Saturday, 7 November 2009

PIKNIK

Minggu pagi-pagi. Ama sudah terbangun oleh deringan ponselnya. Deringan monopronik dengan lagu 'rera pe weli'. Berlawanan dengan suasana lagu, kini matahari akan segera naik dari ujung pulau yang hampir-hampir datar ini.

Kain sarung tertumpuk di ujung kaki. Ada dua bantal di tempat tidurnya, yang satunya telah jatuh di atas lantai. Kelambu yang seperti digulung dijepitkan supaya tertutup bagian depannya. Ia buka jepit itu, lalu menyingkap bagian kelambu seperti tirai untuk dicantolkan di tiap sudut. Jendela kamar tidak pernah tertutup sehingga langsung tampak apakah di luar sudah cukup terang. Sedangkan di ruangannya sendiri, cahaya terang seperti di siang hari. Nyala lampu philips yang mengkilap dipantulkan oleh keenam sisi ruangan yang hampir semuanya berwarna putih. Lantai dari keramik putih. Tembok dan plafon pun dilabur putih. Bagi yang amnesia, bisa saja ia mengira siang hari saat terbangun malam-malam tanpa menengok ke jendela.
Ama memandang dengan nanar ke dinding itu, lalu dengan enggan meraih ponsel. Tertulis di sana:"Brow. Sebentar jam 8 tunggu di kampus. Selanjutnya diatur di sana."
"Sialan," ia menggerutu, "Membangunkan saya pagi-pagi untuk urusan itu."
Tapi sejenak hatinya senang. "Artinya, hari ini saya punya kesempatan jalan-jalan, juga...." ia meraba perutnya yang hanya terisi angin, sambil membayangkan pemandangan yang baru akan dilihatnya hari ini.
Tiga jam setelah itu, Ama telah rapi. Bersiul sepanjang perjalanan menuju kampus. Seperti paham situasi, burung gereja di pohon-pohon rendah pun bersiul menemani. Dahan-dahan pohon kerdil tampak kokoh tapi terlalu kecil. Tidak subur karena akar-akarnya memeluk tanah dengan lapisan tipis humus di bawah. Semuanya berbaris rapi di areal luas di kiri kanan jalan.
Pohon-pohon kerdil ini memang sengaja ditanam, dipilih dari jenis yang keras, yakni lamtoro dan gamal. Yang lebih bagus tumbuhnya adalah gamal. Tumbuhnya cepat dan lebih mudah tersebar. Mereka berjasa membuat tempat ini jadi naungan yang teduh.
Di kampus, hanya ada satu orang yang menunggu pada waktu yang disebutkan. Ia seorang pria berbadan subur dan berkulit legam. Berwajah seram pula, tapi cara berjalan dan bicaranya feminim. Ia punya sebuah kendaraan yang diparkir di jalan yang melintasi sisi seblatan gedung kampus. Diletakkan dengan sandaran berkaki dua. Motor shogun 125 yang tampak mewah mengkilap. Baru habis dibersihkan dengan sungguh-sungguh pagi tadi atau petang sebelumnya.
Di tempatnya, yaitu di emperan kampus, pria hitam ini serius mengutak-atik ponselnya. Ia menghubungi semua nomor yang diajak pergi pagi ini. Yang diajak adalah teman-teman seangkatan. Ama mengajak bercakap sedikit lalu menyingkir ke sisi jalan, melepas pandangannya ke laut.
Teman-teman adalah pisau yang kita pakai di saat harus membagi duka dan kesenangan supaya kita bisa merasakannya dengan wajar. Mereka ada saat luka tidak bisa kita pikul sendirian dan kesukaan tak mungkin ternikmati.
Mereka bisa jadi peredam untuk rasa tawar hati yang bergolak. Mereka bisa menyaksikan kalau kita tak lagi tegak jaya. Sebuah kutipan dipinjam untuk mengatakannya dengan lengkap 'malaikat itu ada, dan kalau mereka tidak bersayap, kita sebut mereka teman'. Hahahaha. Kutipan ini dicopy dari kartu ucapan di hp. Ama betul-betul ingat itu.
Tidak lama kemudian, seorang pria tampan muncul. Sendirian ia di tunggangannya, motor GL PRO. Di pangkuannya ia letakkan sebuah kertas merah berisi sesuatu. Saat turun, kertas itu ia biarkan terletak di atas kendaraannya. Ia letakkan sepeda motornya di belakang shogun 125 yang telah duluan diparkir.
