Sebuah Cerpen Oleh: Pion Ratulolly
“Nak, tahukah kamu arti dari namamu? Kemuhar adalah nama seorang leluhur kita dari suku Ata Mua. Suku Ata Mua berasal dari Ambon. Tepatnya di Maluku Utara, kerajaan Mua di Pulau Mua. Konon suku Ata Mua masuk ke Lamahala sekitar abad ke 16 melalui ekspedisi Ratu. Dalam ekspedisi ini ada tujuh bersaudara yang dikenal dengan Pati Pito. Nah, salah satu keahlian yang dimiliki Pati Pito adalah Pandai Besi. Dan Kemuhar merupakan salah satu keturunan dari Pati Pito itu.”
Aku masih khusyuk menekuri perkataan Ayah sembari kedua tanganku terus memompa-mompa rok[1]. Mataku kuarahkan lurus tepat pada kedua mata Ayah yang tengah menyala sebagaimana bara yang tengah menyala-nyala di tungku ini. Aku duduk di atas sebuah bale-bale bambu setinggi satu meter. Kakiku kujulurkan saja ke bawah dan membiarkannya tergantung bebas. Perhatianku kuupayakan terus terfokus pada perkataan ayah. Sebab aku mafhum, Ayah jarang sekali bicara. Apalagi bercerita. Ayah hanya mau bercerita ketika aku mau bersama-sama beliau bekerja besi di gubuk yang reot ini. Dan bagiku, ini adalah kesempatan yang sangat langka. Karena untuk kembali ke kampung, berikut mendengar pembicaraan Ayah adalah pekerjaan yang hanya mampu kulakukan setahun sekali. Kusadari bahwa kesibukan menjadi dosen sekaligus peneliti di Universitas Nusa Cendana Kupang telah merenggut beberapa bagian kebahagiaanku dalam rangka melihat wajah Ayah. Menyimak petuah-petuah Ayah.
Sementara itu, aroma besi yang tengah dibakar seonggok bara, terasa semakin karib menusuk-nusuk rongga hidungku. Aroma yang sangat akrab menghinggapi hidungku, bahkan telah menyatu dengan aroma keringat tubuhku sewaktu kecil hingga SMA di kampung.
“Dulu, sebelum sampai di Lamahala, ekspedisi leluhur kita sempat juga menyinggahi beberapa tempat, seperti Pulau Alor, Pulau Lembata dan daerah Tanah Boleng. Di setiap daerah persinggahan diturunkan seorang kurir untuk mengecek kepastian apakah tempat tersebut layak dihuni atau tidak. Dipesankan kepada setiap kurir itu bahwa andaikan tugasmu telah berhasil maka pulanglah layaknya seekor burung yang pulang ke sarang, untuk menyampaikan keberhasilan itu supaya kita bisa menetap di tempat itu. Jikalau tidak berhasil, maka menetaplah di situ, layaknya seekor bebek yang tak tahu jalan pulang. Makanya, jangan heran jika di daerah-daerah itu, ada orang yang bermarga Ratu Making. Mereka adalah saudaramu, anak cucu dari para kurir yang tak kunjung pulang itu. Nama Ratu diambil dari nama ekspedisi kita, ekspedisi Ratu. Begitu pun nama Ratu yang melekat pada Ratuloli”.
Ayah masih sibuk mengatur besi-besi panas dalam tumpukan bara yang menyala di tungku. Ia membolak-balikan besi-besi itu dengan menggunakan sebuah Nipat, penjepit yang terbuat dari besi. Sebuah besi lalu diangkat dengan cara dijepit lalu diletakan di atas sebuah besi yang agak besar kemudian dititih dengan menggunakan sebuah martil atau palu.
Bunyi martil bertalu-talu seolah mewakili gemuruh ribuan rasa bersalah dalam dadaku lantaran meninggalkan Ayah seorang diri di kampung. Sebenarnya, aku sudah menyampaikan niatku berkali-kali kepada Ayah untuk bersama-sama dengan aku hidup di Kupang. Tetapi Ayah menolak. “Meskipun Ibumu telah tiada, Ayah tidak bisa meninggalkan rumah ini. Apalagi meninggalkan rok reot ini. Di rok ini Ayah hidup. Karena itu, Ayah ingin, mati pun tetap rok reot ini.” Demikian sebaris kalimat penolakan Ayah yang sungguh sangat mengiris hatiku. Tapi tak apa. Kucoba memaknai penolakan itu sebagai sebuah bentuk pengabdian Ayah terhadap warisan leluhur yang harus selalu ia nyalakan.
******
“Nak, Ayah yakin! Kepulanganmu kali ini adalah kepulangan yang terakhir kalinya untuk melihat Ayah.”
“Maksud, Ayah?”
“Kamu tidak akan melihat Ayah lagi. Ayah sudah mendapat firasat tentang itu. Semalam Ayah bermimpi. Kapal ferry yang kamu tumpangi ke Kupang tenggelam di Laut Sawu. Kamu salah seorang penumpang yang tak bisa terselamatkan.”
“Jadi maksud Ayah, aku meninggal?”
“Justru sebaliknya. Ayah yang akan meninggal.”
“Kenapa Ayah sampai berpikiran seperti itu?”
“Ayah yakin, meskipun selama ini Ayah sakit-sakitan di kampung, Ayah tak boleh meninggal sebelum melihat wajahmu. Ayah ingin menyampaikan sebuah wasiat untukmu. Dan jika wasiat hari ini sanggup Ayah sampaikan kepadamu maka Ayah dapat pergi dengan tenang. Dan Ayah akan sangat berbahagia dan berbangga lagi jika kamu dapat menunaikan wasiat ini.”
“Wasiat apakah itu, Ayah?”
“Ayah ingin kamu terus mewariskan tradisi Pandai Besi ini. Ayah sadar, rok di Lamahala sudah punah. Selain milik Ayah, tak ada lagi Pandai Besi di Lamahala. Apalagi di lain tempat. Sementara Pandai Besi ini adalah salah satu warisan nyata leluhur kita, Ata Mua. Ayah khawatir. Hilangnya rok bisa berakibat pada hilangnya identitas kita. Jika demikian, leluhur kita pasti akan menangis bersedih. Ujung-ujungnya hidup kita tak bisa tenang.”.
Kata-kata Ayah beberapa waktu lalu di rok itu membuat aku semakin percaya bahwa Ayah mampu membaca isyarat kematiannya. Tetapi justru aku sangat bersedih. Betapa tidak. Aku mengenal Ayah sebagai pribadi yang pendiam. Tak ingin mencampuri urusan orang lain seikit pun. Ia sering menasehatiku, “Makan makanan yang kita punya. Cerita persoalan yang kita punya. Jangan makan makanan orang. Jangan cerita persoalan orang”. Dari kalimat ini aku dapat memahami bahwa Ayah lebih merasa nyaman hidup berdampingan dengan orang tanpa harus menjadi benalu bagi orang lain. Sesulit apa pun hidup, haruslah ia sanggupi sendiri.
Lalu dimana aku selama ini, di saat Ayah berada dalam kesulitan? Sementara untuk menyatakan kesulitan hidup merupakan hal yang paling sulit Ayah lakukan. Meskipun kepada aku anaknya sendiri.
Lebih dari itu, aku harus berupaya semampuku agar dapat memenuhi wasiat Ayah. Tetapi aku tinggal di Kupang. Sedangkan rok ada di Lamahala. Dua tempat yang dipisahkan oleh seonggok pulau dan sebentang lautan. Apakah untuk memenuhi wasiat Ayah, aku harus tinggal di Lamahala? Tidak lagi menjadi dosen dan peneliti di Kupang? Tidak mungkin! Tapi jika tetap di Kupang, apa aku dapat memenuhi wasiat Ayah?
******
Aku baru menyadari, ternyata Ayah lebih tahu garis jalan mana yang harus kulalui. Dan di sini, di samping rumahku telah dibangun sebuah perusahaan kecil. Perusahaan yang mampu menghidupi aku dan keluargaku. Juga beberapa karyawanku. Aku sepatutnya berterima kasih kepada Ayah. Berkat wasiat Ayah, akhirnya sebuah perusahaan kecil Pandai Besi “Wasiat Kemuhar” bisa berdiri. “Wasiat Kemuhar” merupakan satu-satunya perusahaan Pandai Besi di Kupang, juga di Pulau Timor.
Terima kasih, Ayah. Meskipun aku akhirnya sadar, engkau hanyalah ayah tiriku.
******
Kupang, 11/12/10
pukul, 14.22
[1] Dua buah bambu besar berdiameter sekitar satu jengkal dan setinggi satu meter lebih. Kedua bambu itu digandengkan berdiri di belakang sebuah tungku pembakar besi. Dalam rongga kedua bambu itu diisi masing-masing sebilah kayu kecil berdiameter sekitar tiga senti meter, dengan ukuran lebih tinggi dari bambu-bambu itu. Di ujung kedua kayu kecil itu diikatkan sepotong kain yang berfungsi menyedot angin dari dalam rongga kemudian menekannya ke arah tungku api yang sedang membara melalui dua besi kecil. Fungsinya, hampir sama seperti orang mengipas api. Di tungku inilah terjadinya pembakaran besi yang selanjutnya akan dipola menjadi parang, tombak, anak panah, pisau, atau peralatan dapur, perkebunan, pertukangan dan peperangan lainnya. Nah, rok ini kemudian dijadikan sebagai nama tempat orang membuat peralatan-peralatan besi atau Pandai Besi.
No comments:
Post a Comment