<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963</id><updated>2011-12-18T02:25:12.649-08:00</updated><category term='Puisi'/><category term='cerpen'/><title type='text'>Komunitas Pena Adonara</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963.post-8626003423470746490</id><published>2011-01-24T03:13:00.001-08:00</published><updated>2011-01-24T03:13:52.257-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>PUISI UNTUK MANTAN PACAR</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;Oleh: Vitus Riantoby&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis datang tanpa dirimu&lt;br /&gt;Genggaman dan binar mata terbayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binar mata pertanda cinta&lt;br /&gt;Hanya untuk diriku dan dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tinggalkan dalam penantian&lt;br /&gt;Jangan lupakan dalam kerinduan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan biarkan tangis tanpa sandaran&lt;br /&gt;jangan biarkan tangis larut dalam gerimis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hapuslah air mata dengan kelembutan&lt;br /&gt;sediakan bahu kasih sayang untuk bersandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekaplah dan biarkan aku menangis&lt;br /&gt;rasakan hanya kasih sayang yang ada&lt;br /&gt;jangan nodai cinta walaupun setitik gerimis!&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6917926512113958963-8626003423470746490?l=penaadonara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/8626003423470746490/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/puisi-untuk-mantan-pacar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/8626003423470746490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/8626003423470746490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/puisi-untuk-mantan-pacar.html' title='PUISI UNTUK MANTAN PACAR'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963.post-1577809917014198643</id><published>2011-01-24T03:05:00.005-08:00</published><updated>2011-02-01T00:09:04.021-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>MIMIN</title><content type='html'>Diriku dan dirimu yang kini terbaring di antara kenangan dan mimpi&lt;br /&gt;adalah simbol kemisteriusan cinta yang sulit kita pahami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(&lt;i&gt;sebuah cerpen dukungan terhadap Komodo sebagai Keajaiban Dunia&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU  TIBA di Pulau Komodo ini setelah menapaki jalan udara. Sebab angin  telah khatam menghantarkan &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;jiwa-ragaku dari Bandar Udara El-Tari Kupang  menuju Bandar Udara Komodo Labuan Bajo, Manggarai Barat-NTT. Hal pertama  yang aku lakukan adalah jalan-jalan di bibir pantai. Sekedar menikmati  matahari terbenam di ufuk barat nusa Komodo; nusa paling barat di Nusa  Tenggara Timur. Menghirup amis pasir yang terkena air laut. Merasakan  angin sore yang berhembus dengan sedikit berat, beraroma kental  makhluk-makhluk pantai. Menyaksikan beberapa perahu nelayan yang  menaikan layar menuju ke tengah samudera -sebagaimana yang dipesankan  oleh nenek moyangku. Mendapati beberapa anak kecil berlarian di pantai,  lalu menceburkan diri di air laut yang pun tak sudi melepas pagut di  antara mereka. Menyaksikan pasir putih di pesisir pantai yang membentang  elok mengkilat bak selendang sutra terurai milik sang permaisuri Pulau  Komodo. Menatap barisan bebukitan menjulang yang berjejer mesra di  dataran rendah yang selalu menantang genit kepada setiap mata yang  memandang. Mungkin berniat mengajak orang yang memandang agar sesegera  mungkin melahap tubuh pesona Pulau Komodo yang cantik menawan. Sedang  pohon-pohon koli[1] berjejal tegar di bebukitan itu, menyimbolkan  ketegaran alam beserta ketegaran penghuni yang ada di Pulau Komodo. &lt;br /&gt;Bagiku,  senja yang merangkak terbenam di ufuk barat melukiskan betapa keindahan  adalah sesuatu yang harus disantap setiap insan. Apatah lagi bagi  jiwa-jiwa yang selama ini telah dikuras keringatnya oleh  kesibukan-kesibukan rutinitas yang menjadikan manusia tak ubahnya  seperti robot-robot bernyawa. Bekerja dikebiri oleh waktu dan  mendapatkan upah dikebiri oleh setumpuk kertas bernilai rupiah.&lt;br /&gt;Sebagai  tahap perkenalan awalku dengan pesona pulau ini, aku mencoba  menenangkan, menyenangkan dan memenangkan otot dan otakku. &amp;nbsp;Aku  memancing di pinggir pantai. Tepatnya di atas fondasi pembatas pantai.  Dan di situlah awal mula pertemuan kita yang telah digariskan di atas  telapak tangan kita masing-masing.&lt;br /&gt;“Maaf, permisi Nona! Apa aku boleh duduk di sini?” Ucapku dengan nada sedikit lebih lembut sebagai pembuka jalur komunikasi.&lt;br /&gt;“Silahkan, Pak!” Jawabmu tenang. Setenang riak-riak yang menghempas di bibir pantai.&lt;br /&gt;Aku kemudian duduk di sampingmu lalu mulai memancing.&lt;br /&gt;“Kalau boleh tahu, Nona orang sini?”&lt;br /&gt;“Iya.”&lt;br /&gt;“Kelihatannya Nona suka memancing, yah?”&lt;br /&gt;“Iya.”&lt;br /&gt;Jawabanmu  selalu saja singkat. Sesingkat senyum yang engkau simpulkan melalui  kedua bibir tipismu yang merekah. Matamu yang jernih sesekali saja  melirik ke arahku. Lirikan seperti puisi yang tak berlarik. Selanjutnya,  engkau kembali berkonsentrasi dengan aktivitas memancingmu.&lt;br /&gt;“O,  iya. Aku hampir lupa. Namaku Gilbert. Aku dari Kupang. Kalau boleh tahu,  nama Nona?” Ujarku sambil mengulurkan tangan tanda meminta perkenalan.&lt;br /&gt;“Mimin.” Balasmu dengan sedikit kaku memegang tanganku sekejap lalu melepaskan.&lt;br /&gt;“Maaf, Nona Mimin kerja yah?”&lt;br /&gt;“Setelah  tamat SMA dua tahun lalu aku tak bisa lagi melanjutkan pendidikan  karena alasan ekonomi. Aku kemudian menjadi penjual ikan. Kerjaku setiap  pagi adalah menunggu ikan yang pulang dibawa para nelayan lalu  menjualnya di pasar.”&lt;br /&gt;“Memangnya mata pencaharian penduduk di sini nelayan?”&lt;br /&gt;“Ya,  sebagian besar penduduk yang tinggal di Pulau Komodo ini adalah nelayan  yang berasal dari Bima (Sumbawa), Manggarai (Flores), dan suku Bajau  Bugis (Sulawesi Selatan). Suku Bajau awalnya suku yang hidup sebagai  pengembara.”&lt;br /&gt;“Apa ada penduduk asli pulau ini?”&lt;br /&gt;“Penduduk  asli Pulau Komodo adalah orang-orang suku Ata Modo. Tapi seiring dengan  pendatang dari daerah yang lain maka darah, adat budaya dan bahasa telah  bercampur dengan pendatang baru.”&lt;br /&gt;“Wah, nampaknya saya sedang berhadapan dengan orang yang tidak salah. Penjelasan Nona cukup jelas dan padat.”&lt;br /&gt;Dan  engkau pun kembali menyembunyikan senyum termanismu. Menunduk  membetulkan sarungmu yang tak berantakan sedikit pun. Sarung itu  merupakan jahitan dari tenun khas daerahmu. Aku mendapati rambutmu yang  dibiarkan terurai perlahan dihempas angin sepoi-sepoi sore hari.&lt;br /&gt;Tetapi  ada getaran aneh yang mulai bermain di dadaku. Jujur, sebagai seorang  lelaki, apalagi jejaka, aku cukup peka memahami rasa yang mulai  berkecamuk di dada. Sepertinya aku sedang jatuh cinta. Persisnya, jatuh  cinta pada pandangan dan pendengaran pertama. Pandangan pertama karena  senyum menawanmu yang pertama kali kau lemparkan tatkala menyebutkan  namamu. Sedangkan pendengaran pertamaku karena penuturanmu tentang  kehidupan sosial penduduk di tempatmu yang menurutku begitu runtun dan  terkesan ilmiah. Tapi, sesegera mungkin aku tepis perasaan itu. Aku  hanyalah orang baru di sini. Orang yang hanya datang untuk melakukan  penelitian di Pulau Komodo. Tapi aku pun sampai pada sebuah pikiran  picis, apakah salah jika cintaku bersemi di Pulau Komodo?&lt;br /&gt;“O iya,  Nona. Katanya Pulau ini terkenal dengan komodonya? Binatang yang pertama  kali dipublikasikan pada tahun 1912 di harian nasional Hindia Belanda  oleh Peter A. Ouwens, direktur Museum Zoologi Bogor. Apa benar ada?”&lt;br /&gt;“Komodo atau &lt;i&gt;Varanus Komodoensis&lt;/i&gt;  atau Komodo Dragon atau Ora, penyebutan bagi orang kami, hidup dan  berkembang biak di sini. Ia binatang khas yang dilindungi oleh  pemerintah dan masyarakat. Panjang tubuhnya mencapai 2-3 meter,&amp;nbsp; dengan  berat hingga 70-100 kilogram.”&lt;br /&gt;“Memangnya dimana tempat hidupnya?”&lt;br /&gt;“Komodo  menyukai tempat panas dan kering. Ia hidup di daerah sabana atau hutan  tropis pada ketinggian rendah. Jika malam tiba, komodo bersarang di  lubang dengan dalam 1-3 meter sambil menjaga panas tubuhnya di malam  hari.”&lt;br /&gt;“Lalu makanannya apa saja?”&lt;br /&gt;“Makanan komodo antara  lain: kambing, rusa, babi hutan, dan burung. Tapi harus diingat, dalam  keadaan tertentu, meskipun komodo adalah karnivora namun ia dapat  berperilaku kanibal dengan memangsa Komodo lainnya. Indera penciuman  pada lidahnya bisa ia gunakan untuk mendeteksi bangkai mangsanya hingga  sejauh 9 kilometer. Tidak hanya itu, gigitannya yang mengandung racun  dan bakteri yang mematikan, ditambah cakar depannya yang tajam merupakan  senjata alaminya untuk memangsa.”&lt;br /&gt;“Apa ada ciri khasnya yang  mampu membedakan komodo dengan reptil lainnya?” Aku terus memburumu  dengan amunisi-amunisi pertanyaan yang semakin ilmiah.&lt;br /&gt;“Komodo  juga mampu berlari 20 kilometer per jam dalam jarak yang pendek. Ia juga  memanjat pohon, berenang, bahkan menyelam. Ia berkembang biak dengan  bertelur. Akan tetapi, ada sebuah penelitian yang membuktikan terdapat  cara lain komodo melakukan berkembang biak, yakni dengan cara  partenogenesis.”&lt;br /&gt;“Partenogenesis? Maksudnya?”&lt;br /&gt;“Maksudnya  komodo betina bisa menghasilkan telur tanpa dibuahi oleh jantan. Nah,  diduga karena partenogenesis inilah yang telah menyelamatkan komodo dari  kepunahan.”&lt;br /&gt;“Wah, sekali lagi aku salut akan pengetahuan Nona. Aku salut.”&lt;br /&gt;Dan  bisu perlahan menyusup. Tanpa jawaban, engkau kembali tertunduk.  Menyembunyikan senyum manismu yang kekanak-kanakan. Dan hal itulah yang  membuat aku semakin tak kuasa menahan loncatan jantung di dalam tubuhku.  Mungkin jantungku ikut memberikan dukungan persetujuan bahagia atas apa  yang tengah aku rasakan. Ah, aku harus sadar; aku orang asing.&lt;br /&gt;Tiba-tiba sebuah kejadian menghentakkan kita dari sunyi. Tali pancingmu terasa bergerak-gerak.&lt;br /&gt;“Aduh, Pak. Tolong aku.” teriakmu seketika sambil terus memegang alat pancing yang bergerak-gerak semakin tak beraturan. &lt;br /&gt;Aku yang sebelumnya diliput lamun lantas tersadar. Sedikit agak panik. Berdiri mendekatimu.&lt;br /&gt;“Kamu  pasti dapat ikan besar! Mari kubantu!” seruku, langsung berdiri  dibelakangmu. Memegang kedua tanganmu yang sebelumnya telah memegang  alat pancing, lalu mengerahkan seluruh tenaga untuk menarik tali  pancing.&lt;br /&gt;Saking kuatnya tarikan yang kita lakukan, tanpa terasa tiba-tiba tali pancing itu terputus.&lt;br /&gt;“Ahhhhh!!!!!” teriakmu hiteris. Dan kita terpelanting jatuh ke belakang, di atas fondasi pembatas pantai.&lt;br /&gt;Tanpa  sengaja tubuhmu yang terpelanting dan menengadah ke atas, menindis  tubuhku yang sedang dalam keadaan terlentang pula. Untuk beberapa detik  hanya bisu yang berbicara. Dan selanjutnya, secepat kilat engkau berdiri  sembari melepaskan alat pancing. Membersihkan sarung khas daerahmu yang  sempat terkena pasir. Engkau menatapku. Dan aku yang masih terlentang  di atas fondasi pembatas pantai itu, hanya mampu menatapmu dengan mimik  serius. Memastikan bahwa engkau dalam keadaan baik adanya. Memastikan  bahwa engkau tak marah padaku.&lt;br /&gt;Namun seulas senyum pun mulai  mengembang dari bibir tipismu. Engkau tertawa kecil melihat aku yang  jatuh terperosok. Dan spontan aku pun ikut tersenyum kecil. Entah  senyuman yang bermakna apa, aku juga kurang memahami. Yang jelas bagiku,  aku tersenyum karena melihatmu tersenyum. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  tiba-tiba sedikit marah karena tanpa diundang malam datang bertandang  di antara monumen kekariban yang susah payah mulai kita bangun. Malam  kemudian menjelma serupa drakula yang bersiap mengisap darah di antara  kita. Drakula yang sedianya mencabut nyawa tanpa mafhum bahwa kematian  adalah penyelesaian dari segala proses kehidupan di dunia. Dan malam  menjadi benteng pemisah jarak di antara kedua pulau hati kita yang  tengah rimbun kini. Padahal aku telah berniat untuk segera mungkin  membangun jembatan Suramadu di antara hati kita. Biar batin kita menjadi  lebih dekat, lekat, erat dan lebih hebat memikat. Namun apa nak dikata,  kelapangdadaan untuk merelakan kepergianmu menjadi dewi fortuna yang  lebih laik berperan di tengah geteran-getaran batinku untuk  mengungkapkan perasaanku kepadamu. &lt;br /&gt;Dan kepergianmu malam itu  menjadi kepergianmu yang pertama sekaligus kepergian yang terakhir dari  pandangan mataku. Sebab besok petang dan petang-petang selanjutnya, aku  tak lagi menemukan senyum manis yang engkau simpulkan di antara bibir  tipis serta lesung pipitmu. Engkau pergi membawa semua kisah senja yang  kita ukir kemarin. Dan aku disini, di atas fondasi pantai Pulau Komodo,  aku masih setia menantimu pulang membawa senyum itu. Pulang membawa  seluruh cerita tentang penduduk di pulau ini, tentang komodo yang selalu  kau idolakan dan tentang tali pancing yang terputus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupang, November 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Nama lain dari pohon tuak. Buahnya bisa diolah menjadi tuak; minuman tradisional yang dapat menyebabkan mabuk&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6917926512113958963-1577809917014198643?l=penaadonara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/1577809917014198643/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/mimin.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/1577809917014198643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/1577809917014198643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/mimin.html' title='MIMIN'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963.post-270238699841438588</id><published>2011-01-24T03:05:00.001-08:00</published><updated>2011-02-01T00:21:03.527-08:00</updated><title type='text'>MATINYA MATA HATI</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sebuah Cerpen Oleh Pion Ratulolly&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  bergegas menarik jangkar dan menaikan layar sampan[1]ku. Malam ini juga  aku harus pulang ke rumah. Aku memutuskan untuk berhenti memancing.  Bukan lantaran tak satu pun ikan yang kutangkap semenjak &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;petang tadi.  Bukan pula karena dingin dan pekat langit Selat Solor yang sedari tadi  mesra menyelimutiku. Juga tidak karena ingin menghadiri pesta resepsi  pernikahan di samping rumahku yang mendatangkan artis lokal pemusik  gambus[2] sekaligus penyanyi &lt;i&gt;hurreng&lt;b&gt;[3]&lt;/b&gt; &lt;/i&gt;yang  sempat sukses di ibukota negara. Aku pulang oleh sebab mata ini memerah  melihat kampungku, Lamahala, terbakar. Si jago merah menjilat-jilat  marah di hampir semua sisi kampung. Mulai dari dusun satu, Merdeka,  sampai dusun enam, Batu-Bata. Kobarannya tak kecil. Tak seperti  kebakaran hutan yang kerap terjadi di pedalaman Sumatera. Tak juga  serupa kebakaran hebat di kompleks perumahan masyarakat kumuh di Jakarta  akibat ledakan gas elpiji. Aku seolah menyaksikan api neraka tengah  menyala-nyala di dalam palung &amp;nbsp;kampungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejurus dengan  itu, gendang telingaku pun seolah menangkap bebunyian aneh. Seperti  bunyi-bunyian gong. Tak hanya satu kali namun berulang kali. Dan  bunyinya sayup-sayup terdengar dari arah kampungku. Bunyi-bunyian yang  dihasilkan bukan untuk pementasan atau hiburan. Bunyi-bunyian yang  terkesan aneh dan mistis. Membuat bulu kudukku terus bergidik tegak. Tak  hanya habis di situ, raungan burung-burung hantu yang membahana dan  bersahut-sahutan di atas cakrawala malam, seperti memanggil-manggil aku  agar cepat kembali ke kampung. Menengok dan membantu kampungku yang  tengah dilanda malapetaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka lancang kuning pun  bergegas kulayarkan kencang menuju Pulau Adonara. Sekencang degup  jantung yang bercokol di dalam dadaku. Aku tak lagi sabar ingin  menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi dengan tanah darahku tertumpah.  Dan kecepatan layar sampan ini masih membuatku tak yakin cepat sampai.  Maka kuperbantukan dengan mengayuh. Semakin cepat. Semakin dekat.  Semakin cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, alangkah terkejut sungguh diriku.  Tatkala sampan yang kutumpangi semakin dekat merapat mencium bibir  pantai. Kobaran-kobaran itu perlahan sirna. Semakin sirna, sirna dan  menghilang tak tinggalkan bekas. Begitu pun bunyi gong. Perlahan tak  terdengar, hilang, lengang dan bisu pun menghinggapku. Aku seakan  ditikam seribu tombak kengerian yang tak terperi. Betapa tidak. Hati  siapa yang tak janggal dan ngeri mendapati suatu bencana yang sebelumnya  terjadi dengan begitu dahsyat, tiba-tiba sirna begitu saja. Kalaulah  bencana itu sudah selesai pasti meninggalkan bekas. Tetapi ini?  Jangankan bekas, tanda-tanda terjadinya suatu bencana pun tak nampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka  berbekal seribu tombak kengerian sekaligus panah penasaran yang terus  menerus menancap di dada, aku bergegas menuju rumahku. Kutemukan tak ada  sesuatu hal yang lain. Semuanya biasa saja. Tak ada malapetaka. Bahkan  suasana di sebelah rumahku yang tengah mengadakan resepsi pernikahan  menambah kontradiktif pemandanganku sebelumnya. Pesta berlangsung meriah  dan gembira. Kedua penganting bersanding ria di pelaminan sambil  memamerkan keanggunan dan kemegahan pestanya. Tetamu yang hadir pun  semakin mendukung kemeriahan itu. Malah beberapa pemuda dalam satu  lingkaran, tengah meneguk tuak[4]; minuman perdaiaman. Beberapa lainnya  tengah tertipu daya oleh suara saundsystem yang hampir memekakan  telinga. Mereka meliuk-liukan tubuh sambil&amp;nbsp; meracau-racau tak tentu.  Betapa wilayah kekuasaan surga dan neraka menjadi tak ada batas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa  yang sebenarnya telah terjadi? Mengapa tak ada kebakaran? Dan bunyi  gong itu? Apa yang telah terjadi denganku? Apa aku sedang sakit jiwa?  Ataukah? Tetapi, tiba-tiba saja aku mencium aroma kemenyan. Ah, ada apa  lagi ini? Apa ada pesta resepsi pernikahan yang menggunakan kemenyan  untuk mengiringi orang berjoget? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapa! Bapa! Bangun!” suara itu menggoncang-goncang tubuhku yang tengah terlelap.&lt;br /&gt;“Iya, iya!”&lt;br /&gt;“Opu Laga, Bapa!”&lt;br /&gt;“Opu Laga kenapa?”&lt;br /&gt;“Opu Laga tertombak. Sekarang ia dibawa ke puskesmas.”&lt;br /&gt;“Hah???”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  spontan bangkit dari tidurku. Kampung Lamahala terbakar serta  kemeriahan pesta seketika memudar. Kucoba mengumpulkan ingatanku yang  tersisa. Ah, ternyata peristiwa yang terjadi tadi hanyalah bunga tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, istriku ada di sampingku. Wajahnya pucat. Air matanya mencuat deras dari kedua kelopak matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Ma? Apa yang terjadi Opu Laga?” Aku mendekati istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Opu  Laga tertombak di kebunnya. Ia ditemukan oleh Opu Subhan pagi tadi,  sedang terkapar bersimbah darah. Dan ia langsung dilarikan ke puskesmas  Waiwerang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Astaga!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa banyak tanya,  segera kuraih panah dan busur, tombak serta parang. Secepat kilat,  kuayunkan langkah menuju pintu depan. Baru saja aku membuka pintu,  keriuhan langsung menghinggapi telingaku. Orang-orang berlarian panik ke  sana-kemari. Sama seperti diriku, para lelaki menggenggam parang dan  tombak. Di punggung mereka terkalung busur. Sementara anak-anak panah  berjejal di belakang, sebagaimana kelengkapan para hulubalang kerajaan  Lamahala yang siap berperang. Para lelaki itu, termasuk diriku, berlari  menuju ujung utara kampung. Menuju kebun Opu Laga. Dan aku pun mengikuti  mereka sambil diliputi ketaktahuanku atas apa yang akan aku lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan  peperangan benar-benar terjadi di depan mataku. Dan aku termasuk salah  satu prajurit perang itu. Aku belum terlalu tahu, apa pasal peperangan  ini. Yang kutahu hanya karena Opu Laga tertombak dan mungkin karena  merasa tak puas, kami pun balik menyerang mereka. Mereka? Siapa mereka?  Aku tak tahu. Yang kutahu, mereka adalah orang-orang yang tak kukenal  sedikit pun, baik dari wajah maupun penampilan. Karena itu, mereka  adalah musuhku. Musuh bagi orang-orang yang kukenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara  itu, anak-anak panah berhamburan di udara layaknya kembang api yang  merekah di langit malam. Anak-anak panah itu menyerang ke arah kedua  kubu. Menikam beberapa tubuh. Lalu dari tubuh-tubuh itu darah seketika  menyembur. Tubuh-tubuh itu roboh, tumbang dan terkapar. Beberapa teman  seperjuangannya datang lalu membopong tubuh itu. Membawa mundur ke  belakang. Sedang beberapa orang lainnya terus menyerang –kalaupun tidak  maka hanya bertahan. Tak hanya panah, tombak dan parang juga betul-betul  dimanfaatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku masih mengendap-endap di antara  semak belukar. Bersembunyi sambil mencari-cari cara untuk menyerang.  Sasaranku adalah seorang tua tadi yang sempat menghujam tombak ke arah  teman seperjuanganku. Dan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ukhhhhhh!!!!!!!” &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika  aku berhasil mendaratkan sebuah anak panah ke dada orang tua itu. Ia  berteriak histeris. Mengerang kesakitan lalu tumbang. Dan perlahan  menghilang di balik semak. Lantas beberapa kawannya datang menarik tubuh  terkaparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana Girek? Kau masih aman?” Nana Radja, sang panglima perang memastikan keselamatanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri. “Ya, aku masih aman. Tadi aku sempat memanah seseorang. Dan… ukkkhhhhhh!!!!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  menjerit. Sebuah anak panah tiba-tiba menancap tajam di dadaku.  Darah-darah menyembur. Aku tumbang. Kepalaku pusing. Pengelihatanku  kabur. Hilang. Sirna. Dan tiba-tiba seseorang menarik tubuhku ke  belakang. Dan mataku pun tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupang, 18 November 2010&lt;br /&gt;(Mengenang perang tanding di Adonara antara Lamahala dan Horowura, pada 07 Maret 2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;PRAHARA ADONARA&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Karya Pion Ratulolly&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kisah klasik itu tiba-tiba memuncratkan prahara&lt;br /&gt;dari perut bumi Lamahala-Horowura&lt;br /&gt;betapa muncul riwayat purba berdarah&lt;br /&gt;lantaran pangkal adalah amarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tatkala yang bicara hanyalah senapan, panah, tombak dan parang&lt;br /&gt;maka perang tanding tak paling berpaling&lt;br /&gt;silang sikut, saling serang&lt;br /&gt;menjadi ajang maha berang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tetesan-tetesan keringat, darah dan air mata&lt;br /&gt;kian karib mengalir di mana-mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bumi Adonara menangis&lt;br /&gt;tumpahkan air mata darah dan tragis&lt;br /&gt;sejauh mana tapal batas kemanusiaan seseorang,&lt;br /&gt;ketika darah menjadi halal di ujung parang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita telah jauh menapak&lt;br /&gt;melewati ruas-ruas jarak tak berjejak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cobalah tengok ke belakang&lt;br /&gt;sesungguhnya kita adalah saudara&lt;br /&gt;maka damaikanlah di antara keduanya&lt;br /&gt;dalam bingkai naju-baja[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pion  Ratulolly, peserta MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara) bidang novel  di Kupang. Peserta PEKSIMINAS (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) IX di  Jambi. Peserta TSI (Temu Sastrawan Indonesia) III di Tanjung Pinang.  