Tepatnya tanggal 08-02-2007 adalah awal perjalanan menuju sebuah tempat baru atau tempat yang asing bagi pribadi saya. Sebuah tempat dimana menurut orang kami atau orang yang biasa pergi-pulang kesana menyebutnya tempat melarat (menurut pemikiran sendiri: bisa dibilang tempat untuk mencari kemiskinan). Adalah negara tetangga kita, Kerajaan Malaysia, khususnya negri Sabah di sebelah utara Pulau Kalimantan.
Tentang tempat melarat bisa dijelaskan bahwa biasanya orang di kampung kami (Flores-Adonara), menyebut orang yang pergi ke Sabah adalah orang pergi melarat. Artinya orang yang mau pergi ke Sabah adalah orang yang berani menerima resiko atau tantangan hidup di tanah orang yang belum jelas arah tujuannya. Kita adalah orang luar yang masuk dan menyelip diantara orang-orang yang ada didalamnya. Disini, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, orang yang ada didalam masih renggang sehingga orang yang berada di luar bisa menyelip dan bergabung dengan orang yang berada didalamnya. Kedua, orang yang berada didalam sudah penuh sehingga orang yang berada diluar tidak bisa masuk dan menyelip kedalamnya. Kemungkinan kedua ini bisa disebut pergi untuk melarat. Karena meskipun sudah berada di tanah rantau tetapi tidak mendapat pekerjaan (menganggur). Inilah tantangan berat yang bisa saja terjadi bagi seorang perantau.
*************
Perjalanan dengan menggunakan KM AWU dari Maumere menuju Nunukan memakan waktu lima hari. Jadi hari Senin (12-02-07) saya sudah sampai di Nunukan. Dengan mengurus pasport selama tiga hari akhirnya hari Kamis (15-02-07) saya bisa menyebrang ke negri sebrang (Tawau) dengan menggunakan feri KM Labuan dan dengan menempuh perjalanan dengan menggunakan bus selama satu malam akhirnya sampai di Kota Kinabalu.
Pagi itu angin pantai berhembus kencang dengan membawa hawa dingin membuat orang yang sedari kemarin sore menuggu keberangkatan dengan menggunakan kapal laut tidak bisa ngantuk hanya duduk berjejer menahan kedinginan. Jadwal keberangkatan seharusnya pada pukul 21.00 tetapi tertunda sampai pukul 02.00 pagi. Ini membuat orang merasah gerah karena harus menunggu dan terus menunggu.
Diantara jejeran orang itu, ada seorang remaja umur belasan yang sudah dari kemarin sore hanya berjalan keliling sendirian. "Mungkin dia sedang mencari seseorang atau mungkin dia sendirian dan sedang mencari kenalan", pikirku dalam hati. Tanpa ambil pusing dengannya aku terus menuju ke warung makan kecil yang berjejer di sepanjang pelabuhan guna mendapatkan segelas kopi hangat untuk menghilangkan rasa ngantuk dan dinginnya angin pantai. Segelas kopi Flores dengan sebungkus rokok surya merupakan hidangan lezat ala pria di malam yang dingin itu.
''Kopinya segelas berapa mas?'' Tiba-tiba dari belakang seorang bertanya. ''Kopi ya, mas? Tukas si penjaga warung. ''Ya mas. Tambah satu bungkus rokok sampoena''. Jawab si pemuda tampan sekitar umur belasan. ''Semuanya Rp 10.000. Tanpa banyak komentar dia lansung menganbil dompet dari tas kecil yang tergantung di pinggangnya dan menyodorkan ke penjaga warung. ''Ini mas''. Langsung dia memgambil tempat persis di depanku.
Seteguk kopi hangat langsung saja mengalir ke dalam perutnya ditambah semburan asap rokok kelihatan begitu lezat untuk terus di nikmati. Wajah tampan itu kelihatan acuh tak acuh dengan keadaan disekelilingnya.
''Mau kemana De?''. Tanyaku selang beberapa menit. ''Saya mau ke Nunukan Bapa'' jawabnya tegas dengan logat kentara orang Adonara.
No comments:
Post a Comment