Sebuah Cerpen Oleh Pion Ratulolly
MALAM yang hujan. Kilat dan gemuruh berantrian memotret keresahan serta meledak-ledakan perasaan kalutku. Dan air mata adalah lautan perasaan takut dan cemas yang sangat dalam. Aku belum berani
mengetuk pintu rumah ini. Padahal pintu ini adalah pintu rumahku. Rumah yang telah membesarkan ragaku. Sekaligus membesarkan hatiku untuk meninggalkan penghuni rumah ini. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah berijab-qabul menghadirkanku ke dunia ini. Mereka adalah Ayah dan ibuku. Ayah, yang selalu kupinta bahunya untuk bersandar. Dan ibu, tempat aku menumpahkan isi hatiku sekaligus menumpahkan isi mata air yang mengalir dari dalam kelopak mataku. Keduanya merupakan tempat aku menenun benang-benang lara menjadi sebuah kewatak[2] senyuman. Bahkan tawa yang kekanak-kanakan pun dapat terajut indah menawan jika bersama mereka.
Tetapi tidak untuk sepuluh tahun lalu. Di saat aku terpaksa meninggalkan mereka untuk suatu perkara yang pelik. Sepelik keengganan mereka untuk sebuah kebahagiaanku. Sungguh aku tak menginginkan semua ini jika masih ada pilihan lain yang mungkin masih lebih layak. Sayang, kepergianku ini adalah sebuah samudera kebahagiaan yang maha luas. Namun samudera kebahagiaan ini harus memisahkan dua pulau kasih sayang. Pulau kasih sayang kedua orang tuaku -yang selama ini telah membesarkan aku dengan air susu cinta- dengan pulau kasih sayang kekasihku yang berikrar memberikan sejuta harapan indah di perantauan masa depan. Meskipun aku mafhum bahwa kepergianku ini adalah metode pendurhakaanku dengan cara yang santun.
“Ayah tak merestuimu jika kamu menikah dengan Kelake. Apa matamu sudah terlalu rabun untuk membedakan mana lelaki yang telah beristri-anak dan lelaki yang masih perjaka. Di kampung kita kan masih banyak perjaka. Apalagi kenale-kenale[3]mu. Ayah hanya mau melihat kamu hidup bahagia dengan perjaka. Menikahlah dengan Mamun!”
Kenangan hari kemarin laksana gunung penyesalan yang telah pongah kutapaki. Kalimat-kalimat sejenis yang keluar dari bibir ayah kembali menyusup masuk ke dalam ruang diamku. Kalimat itu tidak sekedar saran. Semacam fatwa. Harus didengar dan diikuti. Tetapi getaran di hatiku bernada lain. Seirama sebuah nada pembangkangan. Bukan aku tak mau menikah dengan perjaka. Apalagi dengan kenale. Tetapi ini persoalan rasa. Layaknya pilihan antara sayur asam atau ikan asin untuk sebuah selera makan.
“Ayah curiga jangan-jangan kau telah diguna-gunai Kelake? Lihat saja, hanya kau yang bersikeras menikah dengannya. Sedangkan dia? Sampai detik ini pun keluarganya tak pernah bertandang ke rumah untuk meminangmu. Apa ini bukan sebuah bukti ketakcintaannya kepadamu?”
Bukan tak mau. Keluarganya mau, Ayah. Tetapi takut. Takut akan ditolak. Karena keluarga Kelake tak punya apa-apa. Sementara, Ayah telah mematok daftar persyaratan pelamaranku; Lima batang gading untuk belis, tiga ekor kambing untuk mememuliakan pamanku, serta uang sepuluh juta untuk uang air susu ibu.
Jika aku tak mengetuk pintu ini maka mustahil aku bisa masuk. Di luar sini hujan masih saja menderas. Menambah kelam malam yang mencekam. Angin seolah tak letih meniupkan nyanyian badai dengan penuh lantunan emosi. Petir dan guntur pun terus-menerus memaksakan ragaku untuk segera masuk ke dalam rumah. Tetapi rumah ini masih terkunci. Dikunci dari dalam. Tepatnya dipalang dengan menggunakan sebatang kayu kapuk.
Ah, aku tak boleh di sini terus. Aku harus masuk. Tubuhku sudah tak nyaman diselimuti gigil.
“Tok! Tok! Tok!”
Masih tak ada jawaban.
“Tok! Tok! Tok!” kali ini bunyi ketokan pintu semakin keras. Sampai beberapa kali.
