Monday, 24 January 2011
MATINYA MATA HATI
Sebuah Cerpen Oleh Pion Ratulolly
Aku bergegas menarik jangkar dan menaikan layar sampan[1]ku. Malam ini juga aku harus pulang ke rumah. Aku memutuskan untuk berhenti memancing. Bukan lantaran tak satu pun ikan yang kutangkap semenjak
petang tadi. Bukan pula karena dingin dan pekat langit Selat Solor yang sedari tadi mesra menyelimutiku. Juga tidak karena ingin menghadiri pesta resepsi pernikahan di samping rumahku yang mendatangkan artis lokal pemusik gambus[2] sekaligus penyanyi hurreng[3] yang sempat sukses di ibukota negara. Aku pulang oleh sebab mata ini memerah melihat kampungku, Lamahala, terbakar. Si jago merah menjilat-jilat marah di hampir semua sisi kampung. Mulai dari dusun satu, Merdeka, sampai dusun enam, Batu-Bata. Kobarannya tak kecil. Tak seperti kebakaran hutan yang kerap terjadi di pedalaman Sumatera. Tak juga serupa kebakaran hebat di kompleks perumahan masyarakat kumuh di Jakarta akibat ledakan gas elpiji. Aku seolah menyaksikan api neraka tengah menyala-nyala di dalam palung kampungku.
Sejurus dengan itu, gendang telingaku pun seolah menangkap bebunyian aneh. Seperti bunyi-bunyian gong. Tak hanya satu kali namun berulang kali. Dan bunyinya sayup-sayup terdengar dari arah kampungku. Bunyi-bunyian yang dihasilkan bukan untuk pementasan atau hiburan. Bunyi-bunyian yang terkesan aneh dan mistis. Membuat bulu kudukku terus bergidik tegak. Tak hanya habis di situ, raungan burung-burung hantu yang membahana dan bersahut-sahutan di atas cakrawala malam, seperti memanggil-manggil aku agar cepat kembali ke kampung. Menengok dan membantu kampungku yang tengah dilanda malapetaka.
Maka lancang kuning pun bergegas kulayarkan kencang menuju Pulau Adonara. Sekencang degup jantung yang bercokol di dalam dadaku. Aku tak lagi sabar ingin menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi dengan tanah darahku tertumpah. Dan kecepatan layar sampan ini masih membuatku tak yakin cepat sampai. Maka kuperbantukan dengan mengayuh. Semakin cepat. Semakin dekat. Semakin cemas.
Namun, alangkah terkejut sungguh diriku. Tatkala sampan yang kutumpangi semakin dekat merapat mencium bibir pantai. Kobaran-kobaran itu perlahan sirna. Semakin sirna, sirna dan menghilang tak tinggalkan bekas. Begitu pun bunyi gong. Perlahan tak terdengar, hilang, lengang dan bisu pun menghinggapku. Aku seakan ditikam seribu tombak kengerian yang tak terperi. Betapa tidak. Hati siapa yang tak janggal dan ngeri mendapati suatu bencana yang sebelumnya terjadi dengan begitu dahsyat, tiba-tiba sirna begitu saja. Kalaulah bencana itu sudah selesai pasti meninggalkan bekas. Tetapi ini? Jangankan bekas, tanda-tanda terjadinya suatu bencana pun tak nampak.
Maka berbekal seribu tombak kengerian sekaligus panah penasaran yang terus menerus menancap di dada, aku bergegas menuju rumahku. Kutemukan tak ada sesuatu hal yang lain. Semuanya biasa saja. Tak ada malapetaka. Bahkan suasana di sebelah rumahku yang tengah mengadakan resepsi pernikahan menambah kontradiktif pemandanganku sebelumnya. Pesta berlangsung meriah dan gembira. Kedua penganting bersanding ria di pelaminan sambil memamerkan keanggunan dan kemegahan pestanya. Tetamu yang hadir pun semakin mendukung kemeriahan itu. Malah beberapa pemuda dalam satu lingkaran, tengah meneguk tuak[4]; minuman perdaiaman. Beberapa lainnya tengah tertipu daya oleh suara saundsystem yang hampir memekakan telinga. Mereka meliuk-liukan tubuh sambil meracau-racau tak tentu. Betapa wilayah kekuasaan surga dan neraka menjadi tak ada batas.
Apa yang sebenarnya telah terjadi? Mengapa tak ada kebakaran? Dan bunyi gong itu? Apa yang telah terjadi denganku? Apa aku sedang sakit jiwa? Ataukah? Tetapi, tiba-tiba saja aku mencium aroma kemenyan. Ah, ada apa lagi ini? Apa ada pesta resepsi pernikahan yang menggunakan kemenyan untuk mengiringi orang berjoget?
“Bapa! Bapa! Bangun!” suara itu menggoncang-goncang tubuhku yang tengah terlelap.
“Iya, iya!”
“Opu Laga, Bapa!”
“Opu Laga kenapa?”
“Opu Laga tertombak. Sekarang ia dibawa ke puskesmas.”
“Hah???”
Aku spontan bangkit dari tidurku. Kampung Lamahala terbakar serta kemeriahan pesta seketika memudar. Kucoba mengumpulkan ingatanku yang tersisa. Ah, ternyata peristiwa yang terjadi tadi hanyalah bunga tidur.
Dan kini, istriku ada di sampingku. Wajahnya pucat. Air matanya mencuat deras dari kedua kelopak matanya.
