Monday, 24 January 2011
LELAKI BERTAHI LALAT DI PINGGANG
Sebuah Cerpen Oleh Pion Ratulolly
“Wae[1], perempuan Adonara itu seperti gading. Sebagaimana gading yang dijadikan sebagai belis[2]
seorang gadis Adonara dalam sebuah pernikahan. Tahu kau kenapa gading dijadikan belis? Padahal, gading kan tidak ada di Pulau Pembunuh[3] ini. Jangankan gading, gajah saja tak sudi menghirup udara pengap di sini. Nah, oleh karena betapa sulit dan susahnya mendapatkan gading di Adonara inilah maka para leluhur kita menjadikan gading sebagai belis. Sulit mendapatkan gading di Adonara, sesulit itu pula mendapatkan seorang gadis Adonara.”
Perempuan itu masih saja menjahit mulutnya. Tangannya masih juga cekat dan cermat mengambil beberapa butir jagung panas yang digoreng tanpa minyak dalam sebuah belanga, lalu menitih jagung-jagung itu di atas sebuah batu gunung yang besar dengan menggunakan sebuah batu gunung pula seukuran satu genggaman. Jagung-jagung itu dititih dengan sekuat tenaga perempuannya. Lalu ia pindahkan jagung hasil titihan itu ke dalam sebuah nyiru[4].
Ia tak banyak cakap. Percuma saja ia bicara. Toh pembicaraannya tak pernah digubris oleh radio usang yang sedang berleha-leha di atas kursi goyang ini. Ya, ia menyebut seorang lelaki -tepatnya adalah pamannya- dengan sebutan radio usang. Betapa tidak. Semenjak awal perempuan itu menyalakan tungku, radio usang itu mulai mengudara. Sampai saat ini pun ia masih saja semangat terbang mengudara. Mengudarakan tutur-tutur klassik etnik yang sulit ditampung oleh tempurung kepala perempuan itu. Padahal perut perempuan itu sudah sangat sulit diajak berkompromi.
Sudah dua hari ini ia keluar masuk rumah. Sekaligus keluar masuk kampung. Tetapi ia tak mau makan nasi. Padahal nasi selalu disediakan pamanya satu kali dua puluh empat jam di atas meja bambu ruang makan. Bagaimana nafsu makannya bisa terbit jika perutnya telah dikenyangkan oleh umpatan. Begitu pun hatinya, telah lahap dibakar api sindir para tetangga. Pun gelombang cemooh dan cibir telah menenggelamkan air matanya yang hanya bersumber dari kedua kelopak matanya.
“Sebuah riwayat menuturkan. Konon, ada seorang gadis pingitan di Adonara keluar rumah untuk membeli ikan di pasar. Sesampai di pasar, tanpa sadar ia membuang angin. Dan setelah menengok ke belakang, ia menemukan seorang pemuda sedang menutup hidung sambil menatap ke arahnya. Gadis itu berlari pulang sekencang mungkin menuju rumahnya. Ia bagai menampar muka sendiri. Sungguh ia sangat malu besar. Maka si gadis kemudian mengadukan peristiwa itu kepada ayahnya. Anehnya, perempuan itu meminta ayahnya untuk segera menemui sang pemuda tersebut, lalu memaksa sang pemuda untuk menikahi si gadis. Kenapa begitu? Sungguh ia tidak ingin aibnya diketahui orang lain selain orang yang bakal dan pasti menjadi suaminya.”
Perempuan itu masih menitih jagung. Pastinya, jagung titih itu hanya bisa ia santap untuk menghilangkan laparnya selama ini. Tidak untuk mengenyangkan. Namun, bunyi titihan jagung serta benturan kedua batu gunung itu terasa berdentum-dentum di dada perempuan itu. Dadanya seolah hendak meledakkan lahar amarah. Ia berupaya membendung darahnya yang perlahan-lahan mengalir naik. Tetapi semakin dibendung, darahnya seolah-olah menerobos keluar dari ubun-ubun. Apa dia kira selama ini aku bisu. Atau aku tak punya nyali untuk melabrak mulut cerewetnya yang terus meracau tanpa henti ini.