“Iya! Siapa?”
“Aku, Bu!”
“Iya, kamu siapa?”
“Dewi!”
Tak ada lagi jawaban. Hanya bisik-berisik yang terdengar. Seiraman rintik-rintik hujan di atap rumahku yang terbuat dari ilalang ini. Hanya kasak-kusuk yang dapat kuraba dengan gendang telingaku. Aku pastikan suara-suara yang ada di dalam rumah adalah suara kedua orang tuaku. Suara yang sangat merdu yang pernah kudengar seumur hidupku -meksipun tak sedikit dari suara-suara itu berfrekuensi amarah. Sepertinya, kedua orang tuaku tengah mencari kata mufakat untuk membuka palang pintu rumah ini, sebagai simbol mereka mulai membuka pintu maaf untukku.
Perlahan suara berisik menghilang. Kuendus berganti menjadi bunyi langkah-langkah kaki. Semakin mendekat. Merapat ke pintu. Air mataku semakin deras mengalir. Kukira, serupa air mata bahagia. Maka sedikit senyum mulai kukembangkan.
“Krekkk!!!” Palang pintu dibuka.
Kubayangkan akan terjadi sebuah cuplikan kisah haru pertemuan antar seorang ibu dan anak yang pulang setelah hilang, akan terjadi.
“Krekkk!!!” Dan pintu pun dibuka.
Aku melongokkan kepala ke dalam. Naas, tak terjadi seperti yang aku harapkan. Tak ada kisah haru. Hanya sebuah punggung -yang hampir membungkuk dibalut sebuah kebaya lusuh- yang tampak. Selebihnya hanya bisu yang bersuara. Pada nyala yang redup, yang muncul dari sebuah lampu gas di samping tembok bambu.
Kakiku terasa berat melangkah. Ribuan panah malu dan takut menusuk-nusuk dadaku. Punggungku seolah ditarik ke belakang. Kaki dan tanganku jadi gemetar. Nafasku memburu. Wajahku membiru. Ah, aku tak punya pilihan lain. Harus masuk. Menemui kedua orang tuaku. Meskipun dipukul, ditendang bahkan harus diusir pun akan siap terima.
Dan aku pun melangkah. Beberapa langkah.
“Untuk apa kau datang kemari, anak durhaka!” Suara itu menghentikan langkahku. Suara merdu dari Ayah, yang memilukan hatiku.
Tetapi aku kembali melangkah. Bahkan setengah berlari. Menuju kepada lelaki yang hanya terbaring lemas di atas tempat tidur yang terbuat dari bambu.
“Ayah, Dewi minta maaf! Dewi telah menyakiti Ayah sampai Ayah jadi begini. Dewi minta maaf!”
“Ah, setan! Untuk apa kau meminta maaf. Kenapa tak kau tunggu untuk meminta maaf di atas batu pusaraku nanti! Aku tak ingin melihat mukamu! Pergi! Pergi!”
“Maafkan Dewi, Ayah! Dewi mengaku, semua ini salah Dewi. Dewi bersedia mendapat ganjaran atas segala dosa yang pernah Dewi buat terhadap Ayah!”
“Apa kau kira dengan memberikan ganjaran kepadamu, semua sakit hati dan sakit raga ini dapat terobati? Tidak! Meskipun harus membunuhmu tak bisa membayar semua luka yang selama ini mengenga pedih.” Ayah masih saja di pembaringan. Tak menatapku semanjak awal aku masuk. Dan air mataku hanya mampu mewakili seluruh penyesalanku.
Meski begitu, aku faham. Tak ada sedikit pun semburat kebencian di wajah tua Ayah. Malah semburat kesedihan dan kasih sayang.
Dan terkadang, martir kecintaan boleh jadi dapat meruntuhkan dinding-dinding kemarahan. Ibu tampil dari belakangku. Merangkul kedua pundakku. Lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tak ada suara. Hanya sedu dan sedan yang bergumam. Ibu menciumi wajahky dengan penuh getaran kasih sayang. Aku dapat merasakan semua itu. Dan seketika aku pun balik memeluknya. Isak dan tangis pun meruak bak kembang seroja bermekaran. Ibu dan aku seakan ingin berbicara tentang sebuah perasaan yang sulit untuk diterima. Tentang kepergian yang memilukan. Tentang kepulangan yang mengharukan.
