Monday, 24 January 2011

PUISI UNTUK MANTAN PACAR

Oleh: Vitus Riantoby

Gerimis datang tanpa dirimu
Genggaman dan binar mata terbayang

Binar mata pertanda cinta
Hanya untuk diriku dan dirimu

Jangan tinggalkan dalam penantian
Jangan lupakan dalam kerinduan

Jangan biarkan tangis tanpa sandaran
jangan biarkan tangis larut dalam gerimis

hapuslah air mata dengan kelembutan
sediakan bahu kasih sayang untuk bersandar

Dekaplah dan biarkan aku menangis
rasakan hanya kasih sayang yang ada
jangan nodai cinta walaupun setitik gerimis!

MIMIN

Diriku dan dirimu yang kini terbaring di antara kenangan dan mimpi
adalah simbol kemisteriusan cinta yang sulit kita pahami…



(sebuah cerpen dukungan terhadap Komodo sebagai Keajaiban Dunia)

AKU TIBA di Pulau Komodo ini setelah menapaki jalan udara. Sebab angin telah khatam menghantarkan

MATINYA MATA HATI


Sebuah Cerpen Oleh Pion Ratulolly


Aku bergegas menarik jangkar dan menaikan layar sampan[1]ku. Malam ini juga aku harus pulang ke rumah. Aku memutuskan untuk berhenti memancing. Bukan lantaran tak satu pun ikan yang kutangkap semenjak

LELAKI BERTAHI LALAT DI PINGGANG


Sebuah Cerpen Oleh Pion Ratulolly


Wae[1], perempuan Adonara itu seperti gading. Sebagaimana gading yang dijadikan sebagai belis[2]

AROMA BAU LOLON [1]


Sebuah Cerpen Oleh Pion Ratulolly


MALAM yang hujan. Kilat dan gemuruh berantrian memotret keresahan serta meledak-ledakan perasaan kalutku. Dan air mata adalah lautan perasaan takut dan cemas yang sangat dalam. Aku belum berani

Mandi di Kamar


(sebuah contekan mbling)

Oleh: Pion Ratulolly

di lembar-lembar malam yang lembur
kita sesekali terperosok di lembah bentur
antara nafas dan nafsu yang terus memburu
membirukan mata tanpa kata

ah!!!
desah yang panjang dan telanjang
bagai lolongan anjing pincang di ujung tumbang

kenikmatan manakah yang sungguh-sungguh
sanggup menuntaskan lelehan keringat
juga darah yang dijarah-jarah, sayang?
…………………………………………..

ah!!!
sial,
mimpi memandikanku di kamar

kupang, 23/12/10

PATI PITO


Karya: Pion Ratulolly

beta pati pito[1]
beta cari kampung baru
dapat saudara raja subang pulo[2]
tanpa kata tanpa syarat

beta pati pito
beta raja dari ambon
jadi kapitan laut[3] di lamahala
karena beta pandai besi

beta pati pito
beta dari ata mua[4]
jadi imam kadhi[5] di lamahala
karena beta pandai mengaji

beta pati pito
beta punya ratuloli
ratuloli jadi kapitan lingga
karena berperang membela lingga

beta pati pito
beta punya kapitan loli
diberi gong dari buton
buat menjaga marwah pertiwi

beta pati pito
buat parang buat perang
serang penjajah usir portugis
biar merdeka tanah salam[6]

beta pati pito
tak ada kitab tak ada cerita
tetapi beta selalu hidup
dari lidah suci para pujangga

kupang, 10/12/ 2010
00.00. awal waktu


[1] Tujuh Saudara suku Ata Mua yang hijrah dari Ambon ke Desa Lamahala, Kab. Flores Timur, NTT sekitar abad ke-16.

[2] Nama salah seorang raja yang terlebih dahulu ada di desa Lamahala

[3] Salah satu Panglima Perang di Lamahala, selain Kapitan Belang dan Kapitan Bunga Lolong.

[4] Sebuah pulau (kerajaan) di Maluku Utara.

[5] Penasehat hukum-hukum agama sekaligus imam raja.

[6] Nama lain desa Lamahala

WASIAT KEMUHAR

Sebuah Cerpen Oleh: Pion Ratulolly



“Nak, tahukah kamu arti dari namamu? Kemuhar adalah nama seorang leluhur kita dari suku Ata Mua. Suku Ata Mua berasal dari Ambon. Tepatnya di Maluku Utara, kerajaan Mua di Pulau Mua. Konon suku Ata Mua masuk ke Lamahala sekitar abad ke 16 melalui ekspedisi Ratu. Dalam ekspedisi ini ada tujuh bersaudara yang  dikenal dengan Pati Pito. Nah, salah satu keahlian yang dimiliki Pati Pito adalah Pandai Besi. Dan Kemuhar merupakan salah satu keturunan dari Pati Pito itu.”