Penulis novel “atma” Putih Cinta Lamahala Kupang. Manager pada Laskar  Sastra Kupang Management. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Sejenis perahu  tetapi bentuknya agak kecil dengan beberapa ikatan bambu di kedua  sisinya yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan sampan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Salah satu alat musik tradisional yang dimainkan dengan memetik seperti gitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]Salah  satu jenis nyanyian tradisional yang biasanya berisi hikayat atau  cerita-cerita lokal atau pantun yang dinyanyikan dengan diiringi gambus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Minuman tradisional yang bisa menyebabkan mabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] sebuah paham klasik masyarakat Lamahala-Horowura yang berasumsi bahwa kedua desa ini sejatinya adalah desa bersaudara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6917926512113958963-270238699841438588?l=penaadonara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/270238699841438588/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/matinya-mata-hati.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/270238699841438588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/270238699841438588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/matinya-mata-hati.html' title='MATINYA MATA HATI'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963.post-9092982916949706646</id><published>2011-01-24T03:04:00.001-08:00</published><updated>2011-02-01T00:27:16.430-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>LELAKI BERTAHI LALAT DI PINGGANG</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sebuah Cerpen Oleh Pion Ratulolly&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Wae&lt;b&gt;[1]&lt;/b&gt;,&lt;/i&gt;  perempuan Adonara itu seperti gading. Sebagaimana gading yang dijadikan  sebagai belis[2] &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;seorang gadis Adonara dalam sebuah pernikahan. Tahu  kau kenapa gading dijadikan belis? Padahal, gading &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt; tidak  ada di Pulau Pembunuh[3] ini. Jangankan gading, gajah saja tak sudi  menghirup udara pengap di sini. Nah, oleh karena betapa sulit dan  susahnya mendapatkan gading di Adonara inilah maka para leluhur kita  menjadikan gading sebagai belis. Sulit mendapatkan gading di Adonara,  sesulit itu pula mendapatkan seorang gadis Adonara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan  itu masih saja menjahit mulutnya. Tangannya masih juga cekat dan cermat  mengambil beberapa butir jagung panas yang digoreng tanpa minyak dalam  sebuah belanga, lalu menitih jagung-jagung itu di atas sebuah batu  gunung yang besar dengan menggunakan sebuah batu gunung pula seukuran  satu genggaman. Jagung-jagung itu dititih dengan sekuat tenaga  perempuannya. Lalu ia pindahkan jagung hasil titihan itu ke dalam sebuah  nyiru[4].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak banyak cakap. Percuma saja ia bicara.  Toh pembicaraannya tak pernah digubris oleh radio usang yang sedang  berleha-leha di atas kursi goyang ini. Ya, ia menyebut seorang lelaki  -tepatnya adalah pamannya- dengan sebutan radio usang. Betapa tidak.  Semenjak awal perempuan itu menyalakan tungku, radio usang itu mulai  mengudara. Sampai saat ini pun ia masih saja semangat terbang mengudara.  Mengudarakan tutur-tutur klassik etnik yang sulit ditampung oleh  tempurung kepala perempuan itu. Padahal perut perempuan itu sudah sangat  sulit diajak berkompromi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua hari ini ia keluar  masuk rumah. Sekaligus keluar masuk kampung. Tetapi ia tak mau makan  nasi. Padahal nasi selalu disediakan pamanya satu kali dua puluh empat  jam di atas meja bambu ruang makan. Bagaimana nafsu makannya bisa terbit  jika perutnya telah dikenyangkan oleh umpatan. Begitu pun hatinya,  telah lahap dibakar api sindir para tetangga. Pun gelombang cemooh dan  cibir telah menenggelamkan air matanya yang hanya bersumber dari kedua  kelopak matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebuah riwayat menuturkan. Konon, ada  seorang gadis pingitan di Adonara keluar rumah untuk membeli ikan di  pasar. Sesampai di pasar, tanpa sadar ia membuang angin. Dan setelah  menengok ke belakang, ia menemukan seorang pemuda sedang menutup hidung  sambil menatap ke arahnya. Gadis itu berlari pulang sekencang mungkin  menuju rumahnya. Ia bagai menampar muka sendiri. Sungguh ia sangat malu  besar. Maka si gadis kemudian mengadukan peristiwa itu kepada ayahnya.  Anehnya, perempuan itu meminta ayahnya untuk segera menemui sang pemuda  tersebut, lalu memaksa sang pemuda untuk menikahi si gadis. Kenapa  begitu? Sungguh ia tidak ingin aibnya diketahui orang lain selain orang  yang bakal dan pasti menjadi suaminya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu  masih menitih jagung. Pastinya, jagung titih itu hanya bisa ia santap  untuk menghilangkan laparnya selama ini. Tidak untuk mengenyangkan.  Namun, bunyi titihan jagung serta benturan kedua batu gunung itu terasa  berdentum-dentum di dada perempuan itu. Dadanya seolah hendak meledakkan  lahar amarah. Ia berupaya membendung darahnya yang perlahan-lahan  mengalir naik. Tetapi semakin dibendung, darahnya seolah-olah menerobos  keluar dari ubun-ubun. &lt;i&gt;Apa dia kira selama ini aku bisu. Atau aku tak punya nyali untuk melabrak mulut cerewetnya yang terus meracau tanpa henti ini. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu  kenapa kau masih saja tak punya malu saat kerap kali kau pergi dan  pulang dari rumah ini tak kenal waktu. Juga tak kenal pamit. Apa kau  kira rumah ini tak ubahnya seperti terminal Waiwerang, yang semaunya  saja kau datang, singgah lalu pergi tanpa jejak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jagung  pun kembali dititih perempuan itu. Dan kini, petuah itu telah berubah  menjadi ribuan teluh di dada perempuan itu. Ia tertusuk. Sakit. Tetapi  apa nak dikata. Ada keinginan untuk mengklarifikasi tuduhan itu. Tetapi  masih saja malaikat kebaikan berhasil membisikan kalimat kebajikan. &lt;i&gt;Jangan  kau merasakan sakitnya jarum fitnah itu sebagai duka. Nikmatilah ia  sebagai sebatang pisau suka, yang nantinya akan kau gunakan untuk  membunuh &amp;nbsp;kejahatan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kedua batu gunung itu masih bertalu-talu.&lt;br /&gt;“Ingatlah,  dulu ibumu mati berkafankan malu bernisankan kecewa lantaran memikirkan  perangaimu yang telah berubah jauh seratus delapan puluh derajat. Kau  bercinta dengan lelaki yang tak jelas asal-usulnya lalu kedapatan oleh  warga dan kalian akhirnya dihakimi oleh massa. Lelaki itu pun pergi  meninggalkanmu tak jelas rimba-rayanya. Meninggalkan benih-benih dosa di  dalam perutmu yang kini telah menetaskan seorang lelaki penjahat pula.  Apa kau telah pikun? Atau kau pura-pura lupa untuk memikirkan itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Memangnya dia pikir selama ini aku belum terlalu tebal muka menemui sesosok makhluk yang bernama sindir?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat  kebaikan seakan pasrah membujuk perempuan ayu dengan mata yang tajam  serta dagu terbelah dan &amp;nbsp;rambut panjang tergerai sepinggang ini. Tetapi,  tiba-tiba sesuatu hendak meletus dari dalam diri perempuan itu. Bukan  amarah. Tetapi hanya sesembur air. Tepatnya ai mata. Sebuah air mata  yang mengalirkan mata air aib dari dalam sungai suci kedua kelopak  matanya. Tetapi hanya air mata saja yang ia bisa keluarkan. Tidak ada  suara. Pun ratapan. Apalagi raungan. Layaknya tangis yang tertahan.  Ironisnya, rautnya tak sedih. Namun kemarahan yang bangkit  menyala-nyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu kenapa kau masih saja suka jalan. Mau  kau cari lelaki mana lagi yang dapat membuatmu bahagia sekaligus  membuat keluargamu malu? Apa kakimu sudah dikotori oleh tahi lalat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahi  lalat! Ya, tahi lalat adalah sebuah tanda lahir tetapi memiliki makna.  Jika ia ada di kaki artinya dia kuat jalan. Jika ada di tangan artinya  suka mengambil barang orang. Jika ada di belakang pinggang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perempuan itu pun sekejap mengekalkan air matanya menjadi lautan merah. Ia mengeja-eja kembali ingatannya. &lt;i&gt;Tahi lalat di belakang pinggang?&amp;nbsp;&lt;/i&gt;  Maka malaikat kebaikan pun bergegas ia bunuh dengan mata pisau  kebengisan. Perempuan itu berdiri. Menatap marah ke arah radio usang  itu. Dan api yang sebelumnya menyala-nyala dalam tungku, kini  menyala-nyala dalam hati dendamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangsat! Biadad! Kau bilang aku tak bermoral? Kau kata aku tak bersusila?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan… “Bruukkk!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah  batu gunung segenggaman terbang melayang dari seorang perempuan yang  selama ini bisu, mendarat telak persis di kepala lelaki itu. Sebuah  lemparan keras yang mewakili api kebencian dan magma dendam yang selama  ini menggelora dalam batinnya. Ia masih terngiang dengan perkataan  pamanya dua minggu lalu, &lt;i&gt;harga diri adalah harga yang menentukan harga mati seorang gadis Adonara&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka  lelaki itu pun berlari keluar rumah. Berlari dengan kepala yang pening  tak terkira sambil bersimbah darah siang yang tak berhenti menyemprot.  Tubuhnya seakan tak kuasa lagi ia kuasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Woi!!! Semua!!! Ada yang berjinah lagi!!! Ada yang kembali berjinah!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika,  halaman rumah lelaki itu dipenuhi dengan manusia desa serupa lalat yang  mengerumuni bangkai. Semuanya mendengar persis suara Ama Puru, sang  kepala desa, tokoh terpandang, terhormat, disegani, suka memberi nasehat  dan membagi tutur nilai-nilai luhur etik Adonara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia  lelaki yang pernah meneriakan peristiwa perjinahan keponakannya sendiri.  Dan bagi mereka yang pernah mendengar teriakan Ama Puru sebelumnya,  mereka tak ingin letih bertanya, siapa lagi orang yang telah berjinah  kalau bukan Tuto; perempuan ayu dengan mata yang tajam serta dagu  terbelah dan&amp;nbsp; rambut panjang tergerai sepinggang . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Massa  yang datang pun langsung menyerbu rumah itu. Mereka, baik lelaki dan  perempuan, berebutan masuk ke dalam dan menuju ke sesosok perempuan yang  tengah duduk bersandar di samping kursi goyang dengan mata membelalak.  Di perut perempuan itu tertancap sebuah pisau. Sebuah pisau pembunuh  diri. Dan sebuah proses penyelesaian masalah yang sangat singkat dan  tragis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu mengakhiri hidupnya dengan sebuah  pisau dapur yang pernah digunakan lelaki bertopeng sarung dengan tahi  lalat di belakang pinggang, &amp;nbsp;untuk mengancam dirinya sebelum  menggagahinya pada suatu malam hujan. Selepas menggagahinya, lelaki  bertopeng sarung itu membuang perempuan yang tengah keletihan sehabis  melayani setan yang haus darah perawan itu, di belakang rumah. Dan  seorang lelaki baik-baik kemudian menemukan perempuan itu. Tetapi naas,  lelaki baik-baik itu tak bernasib baik. Ia diteriaki oleh paman  perempuan itu. Tepatnya, ia difitnah. Sama kadar fitnahnya dengan  perempuan itu yang terlanjur malu. Maka sempurnalah kepedihan daging  yang demikian perih yang dirasakan oleh perempuan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan  malam ini tak ada lagi lelaki baik itu. Tak ada lagi lelaki bertopeng  sarung dan bertahi lalat di pinggang. Tak ada lagi fitnah. Tak ada lagi  penderitaan. Yang ada hanyalah seonggok mayat seorang wanita yang tak  ingin dikubur oleh siapapun. Yang dibiarkan menjadi bangkai yang  membusuk dan akan dimakan anjing-anjing yang haus darah tak perawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan  itu pergi bersama sebuah kisah misteri yang ia simpan rapi sekaligus  rapuh. Tentang pemerkosaan dirinya pada suatu malam hujan. Tentang  lelaki bertopeng sarung yang bertahi lalat di pinggang. Tentang lelaki  baik-baik yang menolongnya. Tentang pamannya yang meneriakan sebuah  fitnah. Tentang pamannya yang bertahi lalat di belakang pinggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupang, 20 November 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pion  Ratulolly, peserta MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara) bidang novel  di Kupang. Peserta PEKSIMINAS (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) IX di  Jambi. Peserta TSI (Temu Sastrawan Indonesia) III di Tanjung Pinang.  