Sedangkan Ayah masih di pembaringan. Tetapi suara itu? Suara itu serupa tangisan. Ayah menangis. Aku yang sedang merangkul ibuku kemudian berupaya merangkulnya pula. Dan tak ada suara yang keluar dari bibir-bir kami. Hanya bulir-bulir bening yang menderas. Serta ratapan dan isakan.
Waktu menjadi berhenti berputar. Menyaksikan sebuah drama keharuan dari keluarga yang selama sepuluh tahun terpisah. Terpisah lantaran ego. Terpisah oleh sebuah tapak kebahagiaan yang sulit dicapai lantaran salah pengertian.
“Ayah, Ibu! Dewi minta maaf. Karena semua kesalahan yang pernah Dewi buat terhadap Ayah dan Ibu maka sampai dengan detik ini pun, sampai Dewi kembali dari tanah perantauan setelah menikah di atas tangan, Dewi belum juga mendapatkan keturunan.” Dan air mataku bagai tsunami yang meluluhlantahkan tembok-tembok ketegaranku selama ini. Selama hidup di perantauan. Selama menikah tanpa restu orang tua. Dan selama menanti kehadiran sang buah hati belahan jiwa.
Ibu menarik nafas dalam-dalam. “Ayah dan Ibu juga minta maaf, Nak. Semua itu juga salah Ayah dan Ibu. Karena terdorong rasa sakit hati dan tak dihargai olehmu, akhirnya kami melakukan bau lolon untuk menyumpahimu. Kalau kau bukan anak kami maka selamatlah kau menikah di atas tangan. Tetapi jika kau benar-benar anak kami maka hidupmu tak akan bahagia. Kau tak akan bisa punya keturunan sebab pernikahanmu tak kami restui.”
Kembali air mataku memuncrat. Menyemburkan mata air kecewa sekaligus sedih tak terkira. Kedurhakaan yang telah kubuat terhadap Ayah dan Ibu harus kubayar mahal untuk sebuah kebahagiaan.
“Tapi dimana Kelake, Nak? Kenapa tak kau suruh masuk?” Ibu berusaha tenang.
Pertanyaan itu seolah semakin menyayat batinku. Perih dan pedih sekali.
“Kelake telah meninggal, Ibu. Dia meninggal dalam kecelakaan kerja di Batam. Makanya aku kembali ke kampung.”
Suaraku habis. Seiring pelukan hangat Ibu di dadaku. Pelukan dalam nafas kasih sayang dan hujan air mata. Maafkan aku Ayah dan Ibu.
Dan malam itu waktu seakan lelah berjalan. Berhenti di perbatasan, sambil menanti aku, Ayah dan Ibu menghentikan tangisan. Menghentikan kesedihan. Menghentikan segala kedurhakaanku sembari membuka pintu taubat. Pada malam yang uzur. Aku mencium aroma bau lolon. Aku juga mencium aroma keringat suamiku.
Kupang, 21 November 2010
Pion Ratulolly, peserta MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara) bidang novel di Kupang. Peserta PEKSIMINAS (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) IX di Jambi. Peserta TSI (Temu Sastrawan Indonesia) III di Tanjung Pinang. Penulis novel “atma” Putih Cinta Lamahala Kupang. Manager pada Laskar Sastra Kupang Management. Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Lamahala 2008-2009. Ketua Sanggar Seni Tulang-Tulang Berserakan. Pembicara pada kegiatan Bengkel Sastra: Pelatihan Menulis Cerpen untuk Guru dan Siswa SMA jurusan Bahasa se-Kota Kupang oleh Pusat Bahasa-Cabang NTT, di Hotel Cendana-Kupang.
[1] Sejenis sumpah adat yang dilakukan untuk mencari kebenaran sesuatu perkara. Bahkan sumpah ini diyakini bisa menyebabkan kematian terhadap orang yang bersalah.
[2] Tenunan khas Flores Timur
[3] Suami rumah. Di Adonara diberlakukan suatu aturan adat suami atau istri rumah yang dapat diartikan sebagai lelaki atau perempuan yang berpeluang besar untuk menikah karena diperbolehkan adat. Hubungan ini bisa ditarik dari garis keluarga batih dengan ketentuan; lelaki dapat menikah dengan perempuan yang merupakan anak dari paman (saudara lelaki ibu)nya; sedangkan perempuan dapat menikah dengan lelaki yang merupakan anak dari bibinya (saudara perempuan ayahnya). Hubungan kenale bisa juga ditarik berdasarkan suku/marga mana-mana saja yang berhak menjadi kenale atau tidak secara aturan adat.
No comments:
Post a Comment