Aku masih khusyuk menekuri perkataan Ayah sembari kedua tanganku terus memompa-mompa rok[1]. Mataku kuarahkan lurus tepat pada kedua mata Ayah yang tengah menyala sebagaimana bara yang tengah menyala-nyala di tungku ini. Aku duduk di atas sebuah bale-bale bambu setinggi satu meter. Kakiku kujulurkan saja ke bawah dan membiarkannya tergantung bebas. Perhatianku kuupayakan terus terfokus pada perkataan ayah. Sebab aku mafhum, Ayah jarang sekali bicara. Apalagi bercerita. Ayah hanya mau bercerita ketika aku mau bersama-sama beliau bekerja besi di gubuk yang reot ini. Dan bagiku, ini adalah kesempatan yang sangat langka. Karena untuk kembali ke kampung, berikut mendengar pembicaraan Ayah adalah pekerjaan yang hanya mampu kulakukan setahun sekali. Kusadari bahwa kesibukan menjadi dosen sekaligus peneliti di Universitas Nusa Cendana Kupang telah merenggut beberapa bagian kebahagiaanku dalam rangka melihat wajah Ayah. Menyimak petuah-petuah Ayah.

Sementara itu, aroma besi yang tengah dibakar seonggok bara, terasa semakin karib menusuk-nusuk rongga hidungku. Aroma yang sangat akrab menghinggapi hidungku, bahkan telah menyatu dengan aroma keringat tubuhku sewaktu kecil hingga SMA di kampung.

“Dulu, sebelum sampai di Lamahala, ekspedisi leluhur kita sempat juga menyinggahi beberapa tempat, seperti Pulau Alor, Pulau Lembata dan daerah Tanah Boleng. Di setiap daerah persinggahan diturunkan seorang kurir untuk mengecek kepastian apakah tempat tersebut layak dihuni atau tidak. Dipesankan kepada setiap kurir itu bahwa andaikan tugasmu telah berhasil maka pulanglah layaknya seekor burung yang pulang ke sarang, untuk menyampaikan keberhasilan itu supaya kita bisa menetap di tempat itu. Jikalau tidak berhasil, maka menetaplah di situ, layaknya seekor bebek yang tak tahu jalan pulang. Makanya, jangan heran jika di daerah-daerah itu, ada orang yang bermarga Ratu Making. Mereka adalah saudaramu, anak cucu dari para kurir yang tak kunjung pulang itu. Nama Ratu diambil dari nama ekspedisi kita, ekspedisi Ratu. Begitu pun nama Ratu yang melekat pada Ratuloli”.

Ayah masih sibuk mengatur besi-besi panas dalam tumpukan bara yang menyala di tungku. Ia  membolak-balikan besi-besi itu dengan menggunakan sebuah Nipat, penjepit yang terbuat dari besi. Sebuah besi lalu  diangkat dengan cara dijepit lalu diletakan di atas sebuah besi yang agak besar kemudian dititih dengan menggunakan sebuah martil atau palu.

Bunyi martil bertalu-talu seolah mewakili gemuruh ribuan rasa bersalah dalam dadaku lantaran meninggalkan Ayah seorang diri di kampung. Sebenarnya, aku sudah menyampaikan niatku berkali-kali kepada Ayah untuk bersama-sama dengan aku hidup di Kupang. Tetapi Ayah menolak. “Meskipun Ibumu telah tiada, Ayah tidak bisa meninggalkan rumah ini. Apalagi meninggalkan rok reot ini. Di rok ini Ayah hidup. Karena itu, Ayah ingin, mati pun tetap rok reot ini.” Demikian sebaris kalimat penolakan Ayah yang sungguh sangat mengiris hatiku. Tapi tak apa. Kucoba memaknai penolakan itu sebagai sebuah bentuk pengabdian Ayah terhadap warisan leluhur yang harus selalu ia nyalakan.

******


“Nak, Ayah yakin! Kepulanganmu kali ini adalah kepulangan yang terakhir kalinya untuk melihat Ayah.”

“Maksud, Ayah?”

“Kamu tidak akan melihat Ayah lagi. Ayah sudah mendapat firasat tentang itu. Semalam Ayah bermimpi. Kapal ferry yang kamu tumpangi ke Kupang tenggelam di Laut Sawu. Kamu salah seorang penumpang yang tak bisa terselamatkan.”

“Jadi maksud Ayah, aku meninggal?”