Penulis novel “atma” Putih Cinta Lamahala Kupang. Manager pada Laskar  Sastra Kupang Management. &amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Sapaan kepada keponakan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]  Persyaratan peminangan seorang gadis. Terdapat sedikit perbedaan  pandangan –untuk tidak menyebut kesalahan persepsi- terkait dengan  belis. Masyarakat pedalaman (ata kiwan) di Adonara memahaminya sebagai  seperangkat mas kawin dalam pernikahan. Sedangkan masyarakat pesisir  (ata watan) memahaminya sebagai salah satu kelengkapan persyaratan  peminangan secara adat karena masyarakat pesisir menggunakan mas kawin  lain yang lebih dianjurkan oleh agama (Islam), seperti; seperangkat alat  sholat, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Dalam catatan perjalanan Prof. Dr.  Ernst Vatter sekitar tahun 1929-1930, yang direkam dalam bukunya "Ata  Kiwan" (judul aslinya: &lt;i&gt;Unbekannte Bergvolker im Tropichen Holland&lt;/i&gt;), antropolog ini menyebut Adonara sebagai "pulau pembunuh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]  Nama lain dari badang, ayakan, tampian, tampah atau penampi (yang  digunakan untuk menapis beras. Nyiru terbuat dari rotan atau bambu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6917926512113958963-9092982916949706646?l=penaadonara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/9092982916949706646/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/lelaki-bertahi-lalat-di-pinggang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/9092982916949706646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/9092982916949706646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/lelaki-bertahi-lalat-di-pinggang.html' title='LELAKI BERTAHI LALAT DI PINGGANG'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963.post-2940021887654908514</id><published>2011-01-24T03:03:00.000-08:00</published><updated>2011-02-01T00:26:46.034-08:00</updated><title type='text'>AROMA BAU LOLON [1]</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sebuah Cerpen Oleh Pion Ratulolly&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALAM  yang hujan. Kilat dan gemuruh berantrian memotret keresahan serta  meledak-ledakan perasaan kalutku. Dan air mata adalah lautan perasaan  takut dan cemas yang sangat dalam. Aku belum berani &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;mengetuk pintu rumah  ini. Padahal pintu ini adalah pintu rumahku. Rumah yang telah  membesarkan ragaku. Sekaligus membesarkan hatiku untuk meninggalkan  penghuni rumah ini. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah  berijab-qabul menghadirkanku ke dunia ini. Mereka adalah Ayah dan ibuku.  Ayah, yang selalu kupinta bahunya untuk bersandar. Dan ibu, tempat aku  menumpahkan isi hatiku sekaligus menumpahkan isi mata air yang mengalir  dari dalam kelopak mataku. Keduanya merupakan tempat aku menenun  benang-benang lara menjadi sebuah &lt;i&gt;kewatak&lt;b&gt;[2]&lt;/b&gt; &lt;/i&gt;senyuman. Bahkan tawa yang kekanak-kanakan pun dapat terajut indah menawan jika bersama mereka. &amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi  tidak untuk sepuluh tahun lalu. Di saat aku terpaksa meninggalkan  mereka untuk suatu perkara yang pelik. Sepelik keengganan mereka untuk  sebuah kebahagiaanku. Sungguh aku tak menginginkan semua ini jika masih  ada pilihan lain yang mungkin masih lebih layak. Sayang, kepergianku ini  &amp;nbsp;adalah sebuah samudera kebahagiaan yang maha luas. Namun samudera  kebahagiaan ini harus memisahkan dua pulau kasih sayang. Pulau kasih  sayang kedua orang tuaku -yang selama ini telah membesarkan aku dengan  air susu cinta- dengan pulau kasih sayang kekasihku yang berikrar  memberikan sejuta harapan indah di perantauan masa depan. Meskipun aku  mafhum bahwa kepergianku ini adalah metode pendurhakaanku dengan cara  yang santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah tak merestuimu jika kamu menikah dengan  Kelake. Apa matamu sudah terlalu rabun untuk membedakan mana lelaki  yang telah beristri-anak dan lelaki yang masih perjaka. Di kampung kita &lt;i&gt;kan &lt;/i&gt;masih&lt;i&gt; &lt;/i&gt;banyak perjaka. Apalagi &lt;i&gt;kenale-kenale&lt;b&gt;[3]&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;mu. Ayah hanya mau melihat kamu hidup bahagia dengan perjaka. Menikahlah dengan Mamun!” &amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan  hari kemarin laksana gunung penyesalan yang telah pongah kutapaki.  Kalimat-kalimat sejenis yang keluar dari bibir ayah kembali menyusup  masuk ke dalam ruang diamku. Kalimat itu tidak sekedar saran. Semacam  fatwa. Harus didengar dan diikuti. Tetapi getaran di hatiku bernada  lain. Seirama sebuah nada pembangkangan. Bukan aku tak mau menikah  dengan perjaka. Apalagi dengan &lt;i&gt;kenale&lt;/i&gt;. Tetapi ini persoalan rasa. Layaknya pilihan antara sayur asam atau ikan asin untuk sebuah selera makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah  curiga jangan-jangan kau telah diguna-gunai Kelake? Lihat saja, hanya  kau yang bersikeras menikah dengannya. Sedangkan dia? Sampai detik ini  pun keluarganya tak pernah bertandang ke rumah untuk meminangmu. Apa ini  bukan sebuah bukti ketakcintaannya kepadamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bukan  tak mau. Keluarganya mau, Ayah. Tetapi takut. Takut akan ditolak. Karena  keluarga Kelake tak punya apa-apa. Sementara, Ayah telah mematok daftar  persyaratan pelamaranku; Lima batang gading untuk belis, tiga ekor  kambing untuk mememuliakan pamanku, serta uang sepuluh juta untuk uang  air susu ibu. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku tak mengetuk pintu  ini maka mustahil aku bisa masuk. Di luar sini hujan masih saja  menderas. Menambah kelam malam yang mencekam. Angin seolah tak letih  meniupkan nyanyian badai dengan penuh lantunan emosi. Petir dan guntur  pun terus-menerus memaksakan ragaku untuk segera masuk ke dalam rumah.  Tetapi rumah ini masih terkunci. Dikunci dari dalam. Tepatnya dipalang  dengan menggunakan sebatang kayu kapuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, aku tak boleh di sini terus. Aku harus masuk. Tubuhku sudah tak nyaman diselimuti gigil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tok! Tok! Tok!” &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Masih tak ada jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tok! Tok! Tok!” kali ini bunyi ketokan pintu semakin keras. Sampai beberapa kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya! Siapa?”&lt;br /&gt;“Aku, Bu!”&lt;br /&gt;“Iya, kamu siapa?”&lt;br /&gt;“Dewi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak  ada lagi jawaban. Hanya bisik-berisik yang terdengar. Seiraman  rintik-rintik hujan di atap rumahku yang terbuat dari ilalang ini. Hanya  kasak-kusuk yang dapat kuraba dengan gendang telingaku. Aku pastikan  suara-suara yang ada di dalam rumah adalah suara kedua orang tuaku.  Suara yang sangat merdu yang pernah kudengar seumur hidupku -meksipun  tak sedikit dari suara-suara itu berfrekuensi amarah. Sepertinya, kedua  orang tuaku tengah mencari kata mufakat untuk membuka palang pintu rumah  ini, sebagai simbol mereka mulai membuka pintu maaf untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan  suara berisik menghilang. Kuendus berganti menjadi bunyi  langkah-langkah kaki. Semakin mendekat. Merapat ke pintu. Air mataku  semakin deras mengalir. Kukira, serupa air mata bahagia. Maka sedikit  senyum mulai kukembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Krekkk!!!” Palang pintu dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubayangkan  akan terjadi sebuah cuplikan kisah haru pertemuan antar seorang ibu dan  anak yang pulang setelah hilang, akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Krekkk!!!” Dan pintu pun dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  melongokkan kepala ke dalam. Naas, tak terjadi seperti yang aku  harapkan. Tak ada kisah haru. Hanya sebuah punggung -yang hampir  membungkuk dibalut sebuah kebaya lusuh- yang tampak. Selebihnya hanya  bisu yang bersuara. Pada nyala yang redup, yang muncul dari sebuah lampu  gas di samping tembok bambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakiku terasa berat  melangkah. Ribuan panah malu dan takut menusuk-nusuk dadaku. Punggungku  seolah ditarik ke belakang. Kaki dan tanganku jadi gemetar. Nafasku  memburu. Wajahku membiru. Ah, aku tak punya pilihan lain. Harus masuk.  Menemui kedua orang tuaku. Meskipun dipukul, ditendang bahkan harus  diusir pun akan siap terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku pun melangkah. Beberapa langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa kau datang kemari, anak durhaka!” Suara itu menghentikan langkahku. Suara merdu dari Ayah, yang memilukan hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi  aku kembali melangkah. Bahkan setengah berlari. Menuju kepada lelaki  yang hanya terbaring lemas di atas tempat tidur yang terbuat dari bambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, Dewi minta maaf! Dewi telah menyakiti Ayah sampai Ayah jadi begini. Dewi minta maaf!” &amp;nbsp;&lt;br /&gt;“Ah,  setan! Untuk apa kau meminta maaf. Kenapa tak kau tunggu untuk meminta  maaf di atas batu pusaraku nanti! Aku tak ingin melihat mukamu! Pergi!  Pergi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan Dewi, Ayah! Dewi mengaku, semua ini salah  Dewi. Dewi bersedia mendapat ganjaran atas segala dosa yang pernah Dewi  buat terhadap Ayah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau kira dengan memberikan  ganjaran kepadamu, semua sakit hati dan sakit raga ini dapat terobati?  Tidak! Meskipun harus membunuhmu tak bisa membayar semua luka yang  selama ini mengenga pedih.” Ayah masih saja di pembaringan. Tak  menatapku semanjak awal aku masuk. Dan air mataku hanya mampu mewakili  seluruh penyesalanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, aku faham. Tak ada sedikit pun semburat kebencian di wajah tua Ayah. Malah semburat kesedihan dan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan  terkadang, martir kecintaan boleh jadi dapat meruntuhkan  dinding-dinding kemarahan. Ibu tampil dari belakangku. Merangkul kedua  pundakku. Lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tak ada suara. Hanya  sedu dan sedan yang bergumam. Ibu menciumi wajahky dengan penuh getaran  kasih sayang. Aku dapat merasakan semua itu. Dan seketika aku pun balik  memeluknya. Isak dan tangis pun meruak bak kembang seroja bermekaran.  Ibu dan aku seakan ingin berbicara tentang sebuah perasaan yang sulit  untuk diterima. Tentang kepergian yang memilukan. Tentang kepulangan  yang mengharukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Ayah masih di pembaringan.  Tetapi suara itu? Suara itu serupa tangisan. Ayah menangis. Aku yang&amp;nbsp;  sedang merangkul ibuku kemudian berupaya merangkulnya pula. Dan tak ada  suara yang keluar dari bibir-bir kami. Hanya bulir-bulir bening yang  menderas. Serta ratapan dan isakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu menjadi berhenti  berputar. Menyaksikan sebuah drama keharuan dari keluarga yang selama  sepuluh tahun terpisah. Terpisah lantaran ego. Terpisah oleh sebuah  tapak kebahagiaan yang sulit dicapai lantaran salah pengertian. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah,  Ibu! Dewi minta maaf. Karena semua kesalahan yang pernah Dewi buat  terhadap Ayah dan Ibu maka sampai dengan detik ini pun, sampai Dewi  kembali dari tanah perantauan setelah menikah di atas tangan, Dewi belum  juga mendapatkan keturunan.” Dan air mataku bagai tsunami yang  meluluhlantahkan tembok-tembok ketegaranku selama ini. Selama hidup di  perantauan. Selama menikah tanpa restu orang tua. Dan selama menanti  kehadiran sang buah hati belahan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu menarik nafas  dalam-dalam. “Ayah dan Ibu juga minta maaf, Nak. Semua itu juga salah  Ayah dan Ibu. Karena terdorong rasa sakit hati dan tak dihargai olehmu,  akhirnya kami melakukan &lt;i&gt;bau lolon &lt;/i&gt;untuk menyumpahimu. Kalau kau  bukan anak kami maka selamatlah kau menikah di atas tangan. Tetapi jika  kau benar-benar anak kami maka hidupmu tak akan bahagia. Kau tak akan  bisa punya keturunan sebab pernikahanmu tak kami restui.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali  air mataku memuncrat. Menyemburkan mata air kecewa sekaligus sedih tak  terkira. Kedurhakaan yang telah kubuat terhadap Ayah dan Ibu harus  kubayar mahal untuk sebuah kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi dimana Kelake, Nak? Kenapa tak kau suruh masuk?” Ibu berusaha tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu seolah semakin menyayat batinku. Perih dan pedih sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelake telah meninggal, Ibu. Dia meninggal dalam kecelakaan kerja di Batam. Makanya aku kembali ke kampung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaraku habis. Seiring pelukan hangat Ibu di dadaku. Pelukan dalam nafas kasih sayang dan hujan air mata. &lt;i&gt;Maafkan aku Ayah dan Ibu. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan  malam itu waktu seakan lelah berjalan. Berhenti di perbatasan, sambil  menanti aku, Ayah dan Ibu menghentikan tangisan. Menghentikan kesedihan.  Menghentikan segala kedurhakaanku sembari membuka pintu taubat. Pada  malam yang uzur. Aku mencium aroma &lt;i&gt;bau lolon. &lt;/i&gt;Aku juga mencium aroma keringat suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupang, 21 November 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pion  Ratulolly, peserta MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara) bidang novel  di Kupang. Peserta PEKSIMINAS (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) IX di  Jambi. Peserta TSI (Temu Sastrawan Indonesia) III di Tanjung Pinang.  Penulis novel “atma” Putih Cinta Lamahala Kupang. Manager pada Laskar  Sastra Kupang Management. Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Lamahala  2008-2009. Ketua Sanggar Seni Tulang-Tulang Berserakan. Pembicara pada  kegiatan Bengkel Sastra: Pelatihan Menulis Cerpen untuk Guru dan Siswa  SMA jurusan Bahasa se-Kota Kupang oleh Pusat Bahasa-Cabang NTT, di Hotel  Cendana-Kupang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Sejenis sumpah adat yang  dilakukan untuk mencari kebenaran sesuatu perkara. Bahkan sumpah ini  diyakini bisa menyebabkan kematian terhadap orang yang bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Tenunan khas Flores Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]  Suami rumah. Di Adonara diberlakukan suatu aturan adat suami atau istri  rumah yang dapat diartikan sebagai lelaki atau perempuan yang  berpeluang besar untuk menikah karena diperbolehkan adat. Hubungan ini  bisa ditarik dari garis keluarga batih dengan ketentuan; lelaki dapat  menikah dengan perempuan yang merupakan anak dari paman (saudara lelaki  ibu)nya; sedangkan perempuan dapat menikah dengan lelaki yang merupakan  anak dari bibinya (saudara perempuan ayahnya). Hubungan kenale bisa juga  ditarik berdasarkan suku/marga mana-mana saja yang berhak menjadi  kenale atau tidak secara aturan adat.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6917926512113958963-2940021887654908514?l=penaadonara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/2940021887654908514/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/aroma-bau-lolon-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/2940021887654908514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/2940021887654908514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/aroma-bau-lolon-1.html' title='AROMA BAU LOLON [1]'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963.post-968764140160598753</id><published>2011-01-24T03:02:00.001-08:00</published><updated>2011-02-01T00:28:21.559-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Mandi di Kamar</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(&lt;i&gt;sebuah contekan mbling&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Pion Ratulolly&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di lembar-lembar malam yang lembur&lt;br /&gt;kita sesekali terperosok di lembah bentur&lt;br /&gt;&lt;i&gt;antara nafas dan nafsu yang terus memburu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;membirukan mata tanpa kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah!!!&lt;br /&gt;&lt;i&gt;desah yang panjang dan telanjang&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;bagai lolongan anjing pincang di ujung tumbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kenikmatan manakah yang sungguh-sungguh&lt;br /&gt;sanggup menuntaskan lelehan keringat&lt;br /&gt;juga darah yang dijarah-jarah, sayang?&lt;br /&gt;…………………………………………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah!!!&lt;br /&gt;sial,&lt;br /&gt;mimpi memandikanku di kamar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kupang, 23/12/10﻿&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6917926512113958963-968764140160598753?l=penaadonara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/968764140160598753/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/mandi-di-kamar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/968764140160598753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/968764140160598753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/mandi-di-kamar.html' title='Mandi di Kamar'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963.post-6397808582660162421</id><published>2011-01-24T03:01:00.001-08:00</published><updated>2011-01-24T03:01:19.035-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>PATI PITO</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Karya: Pion Ratulolly&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;beta pati pito[1]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;beta cari kampung baru&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;dapat saudara raja subang pulo[2]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;tanpa kata tanpa syarat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;beta pati pito&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;beta raja dari ambon&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;jadi kapitan laut[3] di lamahala&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;karena beta pandai besi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;beta pati pito&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;beta dari ata mua[4]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;jadi imam kadhi[5] di lamahala&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;karena beta pandai mengaji&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;beta pati pito&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;beta punya ratuloli&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ratuloli jadi kapitan lingga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;karena berperang membela lingga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;beta pati pito&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;beta punya kapitan loli&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;diberi gong dari buton&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;buat menjaga marwah pertiwi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;beta pati pito&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;buat parang buat perang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;serang penjajah usir portugis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;biar merdeka tanah salam[6]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;beta pati pito&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;tak ada kitab tak ada cerita&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;tetapi beta selalu hidup&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;dari lidah suci para pujangga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kupang, 10/12/ 2010&lt;br /&gt;00.00. awal waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Tujuh Saudara suku Ata Mua yang hijrah dari Ambon ke Desa Lamahala, Kab. Flores Timur, NTT sekitar abad ke-16.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Nama salah seorang raja yang terlebih dahulu ada di desa Lamahala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Salah satu Panglima Perang di Lamahala, selain Kapitan Belang dan Kapitan Bunga Lolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Sebuah pulau (kerajaan) di Maluku Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Penasehat hukum-hukum agama sekaligus imam raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Nama lain desa Lamahala&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6917926512113958963-6397808582660162421?l=penaadonara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/6397808582660162421/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/pati-pito.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/6397808582660162421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/6397808582660162421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/pati-pito.html' title='PATI PITO'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963.post-7020979917876601671</id><published>2011-01-24T03:00:00.001-08:00</published><updated>2011-01-24T03:00:30.676-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>WASIAT KEMUHAR</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Sebuah Cerpen Oleh: Pion Ratulolly&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak,  tahukah kamu arti dari namamu? Kemuhar adalah nama seorang leluhur kita  dari suku Ata Mua. Suku Ata Mua berasal dari Ambon. Tepatnya di Maluku  Utara, kerajaan Mua di Pulau Mua. Konon suku Ata Mua masuk ke Lamahala  sekitar abad ke 16 melalui ekspedisi Ratu. Dalam ekspedisi ini ada tujuh  bersaudara yang &amp;nbsp;dikenal dengan Pati Pito. Nah, salah satu keahlian  yang dimiliki Pati Pito adalah Pandai Besi. Dan Kemuhar merupakan salah  satu keturunan dari Pati Pito itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih khusyuk menekuri perkataan Ayah sembari kedua tanganku terus memompa-mompa &lt;em&gt;rok&lt;strong&gt;[1]&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;.  Mataku kuarahkan lurus tepat pada kedua mata Ayah yang tengah menyala  sebagaimana bara yang tengah menyala-nyala di tungku ini. Aku duduk di  atas sebuah bale-bale bambu setinggi satu meter. Kakiku kujulurkan saja  ke bawah dan membiarkannya tergantung bebas. Perhatianku kuupayakan  terus terfokus pada perkataan ayah. Sebab aku mafhum, Ayah jarang sekali  bicara. Apalagi bercerita. Ayah hanya mau bercerita ketika aku mau  bersama-sama beliau bekerja besi di gubuk yang reot ini. Dan bagiku, ini  adalah kesempatan yang sangat langka. Karena untuk kembali ke kampung,  berikut mendengar pembicaraan Ayah adalah pekerjaan yang hanya mampu  kulakukan setahun sekali. Kusadari bahwa kesibukan menjadi dosen  sekaligus peneliti di Universitas Nusa Cendana Kupang telah merenggut  beberapa bagian kebahagiaanku dalam rangka melihat wajah Ayah. Menyimak  petuah-petuah Ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, aroma besi yang tengah  dibakar seonggok bara, terasa semakin karib menusuk-nusuk rongga  hidungku. Aroma yang sangat akrab menghinggapi hidungku, bahkan telah  menyatu dengan aroma keringat tubuhku sewaktu kecil hingga SMA di  kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu, sebelum sampai di Lamahala, ekspedisi  leluhur kita sempat juga menyinggahi beberapa tempat, seperti Pulau  Alor, Pulau Lembata dan daerah Tanah Boleng. Di setiap daerah  persinggahan diturunkan seorang kurir untuk mengecek kepastian apakah  tempat tersebut layak dihuni atau tidak. Dipesankan kepada setiap kurir  itu bahwa andaikan tugasmu telah berhasil maka pulanglah layaknya seekor  burung yang pulang ke sarang, untuk menyampaikan keberhasilan itu  supaya kita bisa menetap di tempat itu. Jikalau tidak berhasil, maka  menetaplah di situ, layaknya seekor bebek yang tak tahu jalan pulang.  Makanya, jangan heran jika di daerah-daerah itu, ada orang yang bermarga  Ratu Making. Mereka adalah saudaramu, anak cucu dari para kurir yang  tak kunjung pulang itu. Nama Ratu diambil dari nama ekspedisi kita,  ekspedisi Ratu. Begitu pun nama Ratu yang melekat pada Ratuloli”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah  masih sibuk mengatur besi-besi panas dalam tumpukan bara yang menyala  di tungku. Ia&amp;nbsp; membolak-balikan besi-besi itu dengan menggunakan sebuah  Nipat, penjepit yang terbuat dari besi. Sebuah besi lalu &amp;nbsp;diangkat  dengan cara dijepit lalu diletakan di atas sebuah besi yang agak besar  kemudian dititih dengan menggunakan sebuah martil atau palu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyi  martil bertalu-talu seolah mewakili gemuruh ribuan rasa bersalah dalam  dadaku lantaran meninggalkan Ayah seorang diri di kampung. Sebenarnya,  aku sudah menyampaikan niatku berkali-kali kepada Ayah untuk  bersama-sama dengan aku hidup di Kupang. Tetapi Ayah menolak. “Meskipun  Ibumu telah tiada, Ayah tidak bisa meninggalkan rumah ini. Apalagi  meninggalkan &lt;em&gt;rok&lt;/em&gt; reot ini. Di &lt;em&gt;rok &lt;/em&gt;ini Ayah hidup. Karena itu, Ayah ingin, mati pun tetap &lt;em&gt;rok&lt;/em&gt;  reot ini.” Demikian sebaris kalimat penolakan Ayah yang sungguh sangat  mengiris hatiku. Tapi tak apa. Kucoba memaknai penolakan itu sebagai  sebuah bentuk pengabdian Ayah terhadap warisan leluhur yang harus selalu  ia nyalakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, Ayah yakin! Kepulanganmu kali ini adalah kepulangan yang terakhir kalinya untuk melihat Ayah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud, Ayah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu  tidak akan melihat Ayah lagi. Ayah sudah mendapat firasat tentang itu.  Semalam Ayah bermimpi. Kapal ferry yang kamu tumpangi ke Kupang  tenggelam di Laut Sawu. Kamu salah seorang penumpang yang tak bisa  terselamatkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi maksud Ayah, aku meninggal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Justru sebaliknya. Ayah yang akan meninggal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa Ayah sampai berpikiran seperti itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah  yakin, meskipun selama ini Ayah sakit-sakitan di kampung, Ayah tak  boleh meninggal sebelum melihat wajahmu. Ayah ingin menyampaikan sebuah  wasiat untukmu. Dan jika wasiat hari ini sanggup Ayah sampaikan kepadamu  maka Ayah dapat pergi dengan tenang. Dan Ayah akan sangat berbahagia  dan berbangga lagi jika kamu dapat menunaikan wasiat ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wasiat apakah itu, Ayah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah ingin kamu terus mewariskan tradisi Pandai Besi ini. Ayah sadar, &lt;em&gt;rok &lt;/em&gt;di Lamahala sudah punah. Selain milik Ayah, tak ada lagi Pandai Besi&lt;em&gt; &lt;/em&gt;di  Lamahala. Apalagi di lain tempat. Sementara Pandai Besi ini adalah  salah satu warisan nyata leluhur kita, Ata Mua. Ayah khawatir. Hilangnya  &lt;em&gt;rok &lt;/em&gt;bisa berakibat pada hilangnya identitas kita. Jika  demikian, leluhur kita pasti akan menangis bersedih. Ujung-ujungnya  hidup kita tak bisa tenang.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Ayah beberapa waktu lalu di &lt;em&gt;rok &lt;/em&gt;itu  membuat aku semakin percaya bahwa Ayah mampu membaca isyarat  kematiannya. Tetapi justru aku sangat bersedih. Betapa tidak. Aku  mengenal Ayah sebagai pribadi yang pendiam. Tak ingin mencampuri urusan  orang lain seikit pun. Ia sering menasehatiku, “Makan makanan yang kita  punya. Cerita persoalan yang kita punya. Jangan makan makanan orang.  Jangan cerita persoalan orang”. Dari kalimat ini aku dapat memahami  bahwa Ayah lebih merasa nyaman hidup berdampingan dengan orang tanpa  harus menjadi benalu bagi orang lain. Sesulit apa pun hidup, haruslah ia  sanggupi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dimana aku selama ini, di saat  Ayah berada dalam kesulitan? Sementara untuk menyatakan kesulitan hidup  merupakan hal yang paling sulit Ayah lakukan. Meskipun kepada aku  anaknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, aku harus berupaya semampuku agar dapat memenuhi wasiat Ayah. Tetapi aku tinggal di Kupang. Sedangkan &lt;em&gt;rok &lt;/em&gt;ada  di Lamahala. Dua tempat yang dipisahkan oleh seonggok pulau dan  sebentang lautan. Apakah untuk memenuhi wasiat Ayah, aku harus tinggal  di Lamahala? Tidak lagi menjadi dosen dan peneliti di Kupang? Tidak  mungkin! Tapi jika tetap di Kupang, apa aku dapat memenuhi wasiat Ayah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  baru menyadari, ternyata Ayah lebih tahu garis jalan mana yang harus  kulalui. Dan di sini, di samping rumahku telah dibangun sebuah  perusahaan kecil. Perusahaan yang mampu menghidupi aku dan keluargaku.  Juga beberapa karyawanku. Aku sepatutnya berterima kasih kepada Ayah.  Berkat wasiat Ayah, akhirnya sebuah perusahaan kecil Pandai Besi “Wasiat  Kemuhar” bisa berdiri. “Wasiat Kemuhar” merupakan satu-satunya  perusahaan Pandai Besi&amp;nbsp; di Kupang, juga di Pulau Timor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih, Ayah. Meskipun aku akhirnya sadar, engkau hanyalah ayah tiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupang, 11/12/10&lt;br /&gt;pukul, 14.22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]  Dua buah bambu besar berdiameter sekitar satu jengkal dan setinggi satu  meter lebih. Kedua bambu itu digandengkan berdiri di belakang sebuah  tungku pembakar besi. Dalam rongga kedua bambu itu diisi masing-masing  sebilah kayu kecil berdiameter sekitar tiga senti meter, dengan ukuran  lebih tinggi dari bambu-bambu itu. Di ujung kedua kayu kecil itu  diikatkan sepotong kain yang berfungsi menyedot angin dari dalam rongga  kemudian menekannya ke arah tungku api yang sedang membara melalui dua  besi kecil. Fungsinya, hampir sama seperti orang mengipas api. Di tungku  inilah terjadinya pembakaran besi yang selanjutnya akan dipola menjadi  parang, tombak, anak panah, pisau, atau peralatan dapur, perkebunan,  pertukangan dan peperangan lainnya. Nah, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;rok&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;ini kemudian dijadikan sebagai nama &lt;strong&gt;tempat&lt;/strong&gt; orang membuat peralatan-peralatan besi atau &lt;strong&gt;Pandai Besi&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;﻿&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6917926512113958963-7020979917876601671?l=penaadonara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/7020979917876601671/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/wasiat-kemuhar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/7020979917876601671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/7020979917876601671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/wasiat-kemuhar.html' title='WASIAT KEMUHAR'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963.post-930785043766982633</id><published>2011-01-24T02:58:00.001-08:00</published><updated>2011-01-24T02:58:58.712-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>SAJAK TAJA</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;em&gt;kepada&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Dalasari Pera&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membingkis setitik diksi&lt;br /&gt;dalam sederet larik bestari&lt;br /&gt;melompatlah sebait kado puisi&lt;br /&gt;isi hati para pesair sejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alam menangis bisa dicerita&lt;br /&gt;tuhan tertawa mampu diwarta&lt;br /&gt;kekasih kecewa sanggup dibaca&lt;br /&gt;penyair kasmaran dapat dikata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mana saja sajak yang duka&lt;br /&gt;di sini ditulis jadi disuka&lt;br /&gt;sebab di tangan punggawa belawa&lt;br /&gt;kisah meruak semerbakan aroma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;banyak puji disanjung puja&lt;br /&gt;karena tangan indah merenda&lt;br /&gt;sebab di hari jadi yang tiba&lt;br /&gt;selembar puisi untukmu kutaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupang, 28 Desember 2010&lt;br /&gt;Selamat Hari Jadi Dalasari Pera&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6917926512113958963-930785043766982633?l=penaadonara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/930785043766982633/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/sajak-taja.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/930785043766982633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/930785043766982633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/sajak-taja.html' title='SAJAK TAJA'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963.post-5349175958335112711</id><published>2011-01-24T02:56:00.001-08:00</published><updated>2011-01-24T02:56:24.254-08:00</updated><title type='text'>DEMI PURNAMA</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sebuah Cerpen Oleh Pion Ratulolly[1]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Demi purnama. Demi waktu yang sempat tertahan. Kau ada dimana? Sedang aku masih setia menatap purnama kelimabelas di malam ini. Katakan kepadaku, hati siapakah yang tak berdetak kagum melihat dewi malam tengah ramah membagikan senyum pengharapan pada para penghuni alam? &lt;em&gt;Di mata sejuk, di hati lembut dan di bibir decak doa senantiasa bertasbih&lt;/em&gt;, katamu dulu. Andai saja jarak bukan menjadi pemisah jumpa, ingin kudaki tangga langit, kudapati dewi malam, lalu bersujud langsung di hadapannya, sembari memanjatkan berjuta pohon pinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, purnama naik ke tangga lima belas, di sepuluh tahun lalu. Aku bersama dirimu, istriku, sedang senang memandang bulan. Bagi kita, rembulan adalah harapan. Harapan bisa terkabul saat kedua mata kita tak pernah berkedip menyaksikan bintang jatuh di bulan purnama. Di detik itulah, kedua tangan kita tengadahkan ke langit. Sambil merapal sebuah keluhan sederhana; &lt;em&gt;Duhai Sang Rembulan, &amp;nbsp;percayakanlah pada kami satu saja anak Adam-Mu, untuk kami lahirkan dari rahim kasih dan sayang kami berdua. &lt;/em&gt;Mantra yang saban purnama kita panjatkan. Diiringi sesegukan tulusmu untuk meminta belas kasih Rembulan. Semoga Ia berkenan menjatuhkan seorang momongan dari langit malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang!” Kuhafal benar desahan nafasmu waktu itu. Sementara aroma keringat peluhmu terasa sedikit memabukan keinginanku untuk membelaimu. Memanjakanmu mesra di atas bale-bale sambil membayangkan betapa indahnya bermain-main dengan bocah-bocah kecil keturunan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Adikku.Lenganku selalu kusediakan untukmu bersandar sebelum dan setelah engkau letih melantunkan doa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya aku telah kecewa pada rembulan, Bang. Selama ini, dia telah menutup kedua telinganya untuk mendengar keluh kesah kita.” Matamu nanar menatapku. Semburat senyum sangsi membekas di bibir tipismu. Aku dapat membaca kelebat durja dari sorot mata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan berkata seperti itu, Sayang. Kesabaran kita sedang diuji.” Aku sedikit kecut membagikanmu sebuah senyuman sederhana. Tak seberat persoalan yang tengah kita hadapi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti itu katamu dari dulu. Tak pernah berubah sepatah kata pun. Seperti rembulan yang tak pernah kunjung mengabulkan pinta kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang, semua ikhtiar sudah kita lakukan. Dari tradisional maupun medis. Tetapi rupanya kita masih kurang dipercayai oleh Sang Rembulan untuk merawat anak keturunannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harusnya kamu percaya apa kata Ama Meddo. Kita berdua tidak mandul. Kita sedang diteluh. Disihir untuk tidak punya keturunan. Buktinya, Ibu Bidan bilang rahimku sehat. Tetapi aku merasakan rahimku seperti tertusuk-tusuk jarum. Apa lagi kalau bukan teluh? ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan berkata seperti itu, Sayang. Bersabarlah. Mungkin tidak hari ini, mungkin esok kita akan diberikan momongan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, selalu saja begitu. Lama-lama aku jadi tak betah. Ceraikan aku sekarang juga!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersentak. Sebuah tombak ketakpercayaan yang tajam nian, tiba-tiba menghujam dadaku. Sakit. Pedih. Aku tak menduga jika kau akan berputus harapan seperti saat ini. Betapa sebuah gubuk rumah tangga yang selama ini telah kita bangun di atas fondasi saling pengertian harus diruntuhakan lantaran keputusasaanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam sekejap aku jadi meradang. Marah dengan segala ketaknyamananku selama ini. Jangan dikira aku juga bahagia jika tak memiliki keturunan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kita cerai! Aku menceraimu dengan talak tiga.” Tanpa rencana, kalimat itu serta-merta meloncat keluar dari mulutku. Bibirku bergetar. Nafasku memburu. Mataku memerah ganas. Panas ragaku. Serasa semua ruh makhluk halus masuk ke dalam tubuhku lalu menjadikanku seolah sebuah monster yang amat mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tragis, sungguh sebuah drama tragedi sedang dikemas. Engkau malah terjatuh. Kejang-kejang. Tubuhmu bergetar-getar. Kusaksikan engkau sedang berperang melawan sesuatu dalam dirimu. Mulutmu meracau-racau tak jelas. Umpat, caci dan maki keluar berhamburan. Engkau kesurupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjadi hilang amarah sekejap. Besarnya rasa belas kasih di dalam dadaku sekejap waktu langsung mengalahkan amarahku yang sudah memuncak sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangsat! Anjing! Aku tak akan pernah berhenti mengejarmu. Sampai ke liang lahar sekali pun. Hahaha!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ada apa lagi ini? Mengapa semua harus seperti ini? Mengapa istriku yang hendak kucaraikan harus mencaci-makiku sepedis ini? Tak sekali pun aku diperlakukan serendah ini oleh istriku selama ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu, aku siapa?” Kulihat wajahmu memerah sungguh. Sinar matamu ganas menatapku penuh dendam. Sebuah dendam lama yang telah lama kau pendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendekatimu. Berupaya memegang telapak tangan kananmu dan menekannya. Berharap kalau ada makhluk halus yang masuk dapat kudesak keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heiii!!!! Sedang apa kau? Kau pura-pura lupa, siapa aku?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih berusaha sekuat tenaga menekan telapak tanganmu. Di antara ibu jari dan jari telunjukmu, kutekan lebih kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau masih ingat, Ina Barek, lelaki bejat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astagga!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku semakin tersentak. Dan tanpa lagi melihatmu, aku lari meninggalkanmu. Menutup kedua telinga atas apa yang baru saja aku dengar. Aku ingin menjauh dari segala kenyataan atas apa yang baru saja terjadi. Aku berlari dengan sekuat sisas tenagaku. Sekencang mungkin. Kalau pun harus terjatuh dan mati, aku tak takut. Saat ini mati adalah pilihan yang mungkin masih lebih baik dari pada harus menghadapimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku harus lari. Aku harus menjauh darimu. Sebab di dirimu saat ini bukan hanya bersemayam dirimu saja, tetapi juga Ina Barek. Gadis di sebelah kampung yang ditemukan tak lagi bernyawa di pinggiran kali kampung. Ia meninggal dengan tragis karena dicekik seseorang. Tapi kasihan, ia tengah hamil. Dan tahukah kamu, istriku, anak yang dikandungnya dan dibawa mati bersamanya, adalah anakku juga. Anak yang kubenihkan di saat malam purnama. Di saat engkau tengah berdoa menanti anak dari rembulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi purnama. Demi waktu yang sempat tertahan. Kau ada dimana? Sedang aku masih setia menatap purnama kelimabelas di malam ini. Katakan kepadaku, hati siapakah yang tak berdetak kagum melihat dewi malam tengah ramah membagikan senyum pengharapan pada para penghuni alam? &lt;em&gt;Di mata sejuk, di hati lembut dan di bibir decak doa senantiasa bertasbih&lt;/em&gt;, katamu dulu. Andai jarak bukan menjadi pemisah jumpa, ingin kudaki tangga langit, kudapati dewi malam, lalu bersujud langsung di hadapannya, sembari memanjatkan berjuta pohon doa. &lt;em&gt;Maafkan aku Ina Barek; perempuan pelampiasan keputusasaanku. Maafkan aku calon anakku. &amp;nbsp;Maafkan aku Ina Somi, Istriku. Maafkan aku yang tak pernah letih memandang purnama.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupang, 04/01/2011&lt;br /&gt;Jam: 13:13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Pion Ratulolly, lahir pada 31 Desember 1986 di desa pesisir Lamahala, Nusa Tenggara Timur. Ia adalah peserta Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) bidang Novel di Kupang. Peserta PEKSIMINAS (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) IX di Jambi. Peserta Temu Sastrawan Indonesia III di Tanjung Pinang. Menulis novel “atma” Putih Cinta Lamahala Kupang. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6917926512113958963-5349175958335112711?l=penaadonara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/5349175958335112711/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/demi-purnama.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/5349175958335112711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/5349175958335112711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2011/01/demi-purnama.html' title='DEMI PURNAMA'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963.post-2348696665621244090</id><published>2009-11-07T10:30:00.001-08:00</published><updated>2011-02-01T00:45:23.903-08:00</updated><title type='text'>PIKNIK</title><content type='html'>Minggu pagi-pagi. Ama sudah terbangun oleh deringan ponselnya. Deringan monopronik dengan lagu 'rera pe weli'. Berlawanan dengan suasana lagu, kini matahari akan segera naik dari ujung pulau yang hampir-hampir datar ini.  &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kain sarung tertumpuk di ujung kaki. Ada dua bantal di tempat tidurnya, yang satunya telah jatuh di atas lantai. Kelambu yang seperti digulung dijepitkan supaya tertutup bagian depannya. Ia buka jepit itu, lalu menyingkap bagian kelambu seperti tirai untuk dicantolkan di tiap sudut. Jendela kamar tidak pernah tertutup sehingga langsung tampak apakah di luar sudah cukup terang. Sedangkan di ruangannya sendiri, cahaya terang seperti di siang hari. Nyala lampu philips yang mengkilap dipantulkan oleh keenam sisi ruangan yang hampir semuanya berwarna putih. Lantai dari keramik putih. Tembok dan plafon pun dilabur putih. Bagi yang amnesia, bisa saja ia mengira siang hari saat terbangun malam-malam tanpa menengok ke jendela. &lt;br /&gt;Ama memandang dengan nanar ke dinding itu, lalu dengan enggan meraih ponsel. Tertulis di sana:"Brow. Sebentar jam 8 tunggu di kampus. Selanjutnya diatur di sana."&lt;br /&gt;"Sialan," ia menggerutu, "Membangunkan saya pagi-pagi untuk urusan itu."&lt;br /&gt;Tapi sejenak hatinya senang. "Artinya, hari ini saya punya kesempatan jalan-jalan, juga...." ia meraba perutnya yang hanya terisi angin, sambil membayangkan pemandangan yang baru akan dilihatnya hari ini.&lt;br /&gt;Tiga jam setelah itu, Ama telah rapi. Bersiul sepanjang perjalanan menuju kampus. Seperti paham situasi, burung gereja di pohon-pohon rendah pun bersiul menemani. Dahan-dahan pohon kerdil tampak kokoh tapi terlalu kecil. Tidak subur karena akar-akarnya memeluk tanah dengan lapisan tipis humus di bawah. Semuanya berbaris rapi di areal luas di kiri kanan jalan. &lt;br /&gt;Pohon-pohon kerdil ini memang sengaja ditanam, dipilih dari jenis yang keras, yakni lamtoro dan gamal. Yang lebih bagus tumbuhnya adalah gamal. Tumbuhnya cepat dan lebih mudah tersebar. Mereka berjasa membuat tempat ini jadi naungan yang teduh.&lt;br /&gt;Di kampus, hanya ada satu orang yang menunggu pada waktu yang disebutkan. Ia seorang pria berbadan subur dan berkulit legam. Berwajah seram pula, tapi cara berjalan dan bicaranya feminim. Ia punya sebuah kendaraan yang diparkir di jalan yang melintasi sisi seblatan gedung kampus. Diletakkan dengan sandaran berkaki dua. Motor shogun 125 yang tampak mewah mengkilap. Baru habis dibersihkan dengan sungguh-sungguh pagi tadi atau petang sebelumnya.&lt;br /&gt;Di tempatnya, yaitu di emperan kampus, pria hitam ini serius mengutak-atik ponselnya. Ia menghubungi semua nomor yang diajak pergi pagi ini. Yang diajak adalah teman-teman seangkatan. Ama mengajak bercakap sedikit lalu menyingkir ke sisi jalan, melepas pandangannya ke laut.&lt;br /&gt;Teman-teman adalah pisau yang kita pakai di saat harus membagi duka dan kesenangan supaya kita bisa merasakannya dengan wajar. Mereka ada saat luka tidak bisa kita pikul sendirian dan kesukaan tak mungkin ternikmati.  &lt;br /&gt;Mereka bisa jadi peredam untuk rasa tawar hati yang bergolak. Mereka bisa menyaksikan kalau kita tak lagi tegak jaya. Sebuah kutipan dipinjam untuk mengatakannya dengan lengkap 'malaikat itu ada, dan kalau mereka tidak bersayap, kita sebut mereka teman'. Hahahaha. Kutipan ini  dicopy dari kartu ucapan di hp. Ama betul-betul ingat itu.&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, seorang pria tampan muncul. Sendirian ia di tunggangannya, motor GL PRO. Di pangkuannya ia letakkan sebuah kertas merah berisi sesuatu. Saat turun, kertas itu ia biarkan terletak di atas kendaraannya. Ia letakkan sepeda motornya di belakang shogun 125 yang telah duluan diparkir. &lt;br /&gt;"Dua orang telah menunggu di gerbang depan. Kita tinggal menunggu perlengkapan di sini," teriaknya dari sisi jalan, lalu duduk di sana. Sisi jalan diteduhi bayang-bayang pohon gamal yang merimbun. Matahari di timur makin naik. &lt;br /&gt;Lima belas menit berlalu ketika dua motor lagi tiba. Tiga pria terdahulu merasa itu waktu yang terlalu lama. Dua kendaraan yang baru tiba membawa empat orang lagi. Tiga cewek, dan seorang cowok. Ada dua cewek asing, mungkin teman dekat cewek seangkatan Ama.&lt;br /&gt;Pria hitam meninggalkan emperan menuju ke sisi jalan. Ia periksa perlengkapan yang dibawa. Cewek yang satunya pun melakukannya. Ia ambil kertas plastik merah di atas motor GL Pro yang dibawa pria tampan tadi. &lt;br /&gt;"Lengkap," katanya. Ia lalu membungkus irisan pepaya rebus menjadi satu dengan sambal dan acar.&lt;br /&gt;"Idenya siapa ini?" kata pria hitam sambil membolak-balik sepotong pepaya mengkal yang direbus setengah matang. &lt;br /&gt;Si cewek merengut, "tinggal santap saja nanti."  Pria hitam memang sering menangani masakan. Seingat Ama, pria ini sering jadi koki saat acara kumpul bersama di rumahnya. Sedangkan cewek itu adalah kekasihnya. Mereka satu-satunya pasangan dari angkatan yang sama.