Huh. Makan surat penghargaan dari duta Vatikan itu! Kalau kamu tahu kamu bisa kenyang kebanggaanmu dengan kertas selembar itu. Kamu mesti tahu, kamu dihargai karena pekerjaanmu, bukan karena kehebatanmu. Dan penghargaan itu bukan diberikan di akhir, itu diberikan di tengah-tengah usahamu supaya kamu dapat sedikit dorongan yang kedengarannya bernilai religius, bagi besarnya gereja katolik.”
Dan langkah di tengah-tengah yang kini kau hentikan itu. Coba lihat, amati. Apa langkahmu benar-benar kau hentikan ataukah kau melanjutkannya di jalan lain dengan tujuan yang sama. Saya hanya mendiagnosa tentu, kalau kamu benar-benar berhenti, mandeg. Satu bahasa yang kedengarannya sinonim dengan mati. Yang namanya penghargaan hanya berlaku kalau kamu masih berharga seperti yang dikatakan dalam penghargaan itu. Kebanggaan yang sebenarnya adalah suatu keadaan di mana anda benar-benar telah berharga, masih berharga, dan terus berharga dan anda merasakan dan tetap menghidupi itu. Meski tanpa selembar kertas dengan tandatangan orang lain atau nama besar sebuah lembaga besar. Mereka itu yang biasanya punya ide besar yang sebetulnya datang dari interaksi antar orang-per orang juga seperti kamu dan orang-orang lainnya. Kita hanya sekumpulan manusia dengan niat dan akal yang bergerak jauh melebihi kekuatan masing-masing kita untuk mengendalikannya, karena itu adalah kehendak dalam himpunan yang menembus batas ruang waktu.
Aris memaki di tengah-tengah perjalanan pulang. Jenuh dengan semua yang terikat pada kebanggan masa lalu sehingga mengira dunia hanyalah himpunan masa lalu yang dikisahkan.
Di kostnya, ia punya seorang yang dengan bangga menceritakan tentang tulisannya yang menembus redaksi horizon dan dimuat di salah satu edisinya. Dan satunya lagi ia jumpai hari ini. Tulisannya dapat penghargaan dari duta Vatikan.
Tapi kini, itu sama-sama hanyalah legenda yang tak meninggalkan bukti dalam diri orang-orang itu.
No comments:
Post a Comment