“Justru sebaliknya. Ayah yang akan meninggal.”

“Kenapa Ayah sampai berpikiran seperti itu?”

“Ayah yakin, meskipun selama ini Ayah sakit-sakitan di kampung, Ayah tak boleh meninggal sebelum melihat wajahmu. Ayah ingin menyampaikan sebuah wasiat untukmu. Dan jika wasiat hari ini sanggup Ayah sampaikan kepadamu maka Ayah dapat pergi dengan tenang. Dan Ayah akan sangat berbahagia dan berbangga lagi jika kamu dapat menunaikan wasiat ini.”

“Wasiat apakah itu, Ayah?”

“Ayah ingin kamu terus mewariskan tradisi Pandai Besi ini. Ayah sadar, rok di Lamahala sudah punah. Selain milik Ayah, tak ada lagi Pandai Besi di Lamahala. Apalagi di lain tempat. Sementara Pandai Besi ini adalah salah satu warisan nyata leluhur kita, Ata Mua. Ayah khawatir. Hilangnya rok bisa berakibat pada hilangnya identitas kita. Jika demikian, leluhur kita pasti akan menangis bersedih. Ujung-ujungnya hidup kita tak bisa tenang.”.

Kata-kata Ayah beberapa waktu lalu di rok itu membuat aku semakin percaya bahwa Ayah mampu membaca isyarat kematiannya. Tetapi justru aku sangat bersedih. Betapa tidak. Aku mengenal Ayah sebagai pribadi yang pendiam. Tak ingin mencampuri urusan orang lain seikit pun. Ia sering menasehatiku, “Makan makanan yang kita punya. Cerita persoalan yang kita punya. Jangan makan makanan orang. Jangan cerita persoalan orang”. Dari kalimat ini aku dapat memahami bahwa Ayah lebih merasa nyaman hidup berdampingan dengan orang tanpa harus menjadi benalu bagi orang lain. Sesulit apa pun hidup, haruslah ia sanggupi sendiri.

Lalu dimana aku selama ini, di saat Ayah berada dalam kesulitan? Sementara untuk menyatakan kesulitan hidup merupakan hal yang paling sulit Ayah lakukan. Meskipun kepada aku anaknya sendiri.

Lebih dari itu, aku harus berupaya semampuku agar dapat memenuhi wasiat Ayah. Tetapi aku tinggal di Kupang. Sedangkan rok ada di Lamahala. Dua tempat yang dipisahkan oleh seonggok pulau dan sebentang lautan. Apakah untuk memenuhi wasiat Ayah, aku harus tinggal di Lamahala? Tidak lagi menjadi dosen dan peneliti di Kupang? Tidak mungkin! Tapi jika tetap di Kupang, apa aku dapat memenuhi wasiat Ayah?

******

Aku baru menyadari, ternyata Ayah lebih tahu garis jalan mana yang harus kulalui. Dan di sini, di samping rumahku telah dibangun sebuah perusahaan kecil. Perusahaan yang mampu menghidupi aku dan keluargaku. Juga beberapa karyawanku. Aku sepatutnya berterima kasih kepada Ayah. Berkat wasiat Ayah, akhirnya sebuah perusahaan kecil Pandai Besi “Wasiat Kemuhar” bisa berdiri. “Wasiat Kemuhar” merupakan satu-satunya perusahaan Pandai Besi  di Kupang, juga di Pulau Timor.

Terima kasih, Ayah. Meskipun aku akhirnya sadar, engkau hanyalah ayah tiriku.

******

Kupang, 11/12/10
pukul, 14.22


[1] Dua buah bambu besar berdiameter sekitar satu jengkal dan setinggi satu meter lebih. Kedua bambu itu digandengkan berdiri di belakang sebuah tungku pembakar besi. Dalam rongga kedua bambu itu diisi masing-masing sebilah kayu kecil berdiameter sekitar tiga senti meter, dengan ukuran lebih tinggi dari bambu-bambu itu. Di ujung kedua kayu kecil itu diikatkan sepotong kain yang berfungsi menyedot angin dari dalam rongga kemudian menekannya ke arah tungku api yang sedang membara melalui dua besi kecil. Fungsinya, hampir sama seperti orang mengipas api. Di tungku inilah terjadinya pembakaran besi yang selanjutnya akan dipola menjadi parang, tombak, anak panah, pisau, atau peralatan dapur, perkebunan, pertukangan dan peperangan lainnya. Nah, rok ini kemudian dijadikan sebagai nama tempat orang membuat peralatan-peralatan besi atau Pandai Besi.