“Lalu kenapa kau masih saja tak punya malu saat kerap kali kau pergi dan pulang dari rumah ini tak kenal waktu. Juga tak kenal pamit. Apa kau kira rumah ini tak ubahnya seperti terminal Waiwerang, yang semaunya saja kau datang, singgah lalu pergi tanpa jejak?”
Jagung pun kembali dititih perempuan itu. Dan kini, petuah itu telah berubah menjadi ribuan teluh di dada perempuan itu. Ia tertusuk. Sakit. Tetapi apa nak dikata. Ada keinginan untuk mengklarifikasi tuduhan itu. Tetapi masih saja malaikat kebaikan berhasil membisikan kalimat kebajikan. Jangan kau merasakan sakitnya jarum fitnah itu sebagai duka. Nikmatilah ia sebagai sebatang pisau suka, yang nantinya akan kau gunakan untuk membunuh kejahatan.
Dan kedua batu gunung itu masih bertalu-talu.
“Ingatlah, dulu ibumu mati berkafankan malu bernisankan kecewa lantaran memikirkan perangaimu yang telah berubah jauh seratus delapan puluh derajat. Kau bercinta dengan lelaki yang tak jelas asal-usulnya lalu kedapatan oleh warga dan kalian akhirnya dihakimi oleh massa. Lelaki itu pun pergi meninggalkanmu tak jelas rimba-rayanya. Meninggalkan benih-benih dosa di dalam perutmu yang kini telah menetaskan seorang lelaki penjahat pula. Apa kau telah pikun? Atau kau pura-pura lupa untuk memikirkan itu?”
Memangnya dia pikir selama ini aku belum terlalu tebal muka menemui sesosok makhluk yang bernama sindir?
Malaikat kebaikan seakan pasrah membujuk perempuan ayu dengan mata yang tajam serta dagu terbelah dan rambut panjang tergerai sepinggang ini. Tetapi, tiba-tiba sesuatu hendak meletus dari dalam diri perempuan itu. Bukan amarah. Tetapi hanya sesembur air. Tepatnya ai mata. Sebuah air mata yang mengalirkan mata air aib dari dalam sungai suci kedua kelopak matanya. Tetapi hanya air mata saja yang ia bisa keluarkan. Tidak ada suara. Pun ratapan. Apalagi raungan. Layaknya tangis yang tertahan. Ironisnya, rautnya tak sedih. Namun kemarahan yang bangkit menyala-nyala.
“Lalu kenapa kau masih saja suka jalan. Mau kau cari lelaki mana lagi yang dapat membuatmu bahagia sekaligus membuat keluargamu malu? Apa kakimu sudah dikotori oleh tahi lalat?”
Tahi lalat! Ya, tahi lalat adalah sebuah tanda lahir tetapi memiliki makna. Jika ia ada di kaki artinya dia kuat jalan. Jika ada di tangan artinya suka mengambil barang orang. Jika ada di belakang pinggang?
Dan perempuan itu pun sekejap mengekalkan air matanya menjadi lautan merah. Ia mengeja-eja kembali ingatannya. Tahi lalat di belakang pinggang? Maka malaikat kebaikan pun bergegas ia bunuh dengan mata pisau kebengisan. Perempuan itu berdiri. Menatap marah ke arah radio usang itu. Dan api yang sebelumnya menyala-nyala dalam tungku, kini menyala-nyala dalam hati dendamnya.
“Bangsat! Biadad! Kau bilang aku tak bermoral? Kau kata aku tak bersusila?”
Dan… “Bruukkk!!!”
Sebuah batu gunung segenggaman terbang melayang dari seorang perempuan yang selama ini bisu, mendarat telak persis di kepala lelaki itu. Sebuah lemparan keras yang mewakili api kebencian dan magma dendam yang selama ini menggelora dalam batinnya. Ia masih terngiang dengan perkataan pamanya dua minggu lalu, harga diri adalah harga yang menentukan harga mati seorang gadis Adonara.
Maka lelaki itu pun berlari keluar rumah. Berlari dengan kepala yang pening tak terkira sambil bersimbah darah siang yang tak berhenti menyemprot. Tubuhnya seakan tak kuasa lagi ia kuasai.
“Woi!!! Semua!!! Ada yang berjinah lagi!!! Ada yang kembali berjinah!!!”
Seketika, halaman rumah lelaki itu dipenuhi dengan manusia desa serupa lalat yang mengerumuni bangkai. Semuanya mendengar persis suara Ama Puru, sang kepala desa, tokoh terpandang, terhormat, disegani, suka memberi nasehat dan membagi tutur nilai-nilai luhur etik Adonara.
Ia lelaki yang pernah meneriakan peristiwa perjinahan keponakannya sendiri. Dan bagi mereka yang pernah mendengar teriakan Ama Puru sebelumnya, mereka tak ingin letih bertanya, siapa lagi orang yang telah berjinah kalau bukan Tuto; perempuan ayu dengan mata yang tajam serta dagu terbelah dan rambut panjang tergerai sepinggang .
Massa yang datang pun langsung menyerbu rumah itu. Mereka, baik lelaki dan perempuan, berebutan masuk ke dalam dan menuju ke sesosok perempuan yang tengah duduk bersandar di samping kursi goyang dengan mata membelalak. Di perut perempuan itu tertancap sebuah pisau. Sebuah pisau pembunuh diri. Dan sebuah proses penyelesaian masalah yang sangat singkat dan tragis.
Perempuan itu mengakhiri hidupnya dengan sebuah pisau dapur yang pernah digunakan lelaki bertopeng sarung dengan tahi lalat di belakang pinggang, untuk mengancam dirinya sebelum menggagahinya pada suatu malam hujan. Selepas menggagahinya, lelaki bertopeng sarung itu membuang perempuan yang tengah keletihan sehabis melayani setan yang haus darah perawan itu, di belakang rumah. Dan seorang lelaki baik-baik kemudian menemukan perempuan itu. Tetapi naas, lelaki baik-baik itu tak bernasib baik. Ia diteriaki oleh paman perempuan itu. Tepatnya, ia difitnah. Sama kadar fitnahnya dengan perempuan itu yang terlanjur malu. Maka sempurnalah kepedihan daging yang demikian perih yang dirasakan oleh perempuan itu.
Dan malam ini tak ada lagi lelaki baik itu. Tak ada lagi lelaki bertopeng sarung dan bertahi lalat di pinggang. Tak ada lagi fitnah. Tak ada lagi penderitaan. Yang ada hanyalah seonggok mayat seorang wanita yang tak ingin dikubur oleh siapapun. Yang dibiarkan menjadi bangkai yang membusuk dan akan dimakan anjing-anjing yang haus darah tak perawan.
Perempuan itu pergi bersama sebuah kisah misteri yang ia simpan rapi sekaligus rapuh. Tentang pemerkosaan dirinya pada suatu malam hujan. Tentang lelaki bertopeng sarung yang bertahi lalat di pinggang. Tentang lelaki baik-baik yang menolongnya. Tentang pamannya yang meneriakan sebuah fitnah. Tentang pamannya yang bertahi lalat di belakang pinggang.
Kupang, 20 November 2010
Pion Ratulolly, peserta MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara) bidang novel di Kupang. Peserta PEKSIMINAS (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) IX di Jambi. Peserta TSI (Temu Sastrawan Indonesia) III di Tanjung Pinang. Penulis novel “atma” Putih Cinta Lamahala Kupang. Manager pada Laskar Sastra Kupang Management.
[1] Sapaan kepada keponakan perempuan.
[2] Persyaratan peminangan seorang gadis. Terdapat sedikit perbedaan pandangan –untuk tidak menyebut kesalahan persepsi- terkait dengan belis. Masyarakat pedalaman (ata kiwan) di Adonara memahaminya sebagai seperangkat mas kawin dalam pernikahan. Sedangkan masyarakat pesisir (ata watan) memahaminya sebagai salah satu kelengkapan persyaratan peminangan secara adat karena masyarakat pesisir menggunakan mas kawin lain yang lebih dianjurkan oleh agama (Islam), seperti; seperangkat alat sholat, dll.
[3] Dalam catatan perjalanan Prof. Dr. Ernst Vatter sekitar tahun 1929-1930, yang direkam dalam bukunya "Ata Kiwan" (judul aslinya: Unbekannte Bergvolker im Tropichen Holland), antropolog ini menyebut Adonara sebagai "pulau pembunuh".
[4] Nama lain dari badang, ayakan, tampian, tampah atau penampi (yang digunakan untuk menapis beras. Nyiru terbuat dari rotan atau bambu.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment