Dramatisasi perang! Sangat berkesan, meski perang adalah pencabulan terhadap ciptaan Tuhan yang mulia. Tidak, kalau perang dibuat untuk membela sesuatu yang mulia yang hendak dilenyapkan atau ditindas oleh yang lain.
Gerakan tari dinamis, menunjukkan ekspresi yang dalam tentang kekuatan, ketangkasan, dan kelihaian. Itu unsur-unsur positif. Sebagai dramatisasi, dimasukkan pula ekspresi fisik tentang ancaman, keangkuhan, kebuasan, dan nafsu untuk menindas dan menguasai. Itu unsur negatif. Semuanya dipadu dalam unsur gerak, ruang, dan irama.
1. Gerakan.
Semakin banyak jenis gerakkan yang dibuat, semakin banyak isyarat pesan yang disampaikan tentang isi dan semakin menarik pula tarian itu. Gerakan tentu harus relevan dengan pesan yang ingin disampaikan atau ditunjukkan. Kekayaan gerak adalah hal yang bisa dieksplorasi terutama bagi yang telah mendalami apa pesan atau ekspresi yang ingin disampaikan kepada penonton. Dan sebenarnya, kekayaan gerak adalah hal yang sudah tereksplorasi tetapi kurang diidentifikasi sebagai suatu hal yang umum dan mudah diikuti. Banyak gerakan yang telah diteruskan, diciptakan, ataupun yang dilakukan kembali. Namun kita tidak begitu mengakrabkan diri untuk mengenal gerakan itu dengan sebutan tertentu.
Memang, itu adalah hakikatnya seni, untuk dihayati, tidak sekadar dipelajari.
Gerakan meliputi anggota gerak, ekspresi wajah, bagian tubuh seperti kepala, dan juga perlengkapan yang lain seperti pakaian maupun senjata. Beberapa gerakan dilakukan dengan meniru gerakan umum, bukan gerakan tari. Gerakan umum yang biasa dilakukan antara lain seperti 'kedek'a' (tap keras, membuat bunyi di tanah dengan hentakan kaki), 'genok' (ancang-ancang memotong dengan parang atau menombak), 'golek' (berjalan mengelilingi obyek tertentu), 'hiate' (menarik senjata sampai jauh ke belakang sebelum mengarahkan ke musuh), 'hedo' (menghindar), 'dukuk' (tunduk), 'tonga' (melihat ke atas), 'nadon' (mengangguk), 'geleko' (ke depan lawan melewati arah belakang), 'niku' (menoleh), 'tuen' (berbalik), 'po'ok' (potong), dan lain-lain. Perpaduan gerakan-gerakan ini dan sejumlah gerakan lainnya dengan pengulangan dan unsur irama akan membentuk gerakan tari.
2. Ruang
Tarian hedung mulanya dipakai untuk menyambut orang yang pulang menjadi pemenang perang. Jadi, tari mulanya dibawakan di batas kampung atau di pintu gerbang kampung. Pintu gerbang kampung adalah ruangan yang terbuka dan tidak terlalu membatasi gerakan. Pemakaian ruangan seharusnya disesuaikan dengan pembawaan tarian sehingga jangan mengorbankan tarian demi penyesuaian ruangan. Misalnya sering dijumpai pembawaan tari pada panggung sempit atau melewati rintangan jalan yang sempit atau panggung yang kecil.
Pemakaian ruangan adalah bagaimana setiap gerakan diatur untuk menjangkau ruangan yang ada, dan bagaimana pengaturan posisi tiap personel selama kegiatan menari, dan perubahan posisi-posisinya.
Pementasan tari kadang-kadang hanya menujukkan aspek keteraturan, dan aspek yang lain kurang diperhatikan. Berbaris dalam jarak yang sama, gerakan dan langkah yang serempak adalah salah satu contoh keteraturan yang kini dikenal dalam dunia militer. Keteraturan ini banyak diadopsi dalam gerakan tari yang serba rapi dan kadang tidak menunjukkan ekspresi lain. Padahal masih ada aspek yang perlu ditunjukkan, misalnya bagaimana merusaknya perang itu ditunjukkan dengan posisi yang kacau, dan untuk menunjukkan bagaimana lawan yang tak seimbang, posisi penari mesti tidak seimbang. Atau bagaimana menceritakan tentang prajurit yang jadi pelindung, pasti ada gerakan mengelilingi obyek tertentu, yang dibayangkan sebagai obyek yang mesti dijaga keutuhannya.
Contoh posisi penari dalam ruang.
1. Berbaris.
Ini menunjukkan keteraturan dan posisi yang adil, di mana satu prajurit melawan satu prajurit. Posisi ini paling banyak dipakai, misalnya pada acara penjemputan tamu, di mana posisi penari mesti disesuaikan dengan ruang jalan yang ada. Para penari berbaris dalam jarak teratur dan pada saat tertentu memperagakan gerakan saling menyerang satu lawan satu.
2. Posisi mengelilingi.
Pada posisi ini, seorang atau dua orang berada di tengah-tengah dan dikelilingi oleh beberapa penari lain. Atau, yang ditengah adalah penari wanita.
3. Posisi dua lawan satu.
Pada posisi ini menunjukkan kekuatan yang tidak seimbang tetapi mesti bertahan di bawah ancaman kekalahan.
3. Posisi tanpa lawan.
Pada posisi ini, para penari masuk dalam satu arah dan dengan menganggap musuh datang dari arah lain.
5. Posisi bintang.
Penari masuk dari tiap sudut yang berbeda dan langsung masuk dengan gerakan tarinya masing-masing.
6. Posisi bintang berkelompok. Pada posisi ini, setiap penari dalam kelompok berisi dua atau tiga orang masuk dari sudut masing-masing dengan gerakan tariannya.
7. Posisi tunggal. Kalau hanya seseorang yang menari.
Setiap posisi yang cocok bisa digabungkan dalam satu pementasan, dengan cara merangkaikan tiap posisi itu dalam satu alur kisah atau dramatisasi. Masing-masing posisi mempunyai gerakan sendiri yang khas sesuai isi pesan.
No comments:
Post a Comment