(Sumber cerita: Ian de Peskim)
Dentang bunyi tambur berirama cepat seperti langkah-langkah kaki tergesa. Nyala obor meliuk-liuk layaknya tarian samba di sabana pulau Sabu. Gadis-gadis menari sampai terbius tariannya sendiri di pagi buta ini. Lantas, dari sela-sela pohon lontar, datang perintah tuan kampung. Suara bulat hasil rembug tetua memutuskan tarian diteruskan sampai fajar merekah. Melewati waktu bertahan yang seharusnya. Pesta sudah berlangsung sampai malam ketiga bulan purnama. Orang-orang mengalir datang dan pergi, dan tak henti pula alunan nyanyian solo ditingkahi denting sasando merayu pengunjung untuk terus bertahan di tempat sampai purnama menjadi pucat oleh fajar pagi nanti.
Hari ini upacara pemanggilan. Seperti ritus sia-sia untuk menjemput kembali para pelanggar sumpah adat keramat. Pelanggaran yang membuat lenyap sebuah daratan dari tiga daratan yang sejak dulu dengan damai didiami. Semua percaya, pulau kerabat mereka hanya lenyap dari pandangan, dan akan muncul saat purnama berjaya di atas lautan.
Dunia di pulau itu adalah misteri yang sama tak terungkapnya dengan rencana menyelamatkan pulau dari tindasan penakluk dan penjelajah yang berkuasa atas lautan dan daratan. Pengelana yang kemudian tiba di segenap negeri adalah manusia yang sama tetapi dengan tangan ajaib menciptakan peralatan-peralatan dan membuat manusia lain tunduk mengakui dan takluk pada kekuatan besar itu. Warga pulau sekeliling mengerti apa artinya takluk. Kamu dan semua yang kamu kenal akan diseret ke tempat yang tidak kamu inginkan. Melakukan apa yang tidak kamu niati. Padahal manusia adalah sebuah kebebasan untuk membuat nyata apa yang akalnya beritahu. Akal satu-satunya yang membuat kemanusiaanmu tegak di atas tegarnya karang.
Nyanyian solo telah berhenti kini. Berganti lagi ke tambur dalam irama perang. Laki-laki turun ke tengah-tengah arena dengan mengacung gada kayu. Para wanitanya mengibar-ngibarkan selendang coklat dengan motif bintik-bintik. Di sekeliling tepi kerumunan, bergumam hadirin yang tidak masuk dan ikut gerakan berirama tambur beradu desir ombak.
'Kita kerabat, kita mengundang mereka datang, berbagi keriangan seperti yang ditunjukkan turun-temurun sebagai nilai mulia kebersamaan dan kesatuan yang tak terpecahkan', kumandang suara di tengah himpunan.
Semua diam tepekur, tahu suara itu menembus batas-batas kelihatan dan yang tak kelihatan. Satu-satunya hal yang bisa buat kerabat mereka merasa pasti untuk diundang.
Rasi gubug penceng sudah di kemiringan sepertiga jarak tegak, seseorang sedang mengamati itu. Tanda fajar menyingsing beberapa jarak waktu lagi. Waktu di mana para pengunjung mesti dibuat tetap berada di tempat dengan hati riang dan tak peduli lagi pada waktu yang merayap lamban....
Thanks buat Ia yang sudah ceritakan legenda itu...
ReplyDelete