“Ada apa, Ma? Apa yang terjadi Opu Laga?” Aku mendekati istriku.
“Opu Laga tertombak di kebunnya. Ia ditemukan oleh Opu Subhan pagi tadi, sedang terkapar bersimbah darah. Dan ia langsung dilarikan ke puskesmas Waiwerang.”
"Astaga!!!"
Tanpa banyak tanya, segera kuraih panah dan busur, tombak serta parang. Secepat kilat, kuayunkan langkah menuju pintu depan. Baru saja aku membuka pintu, keriuhan langsung menghinggapi telingaku. Orang-orang berlarian panik ke sana-kemari. Sama seperti diriku, para lelaki menggenggam parang dan tombak. Di punggung mereka terkalung busur. Sementara anak-anak panah berjejal di belakang, sebagaimana kelengkapan para hulubalang kerajaan Lamahala yang siap berperang. Para lelaki itu, termasuk diriku, berlari menuju ujung utara kampung. Menuju kebun Opu Laga. Dan aku pun mengikuti mereka sambil diliputi ketaktahuanku atas apa yang akan aku lakukan.
Dan peperangan benar-benar terjadi di depan mataku. Dan aku termasuk salah satu prajurit perang itu. Aku belum terlalu tahu, apa pasal peperangan ini. Yang kutahu hanya karena Opu Laga tertombak dan mungkin karena merasa tak puas, kami pun balik menyerang mereka. Mereka? Siapa mereka? Aku tak tahu. Yang kutahu, mereka adalah orang-orang yang tak kukenal sedikit pun, baik dari wajah maupun penampilan. Karena itu, mereka adalah musuhku. Musuh bagi orang-orang yang kukenal.
Sementara itu, anak-anak panah berhamburan di udara layaknya kembang api yang merekah di langit malam. Anak-anak panah itu menyerang ke arah kedua kubu. Menikam beberapa tubuh. Lalu dari tubuh-tubuh itu darah seketika menyembur. Tubuh-tubuh itu roboh, tumbang dan terkapar. Beberapa teman seperjuangannya datang lalu membopong tubuh itu. Membawa mundur ke belakang. Sedang beberapa orang lainnya terus menyerang –kalaupun tidak maka hanya bertahan. Tak hanya panah, tombak dan parang juga betul-betul dimanfaatkan.
Dan aku masih mengendap-endap di antara semak belukar. Bersembunyi sambil mencari-cari cara untuk menyerang. Sasaranku adalah seorang tua tadi yang sempat menghujam tombak ke arah teman seperjuanganku. Dan…
“Ukhhhhhh!!!!!!!”
Seketika aku berhasil mendaratkan sebuah anak panah ke dada orang tua itu. Ia berteriak histeris. Mengerang kesakitan lalu tumbang. Dan perlahan menghilang di balik semak. Lantas beberapa kawannya datang menarik tubuh terkaparnya.
“Bagaimana Girek? Kau masih aman?” Nana Radja, sang panglima perang memastikan keselamatanku.
Aku berdiri. “Ya, aku masih aman. Tadi aku sempat memanah seseorang. Dan… ukkkhhhhhh!!!!!!”
Aku menjerit. Sebuah anak panah tiba-tiba menancap tajam di dadaku. Darah-darah menyembur. Aku tumbang. Kepalaku pusing. Pengelihatanku kabur. Hilang. Sirna. Dan tiba-tiba seseorang menarik tubuhku ke belakang. Dan mataku pun tertutup.
Kupang, 18 November 2010
(Mengenang perang tanding di Adonara antara Lamahala dan Horowura, pada 07 Maret 2010).
PRAHARA ADONARA
Karya Pion Ratulolly
kisah klasik itu tiba-tiba memuncratkan prahara
dari perut bumi Lamahala-Horowura
betapa muncul riwayat purba berdarah
lantaran pangkal adalah amarah
tatkala yang bicara hanyalah senapan, panah, tombak dan parang
maka perang tanding tak paling berpaling
silang sikut, saling serang
menjadi ajang maha berang
tetesan-tetesan keringat, darah dan air mata
kian karib mengalir di mana-mana
bumi Adonara menangis
tumpahkan air mata darah dan tragis
sejauh mana tapal batas kemanusiaan seseorang,
ketika darah menjadi halal di ujung parang?
kita telah jauh menapak
melewati ruas-ruas jarak tak berjejak
cobalah tengok ke belakang
sesungguhnya kita adalah saudara
maka damaikanlah di antara keduanya
dalam bingkai naju-baja[5]
Pion Ratulolly, peserta MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara) bidang novel di Kupang. Peserta PEKSIMINAS (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) IX di Jambi. Peserta TSI (Temu Sastrawan Indonesia) III di Tanjung Pinang. Penulis novel “atma” Putih Cinta Lamahala Kupang. Manager pada Laskar Sastra Kupang Management.
[1] Sejenis perahu tetapi bentuknya agak kecil dengan beberapa ikatan bambu di kedua sisinya yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan sampan.
[2] Salah satu alat musik tradisional yang dimainkan dengan memetik seperti gitar.
[3]Salah satu jenis nyanyian tradisional yang biasanya berisi hikayat atau cerita-cerita lokal atau pantun yang dinyanyikan dengan diiringi gambus.
[4] Minuman tradisional yang bisa menyebabkan mabuk.
[5] sebuah paham klasik masyarakat Lamahala-Horowura yang berasumsi bahwa kedua desa ini sejatinya adalah desa bersaudara.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment