setiap calon pasti telah mendata massa atau orang yang potensial menjadi massanya. Dengan demikian, ia bisa meramalkan, apakah ia bisa maju dengan meyakinkan ataukah tidak.
Untuk mendatangkan massa, perlu pula usaha sendiri. Semua orang tinggal saling berjauhan, sehingga kadang sukar dijangkau. Saya sendiri tinggal sejauh lebih dari sepuluh kilometer dari calon wilayah barat yang secara teritorial masuk wilayah saya. Untuk mendata, seharusnya itu bukan pekerjaan yang susah. Yang menyulitkan adalah karena kita justru memandang itu pekerjaan yang sederhana sehingga menganggapnya remeh.
Sekitar 19 jam lalu.
Sekitar enam sampai tujuh orang telah berkumpul di sebuah rumah kontrakan yang terletak di jalan nangka, Oeba, Kupang. Salah seorangnya memegang daftar lengkap berisi nama-nama orang yang nantinya akan memberi suara saat voting nanti. Ia sibuk memikirkan bagaimana semua orang dalam daftar itu akan datang saat voting pada RUA nanti sehingga suara mereka bisa memenangkannya. Ia telah menyatakan diri akan maju dalam pertarungan merebut posisi ketua kali ini, sehingga basis massa Adonara barat dipegangnya.

No comments:

Post a Comment