“Kakanda akan berbagi cerita”, kata-kata pertama menandai sesi tutur cerita.
Puluhan peserta membisu di atas tikar, persiapkan diri agar bisa diberi inspirasi dari kegiatan hari itu. Ini hari kedua. Di depan, duduk bersila tiga orang berpeci hijau. Sebuah spanduk hijau di belakang ketiga pencerita ini ditempeli tulisan kertas berwarna terang.
Tuturan berlanjut. Semua mendengar dan sesekali mencatat. Tiga pria ada di barisan tengah, canggung di depan cerita berapi-api. Mereka baru diterima dan diperkenalkan sehari sebelum itu dengan kelompok pemuda yang berhimpun untuk kegiatan membina diri. Ini adalah kelompok yang sudah punya tradisi panjang, sudah dipercaya untuk menjadi tempat berhimpun dan berbina jasmani rohani.
Sesi itu selesai ketika mereka diingatkan kembali pada aturan-aturan sunah. Semua peserta telah paham, setelah berwudhu, tidak diperkenankan untuk bersentuhan dengan muhrim, yaitu para gadis-gadis sesama peserta. Tapi siapa yang bisa mengawasi semuanya? Ketika ada waktu lowong, ketiga pria canggung menyusup ke luar ruangan. Di sela-sela bangunan mesjid raya, banyak sudut-sudut tanpa penerangan lampu. Ketiga pria canggung memergok Kakanda panitia yang sejak tadi tidak kelihatan lagi mengawasi. Ia ternyata kini ada di sana, di sudut dengan siluet gelap, menjauh dari keramaian bersama seorang gadis berjilbab. Di sudut satunya begitu pula. Seorang pria lain dengan gadis yang duduk mematung seperti kebingungan.
Mereka ternyata hanyalah gelegak darah muda di tengah rangkaian kegiatan yang disebut pembinaan ini.
Sesi berikut pun dimulai lagi. Di hadapan peserta, di bawah bendera hijau hitam, duduk bersila seorang kakanda lainnya. Ia belum dikenal sebelumnya oleh ketiga pria canggung yang memang baru hadir bergabung kemarin. Tapi ia seperti sudah mengenal semua hadirin dan apa yang mereka pikirkan. Dan apa yang mereka yakini.
“Sebagai muslim sejati,” ia pun berbagi cerita, sepeti lima enam kakanda sebelumnya, 'kita jangan berhubungan dengan ini'. Kata-kata tegas.
Sebuah kertas dikeluarkan. Semua menahan napas. Kertas itu dibuka satu per satu lipatannya lalu dibentangkan di hadapan hadirin. Gambar salib.
Salah satu dari tiga pria canggung mengangkat tangannya. Menyatakan tidak sepakat. Ia lalu keluar, mengambil tasnya, lalu pamit kepada dua pria canggung lain dan penyelenggara.
“Kenapa kamu berniat pulang?”
“Saya tidak sepakat dengan apa yang disepakati oleh semua orang di sini.”
“Oh, ya. Kamu muslim kan?”
“Ya.”
“Lantas apa yang mengganggu?”
“Ibu saya katolik. Dan mereka yang di dalam itu melarang saya sebagai muslim sejati. Saya rasa saya tak layak untuk ikut di sini.”
Tanpa basa-basi dan tawar menawar, si pria pergi. Tinggalkan sebuah lambang peradaban di belakang sana, kubah besar tempat umat pilihan allah didengar doa-doanya. Di dalam naungan bangunan tembok besar di bawah kubah putih itu. Dan para pemuda di dalamnya. Apakah mereka mengerti peradaban itu ketika seluruh dunia berputar, dan mereka pun ikut berputar, dan karena itu tak ada satupun yang berada di pusat perputaran itu?
No comments:
Post a Comment