SAJAK TAJA

kepada Dalasari Pera

membingkis setitik diksi
dalam sederet larik bestari
melompatlah sebait kado puisi
isi hati para pesair sejati

alam menangis bisa dicerita
tuhan tertawa mampu diwarta
kekasih kecewa sanggup dibaca
penyair kasmaran dapat dikata

mana saja sajak yang duka
di sini ditulis jadi disuka
sebab di tangan punggawa belawa
kisah meruak semerbakan aroma

banyak puji disanjung puja
karena tangan indah merenda
sebab di hari jadi yang tiba
selembar puisi untukmu kutaja

Kupang, 28 Desember 2010
Selamat Hari Jadi Dalasari Pera

DEMI PURNAMA



Sebuah Cerpen Oleh Pion Ratulolly[1]
 
Demi purnama. Demi waktu yang sempat tertahan. Kau ada dimana? Sedang aku masih setia menatap purnama kelimabelas di malam ini. Katakan kepadaku, hati siapakah yang tak berdetak kagum melihat dewi malam tengah ramah membagikan senyum pengharapan pada para penghuni alam? Di mata sejuk, di hati lembut dan di bibir decak doa senantiasa bertasbih, katamu dulu. Andai saja jarak bukan menjadi pemisah jumpa, ingin kudaki tangga langit, kudapati dewi malam, lalu bersujud langsung di hadapannya, sembari memanjatkan berjuta pohon pinta.

Syahdan, purnama naik ke tangga lima belas, di sepuluh tahun lalu. Aku bersama dirimu, istriku, sedang senang memandang bulan. Bagi kita, rembulan adalah harapan. Harapan bisa terkabul saat kedua mata kita tak pernah berkedip menyaksikan bintang jatuh di bulan purnama. Di detik itulah, kedua tangan kita tengadahkan ke langit. Sambil merapal sebuah keluhan sederhana; Duhai Sang Rembulan,  percayakanlah pada kami satu saja anak Adam-Mu, untuk kami lahirkan dari rahim kasih dan sayang kami berdua. Mantra yang saban purnama kita panjatkan. Diiringi sesegukan tulusmu untuk meminta belas kasih Rembulan. Semoga Ia berkenan menjatuhkan seorang momongan dari langit malam.

“Bang!” Kuhafal benar desahan nafasmu waktu itu. Sementara aroma keringat peluhmu terasa sedikit memabukan keinginanku untuk membelaimu. Memanjakanmu mesra di atas bale-bale sambil membayangkan betapa indahnya bermain-main dengan bocah-bocah kecil keturunan kita.

“Ada apa, Adikku.Lenganku selalu kusediakan untukmu bersandar sebelum dan setelah engkau letih melantunkan doa.”

“Sepertinya aku telah kecewa pada rembulan, Bang. Selama ini, dia telah menutup kedua telinganya untuk mendengar keluh kesah kita.” Matamu nanar menatapku. Semburat senyum sangsi membekas di bibir tipismu. Aku dapat membaca kelebat durja dari sorot mata itu.

“Jangan berkata seperti itu, Sayang. Kesabaran kita sedang diuji.” Aku sedikit kecut membagikanmu sebuah senyuman sederhana. Tak seberat persoalan yang tengah kita hadapi ini.

“Seperti itu katamu dari dulu. Tak pernah berubah sepatah kata pun. Seperti rembulan yang tak pernah kunjung mengabulkan pinta kita.”

“Sayang, semua ikhtiar sudah kita lakukan. Dari tradisional maupun medis. Tetapi rupanya kita masih kurang dipercayai oleh Sang Rembulan untuk merawat anak keturunannya.”

“Harusnya kamu percaya apa kata Ama Meddo. Kita berdua tidak mandul. Kita sedang diteluh. Disihir untuk tidak punya keturunan. Buktinya, Ibu Bidan bilang rahimku sehat. Tetapi aku merasakan rahimku seperti tertusuk-tusuk jarum. Apa lagi kalau bukan teluh? ”

“Jangan berkata seperti itu, Sayang. Bersabarlah. Mungkin tidak hari ini, mungkin esok kita akan diberikan momongan.”

“Ah, selalu saja begitu. Lama-lama aku jadi tak betah. Ceraikan aku sekarang juga!”

Aku tersentak. Sebuah tombak ketakpercayaan yang tajam nian, tiba-tiba menghujam dadaku. Sakit. Pedih. Aku tak menduga jika kau akan berputus harapan seperti saat ini. Betapa sebuah gubuk rumah tangga yang selama ini telah kita bangun di atas fondasi saling pengertian harus diruntuhakan lantaran keputusasaanmu.

Dan dalam sekejap aku jadi meradang. Marah dengan segala ketaknyamananku selama ini. Jangan dikira aku juga bahagia jika tak memiliki keturunan seperti ini.

“Ya, kita cerai! Aku menceraimu dengan talak tiga.” Tanpa rencana, kalimat itu serta-merta meloncat keluar dari mulutku. Bibirku bergetar. Nafasku memburu. Mataku memerah ganas. Panas ragaku. Serasa semua ruh makhluk halus masuk ke dalam tubuhku lalu menjadikanku seolah sebuah monster yang amat mengerikan.

Tetapi tragis, sungguh sebuah drama tragedi sedang dikemas. Engkau malah terjatuh. Kejang-kejang. Tubuhmu bergetar-getar. Kusaksikan engkau sedang berperang melawan sesuatu dalam dirimu. Mulutmu meracau-racau tak jelas. Umpat, caci dan maki keluar berhamburan. Engkau kesurupan.

Aku menjadi hilang amarah sekejap. Besarnya rasa belas kasih di dalam dadaku sekejap waktu langsung mengalahkan amarahku yang sudah memuncak sebelumnya.

“Bangsat! Anjing! Aku tak akan pernah berhenti mengejarmu. Sampai ke liang lahar sekali pun. Hahaha!!!”

Ah, ada apa lagi ini? Mengapa semua harus seperti ini? Mengapa istriku yang hendak kucaraikan harus mencaci-makiku sepedis ini? Tak sekali pun aku diperlakukan serendah ini oleh istriku selama ini.

“Kau tahu, aku siapa?” Kulihat wajahmu memerah sungguh. Sinar matamu ganas menatapku penuh dendam. Sebuah dendam lama yang telah lama kau pendam.

Aku mendekatimu. Berupaya memegang telapak tangan kananmu dan menekannya. Berharap kalau ada makhluk halus yang masuk dapat kudesak keluar.

“Heiii!!!! Sedang apa kau? Kau pura-pura lupa, siapa aku?”

Aku masih berusaha sekuat tenaga menekan telapak tanganmu. Di antara ibu jari dan jari telunjukmu, kutekan lebih kuat.

“Kau masih ingat, Ina Barek, lelaki bejat?”

“Astagga!!!”

Kali ini aku semakin tersentak. Dan tanpa lagi melihatmu, aku lari meninggalkanmu. Menutup kedua telinga atas apa yang baru saja aku dengar. Aku ingin menjauh dari segala kenyataan atas apa yang baru saja terjadi. Aku berlari dengan sekuat sisas tenagaku. Sekencang mungkin. Kalau pun harus terjatuh dan mati, aku tak takut. Saat ini mati adalah pilihan yang mungkin masih lebih baik dari pada harus menghadapimu.

Dan aku harus lari. Aku harus menjauh darimu. Sebab di dirimu saat ini bukan hanya bersemayam dirimu saja, tetapi juga Ina Barek. Gadis di sebelah kampung yang ditemukan tak lagi bernyawa di pinggiran kali kampung. Ia meninggal dengan tragis karena dicekik seseorang. Tapi kasihan, ia tengah hamil. Dan tahukah kamu, istriku, anak yang dikandungnya dan dibawa mati bersamanya, adalah anakku juga. Anak yang kubenihkan di saat malam purnama. Di saat engkau tengah berdoa menanti anak dari rembulan.


*****

Demi purnama. Demi waktu yang sempat tertahan. Kau ada dimana? Sedang aku masih setia menatap purnama kelimabelas di malam ini. Katakan kepadaku, hati siapakah yang tak berdetak kagum melihat dewi malam tengah ramah membagikan senyum pengharapan pada para penghuni alam? Di mata sejuk, di hati lembut dan di bibir decak doa senantiasa bertasbih, katamu dulu. Andai jarak bukan menjadi pemisah jumpa, ingin kudaki tangga langit, kudapati dewi malam, lalu bersujud langsung di hadapannya, sembari memanjatkan berjuta pohon doa. Maafkan aku Ina Barek; perempuan pelampiasan keputusasaanku. Maafkan aku calon anakku.  Maafkan aku Ina Somi, Istriku. Maafkan aku yang tak pernah letih memandang purnama.


Kupang, 04/01/2011
Jam: 13:13


[1] Pion Ratulolly, lahir pada 31 Desember 1986 di desa pesisir Lamahala, Nusa Tenggara Timur. Ia adalah peserta Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) bidang Novel di Kupang. Peserta PEKSIMINAS (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) IX di Jambi. Peserta Temu Sastrawan Indonesia III di Tanjung Pinang. Menulis novel “atma” Putih Cinta Lamahala Kupang.