Ia berbicara seenaknya. Padahal belakangan saya tahu kalau sekolahnya belum kelar.
"Kalau mau jadi PNS, saya pasti sudah lama masuk," bualnya tanpa ragu.
"Masa?"
"Jelas ya. Kolegaku banyak yang pejabat. Wabup sendiri malahan jadi teman baikku. Sering saya main ke rumah jabatan. Kalau saya ke sana, saya sering menelepon ke rumah teman-teman. Saya ajak mereka bicara hal yang tidak penting di telepon. Berjam-jam. Dengar, berjam-jam, kadang bisa sampai separuh malam. Mereka sering balik nanya, apa masih lama saya bisa menelpon. Hahahaha. Jelas. Omongan kita yang tidak masuk akal ini harga pulsanya mahal. Tapi jangan takut saya bangkrut. Ini semua sudah dibayar oleh rakyat. Saya sedang ada di rumah jabatan Wabup sekarang."
"Kacung lu."
"Begitulah enaknya dekat dengan orang politik. Ke mana-mana enak dapat fasilitas. Tapi itu kalau menang pilkada. Kalau kalah, ya jadi abu. Siap diinjak-injak orang."
Ia melirik ke jam tangannya. Cepat-cepat saya menyambung bertanya.
"Sejak kapan kamu masuk ke lingkaran orang politik semacam itu?"
"Barusan saya muncul di pilkada lalu. Waktu itu tim kami dibentuk untuk seorang calon yang sekarang jadi pemenang. Kami punya seratus tiga puluh orang di tim. Saat itu, sebelum masa kampanye tentunya, tim kami turun dengan menyaru sebagai tim peneliti. Tim peneliti apaanlah. Ada yang sebagai peneliti budaya, sosial, pendidikan, kesejahteraan masyarakat, dan politik. Seluruh anggota kami disuruh menyebar ke semua desa di kecamatan. Kami punya dua orang di tiap desa. Tiap akhir pekan ada pertemuan yang digilir tiap ibukota kecamatan, yang kami ganti setiap minggunya. Kami berhasil merekrut banyak kepala tiap pertemuan. Dari situ, mereka kami giring untuk mempelajari setiap konsep yang kami berikan. Mulanya ilmu budaya, sosial, pendidikan, dan kesejahteraan. Nah. Setelah mereka tenggelam dalam kekaguman atas pengetahuan kami-karena mereka bodoh tentunya-tanpa sadar mereka kami cekoki dengan visi-misi unggul partai kami."
No comments:
Post a Comment