"Dua orang telah menunggu di gerbang depan. Kita tinggal menunggu perlengkapan di sini," teriaknya dari sisi jalan, lalu duduk di sana. Sisi jalan diteduhi bayang-bayang pohon gamal yang merimbun. Matahari di timur makin naik.
Lima belas menit berlalu ketika dua motor lagi tiba. Tiga pria terdahulu merasa itu waktu yang terlalu lama. Dua kendaraan yang baru tiba membawa empat orang lagi. Tiga cewek, dan seorang cowok. Ada dua cewek asing, mungkin teman dekat cewek seangkatan Ama.
Pria hitam meninggalkan emperan menuju ke sisi jalan. Ia periksa perlengkapan yang dibawa. Cewek yang satunya pun melakukannya. Ia ambil kertas plastik merah di atas motor GL Pro yang dibawa pria tampan tadi.
"Lengkap," katanya. Ia lalu membungkus irisan pepaya rebus menjadi satu dengan sambal dan acar.
"Idenya siapa ini?" kata pria hitam sambil membolak-balik sepotong pepaya mengkal yang direbus setengah matang.
Si cewek merengut, "tinggal santap saja nanti." Pria hitam memang sering menangani masakan. Seingat Ama, pria ini sering jadi koki saat acara kumpul bersama di rumahnya. Sedangkan cewek itu adalah kekasihnya. Mereka satu-satunya pasangan dari angkatan yang sama.
Perlengkapan siap, kendaraan pun siap. Tujuh orang di atas empat sepeda motor di jalan kampus menuju gerbang depan. Tiga orang lagi sudah menunggu di sana, di halte bus. Jalanan belum ramai di minggu pagi ini. Sebagian besar orang sedang ikut kebaktian di gereja masing-masing. Bagi sebagian sopir angkot, ini adalah saatnya beristirahat. Melepas penat. Berekreasi. Di tempat masing-masing, walau tempat itu hanyalah rumah tinggal.
Di sekitar halte, rombongan dengan setelan cerah muncul. Sepuluh orang semuanya, di atas lima sepeda motor. Semuanya beriringan ke arah barat. Tujuan sudah disepakati tadi, Baun. Sebuah desa di tepian kota kupang, sekitar belasan kilometer jauhnya.
Tak ada polisi berpatroli di minggu pagi ini. Jadi tidak penting untuk mengenakan helm. Semuanya kejar-kejaran. Ngebut. Melintasi jalanan licin. Hembusan angin terasa dingin di balik baju. Angin menyisir sela-sela rambut. Mirip remaja kota belasan tahun, kendaraan dibawa susul-menyusul sambil berolok-olok. Yang pertama dilewati adalah hutan gamal. Teduh dan sejuk. Sekitar satu kilometer lebar penghijauan itu dari gerbang kampus ke arah barat. Setelah itu lewat perkampungan. Bandara ada di sebelah kiri.
Jalan terbagi dua jalur. Di tengah-tengahnya ditanami pepohonan yang memakan ruang selebar lima meter.
Di persimpangan setelah pasar penfui, arak-arakan kendaraan berbelok ke kiri, menyusuri tepian
pagar bandara. Jalanan tidak lagi licin setelah itu. Penunggang masih mengemudi dengan mahir, menghindari lobang dan gundukan. Jalanan mulai berkelok-kelok dan menanjak. Dan eksotis. Di ketinggian, hanya pohon-pohon kerdil berdaun tipis yang kelihatan. Jalan seperti diletakkan tepat di pertemuan dua lereng. Pas di ujung bukit yang memanjang. Ada lembah-lembah yang dalam dan lereng-lereng kapur dengan vegetasi tipis. Jalan seperti bekas liur siput di atas pasir. Berkelok-kelok. Berwarna putih kapur. Kiri kanan jalan, tiap puluhan meter didominasi pohon berdaun tipis seperti cemara, juga lamtoro yang tumbuhnya seperti dipaksakan. Semakin menanjak, semakin dingin hembusan angin. Tanaman semakin rimbun. Di Baun, pohon telah benar-benar rimbun. Lokasi pegunungan ini ideal untuk melepas lelah. Tempat tujuan rombongan untuk jalan-jalan pagi itu.

No comments:

Post a Comment