&lt;br /&gt;Perlengkapan siap, kendaraan pun siap. Tujuh orang di atas empat sepeda motor di jalan kampus menuju gerbang depan. Tiga orang lagi sudah menunggu di sana, di halte bus. Jalanan belum ramai di minggu pagi ini. Sebagian besar orang sedang ikut kebaktian di gereja masing-masing. Bagi sebagian sopir angkot, ini adalah saatnya beristirahat. Melepas penat. Berekreasi. Di tempat masing-masing, walau tempat itu hanyalah rumah tinggal. &lt;br /&gt;Di sekitar halte, rombongan dengan setelan cerah muncul. Sepuluh orang semuanya, di atas lima sepeda motor. Semuanya beriringan ke arah barat. Tujuan sudah disepakati tadi, Baun. Sebuah desa di tepian kota kupang, sekitar belasan kilometer jauhnya.&lt;br /&gt;Tak ada polisi berpatroli di minggu pagi ini. Jadi tidak penting untuk mengenakan helm. Semuanya kejar-kejaran. Ngebut. Melintasi jalanan licin. Hembusan angin terasa dingin di balik baju. Angin menyisir sela-sela rambut. Mirip remaja kota belasan tahun, kendaraan dibawa susul-menyusul sambil berolok-olok. Yang pertama dilewati adalah hutan gamal. Teduh dan sejuk. Sekitar satu kilometer lebar penghijauan itu dari gerbang kampus ke arah barat. Setelah itu lewat perkampungan. Bandara ada di sebelah kiri.&lt;br /&gt;Jalan terbagi dua jalur. Di tengah-tengahnya ditanami pepohonan yang memakan ruang selebar lima meter. &lt;br /&gt;Di persimpangan setelah pasar penfui, arak-arakan kendaraan berbelok ke kiri, menyusuri tepian &lt;br /&gt;pagar bandara. Jalanan tidak lagi licin setelah itu. Penunggang masih mengemudi dengan mahir, menghindari lobang dan gundukan. Jalanan mulai berkelok-kelok dan menanjak. Dan eksotis. Di ketinggian, hanya pohon-pohon kerdil berdaun tipis yang kelihatan. Jalan seperti diletakkan tepat di pertemuan dua lereng. Pas di ujung bukit yang memanjang. Ada lembah-lembah yang dalam dan lereng-lereng kapur dengan vegetasi tipis. Jalan seperti bekas liur siput di atas pasir. Berkelok-kelok. Berwarna putih kapur. Kiri kanan jalan, tiap puluhan meter didominasi pohon berdaun tipis seperti cemara, juga lamtoro yang tumbuhnya seperti dipaksakan. Semakin menanjak, semakin dingin hembusan angin. Tanaman semakin rimbun. Di Baun, pohon telah benar-benar rimbun. Lokasi pegunungan ini ideal untuk melepas lelah. Tempat tujuan rombongan untuk jalan-jalan pagi itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6917926512113958963-2348696665621244090?l=penaadonara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/2348696665621244090/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2009/11/piknik.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/2348696665621244090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/2348696665621244090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2009/11/piknik.html' title='PIKNIK'/><author><name>Simpet Soge</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2k4pE9J8p3A/Smo16aj0PCI/AAAAAAAAAhg/nfp4AmdoXLA/S220/wert.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963.post-3563032812830264228</id><published>2009-11-07T10:29:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:30:06.418-08:00</updated><title type='text'>Malaysia</title><content type='html'>Tepatnya tanggal 08-02-2007 adalah awal perjalanan menuju sebuah tempat baru atau tempat yang asing bagi pribadi saya. Sebuah tempat dimana menurut orang kami atau orang yang biasa pergi-pulang kesana menyebutnya tempat melarat (menurut pemikiran sendiri: bisa dibilang tempat untuk mencari kemiskinan). Adalah negara tetangga kita, Kerajaan Malaysia, khususnya negri Sabah di sebelah utara Pulau Kalimantan.&lt;br /&gt;     Tentang tempat melarat bisa dijelaskan bahwa biasanya orang di kampung kami (Flores-Adonara), menyebut orang yang pergi ke Sabah adalah orang pergi melarat. Artinya orang yang mau pergi ke Sabah adalah orang yang berani menerima resiko atau tantangan hidup di  tanah orang yang belum jelas arah tujuannya. Kita adalah orang luar yang masuk dan menyelip diantara orang-orang yang ada didalamnya. Disini, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, orang yang ada didalam masih renggang sehingga orang yang berada di luar bisa menyelip dan bergabung dengan orang yang berada didalamnya. Kedua, orang yang berada didalam sudah penuh sehingga orang yang berada diluar tidak bisa masuk dan menyelip kedalamnya. Kemungkinan kedua ini bisa disebut pergi untuk melarat. Karena meskipun sudah berada di tanah rantau tetapi tidak mendapat pekerjaan (menganggur). Inilah tantangan berat yang bisa saja terjadi bagi seorang perantau.&lt;br /&gt;*************&lt;br /&gt;     Perjalanan dengan menggunakan KM AWU dari Maumere menuju Nunukan memakan waktu lima hari. Jadi hari Senin (12-02-07) saya sudah sampai di Nunukan. Dengan mengurus pasport selama tiga hari akhirnya hari Kamis (15-02-07) saya bisa menyebrang ke negri sebrang (Tawau) dengan menggunakan feri KM Labuan dan dengan menempuh perjalanan dengan menggunakan bus selama satu malam akhirnya sampai di Kota Kinabalu.&lt;br /&gt;     Pagi itu angin pantai berhembus kencang dengan membawa hawa dingin membuat orang yang sedari kemarin sore menuggu keberangkatan dengan menggunakan kapal laut tidak bisa ngantuk hanya duduk berjejer menahan kedinginan. Jadwal keberangkatan seharusnya pada pukul 21.00 tetapi tertunda sampai pukul 02.00 pagi. Ini membuat orang  merasah gerah karena harus menunggu dan terus menunggu. &lt;br /&gt;     Diantara jejeran orang itu, ada seorang remaja umur belasan yang  sudah  dari kemarin sore hanya berjalan keliling sendirian. "Mungkin dia sedang mencari seseorang atau mungkin dia sendirian dan sedang mencari kenalan", pikirku  dalam hati. Tanpa ambil pusing dengannya aku terus menuju ke warung makan kecil yang berjejer di sepanjang pelabuhan guna mendapatkan segelas kopi hangat untuk menghilangkan rasa ngantuk dan dinginnya angin pantai. Segelas kopi Flores dengan  sebungkus rokok surya merupakan hidangan lezat ala pria di malam yang dingin itu.&lt;br /&gt;     ''Kopinya segelas berapa mas?'' Tiba-tiba dari belakang seorang bertanya. ''Kopi ya, mas? Tukas si penjaga warung. ''Ya mas. Tambah satu bungkus rokok sampoena''. Jawab si pemuda tampan sekitar umur belasan. ''Semuanya Rp 10.000. Tanpa banyak komentar dia lansung menganbil dompet dari tas kecil yang tergantung di pinggangnya dan menyodorkan ke penjaga warung. ''Ini mas''. Langsung dia memgambil tempat persis di depanku.&lt;br /&gt;     Seteguk kopi hangat langsung saja mengalir ke dalam perutnya ditambah semburan asap rokok kelihatan begitu lezat untuk terus di nikmati. Wajah tampan itu kelihatan acuh tak acuh dengan keadaan disekelilingnya.&lt;br /&gt;     ''Mau kemana De?''. Tanyaku selang beberapa menit. ''Saya mau ke Nunukan Bapa'' jawabnya tegas dengan logat kentara orang Adonara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6917926512113958963-3563032812830264228?l=penaadonara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/3563032812830264228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2009/11/malaysia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/3563032812830264228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/3563032812830264228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2009/11/malaysia.html' title='Malaysia'/><author><name>Simpet Soge</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2k4pE9J8p3A/Smo16aj0PCI/AAAAAAAAAhg/nfp4AmdoXLA/S220/wert.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963.post-7860348812205088696</id><published>2009-11-07T10:26:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:28:43.716-08:00</updated><title type='text'>TARI HEDUNG</title><content type='html'>Dramatisasi perang! Sangat berkesan, meski perang adalah pencabulan terhadap ciptaan Tuhan yang mulia. Tidak, kalau perang dibuat untuk membela sesuatu yang mulia yang hendak dilenyapkan atau ditindas oleh yang lain. &lt;br /&gt;Gerakan tari dinamis, menunjukkan ekspresi yang dalam tentang kekuatan, ketangkasan, dan kelihaian. Itu unsur-unsur positif. Sebagai dramatisasi, dimasukkan pula ekspresi fisik tentang ancaman, keangkuhan, kebuasan, dan nafsu untuk menindas dan menguasai.  Itu unsur negatif. Semuanya dipadu dalam unsur gerak, ruang, dan irama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Gerakan.&lt;br /&gt;Semakin banyak jenis gerakkan yang dibuat, semakin banyak isyarat pesan yang disampaikan tentang isi dan semakin menarik pula tarian itu. Gerakan tentu harus relevan dengan pesan yang ingin disampaikan atau ditunjukkan. Kekayaan gerak adalah hal yang bisa dieksplorasi terutama bagi yang telah mendalami apa pesan atau ekspresi yang ingin disampaikan kepada penonton. Dan sebenarnya, kekayaan gerak adalah hal yang sudah tereksplorasi tetapi kurang diidentifikasi sebagai suatu hal yang umum dan mudah diikuti. Banyak gerakan yang telah diteruskan, diciptakan, ataupun yang dilakukan kembali. Namun kita tidak begitu mengakrabkan diri untuk mengenal gerakan itu dengan sebutan tertentu. &lt;br /&gt;Memang, itu adalah hakikatnya seni, untuk dihayati, tidak sekadar dipelajari.&lt;br /&gt;Gerakan meliputi anggota gerak, ekspresi wajah, bagian tubuh seperti kepala, dan juga perlengkapan yang lain seperti pakaian maupun senjata. Beberapa gerakan dilakukan dengan meniru gerakan umum, bukan gerakan tari. Gerakan umum yang biasa dilakukan antara lain seperti  'kedek'a' (tap keras, membuat bunyi di tanah dengan hentakan kaki), 'genok' (ancang-ancang memotong dengan parang atau menombak), 'golek' (berjalan mengelilingi obyek tertentu), 'hiate' (menarik senjata sampai jauh ke belakang sebelum mengarahkan ke musuh), 'hedo' (menghindar), 'dukuk' (tunduk), 'tonga' (melihat ke atas), 'nadon' (mengangguk), 'geleko' (ke depan lawan melewati arah belakang), 'niku' (menoleh), 'tuen' (berbalik), 'po'ok' (potong), dan lain-lain. Perpaduan gerakan-gerakan ini dan sejumlah gerakan lainnya dengan pengulangan dan unsur irama akan membentuk gerakan tari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ruang&lt;br /&gt;Tarian hedung mulanya dipakai untuk menyambut orang yang pulang menjadi pemenang perang. Jadi, tari mulanya dibawakan di batas kampung atau di pintu gerbang kampung. Pintu gerbang kampung adalah ruangan yang terbuka dan tidak terlalu membatasi gerakan. Pemakaian ruangan seharusnya disesuaikan dengan pembawaan tarian sehingga jangan mengorbankan tarian demi penyesuaian ruangan. Misalnya sering dijumpai pembawaan tari pada panggung sempit atau melewati rintangan jalan yang sempit atau panggung yang kecil.&lt;br /&gt;Pemakaian ruangan adalah bagaimana setiap gerakan diatur untuk menjangkau ruangan yang ada, dan bagaimana pengaturan posisi tiap personel selama kegiatan menari, dan perubahan posisi-posisinya.&lt;br /&gt;Pementasan tari kadang-kadang hanya menujukkan aspek keteraturan, dan aspek yang lain kurang diperhatikan. Berbaris dalam jarak yang sama, gerakan dan langkah yang serempak adalah salah satu contoh keteraturan  yang  kini dikenal dalam dunia militer. Keteraturan ini banyak diadopsi dalam gerakan tari  yang serba rapi dan kadang tidak menunjukkan ekspresi lain. Padahal masih ada aspek yang perlu ditunjukkan, misalnya bagaimana merusaknya perang itu ditunjukkan dengan posisi yang kacau, dan untuk menunjukkan bagaimana lawan yang tak seimbang, posisi penari mesti tidak seimbang. Atau bagaimana menceritakan tentang prajurit yang jadi pelindung, pasti ada gerakan mengelilingi obyek tertentu, yang dibayangkan sebagai obyek yang mesti dijaga keutuhannya.&lt;br /&gt;Contoh posisi penari dalam ruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berbaris. &lt;br /&gt;Ini menunjukkan keteraturan dan posisi yang adil, di mana satu prajurit melawan satu prajurit. Posisi ini paling banyak dipakai, misalnya pada acara penjemputan tamu, di mana posisi penari mesti disesuaikan dengan ruang jalan yang ada. Para penari berbaris dalam jarak teratur dan pada saat tertentu memperagakan gerakan saling menyerang satu lawan satu. &lt;br /&gt;2. Posisi mengelilingi.&lt;br /&gt;Pada posisi ini, seorang atau dua orang berada di tengah-tengah dan dikelilingi oleh beberapa penari lain. Atau, yang ditengah adalah penari wanita. &lt;br /&gt;3. Posisi dua lawan satu. &lt;br /&gt;Pada posisi ini menunjukkan kekuatan yang tidak seimbang tetapi mesti bertahan di bawah ancaman kekalahan.&lt;br /&gt;3. Posisi tanpa lawan.&lt;br /&gt;Pada posisi ini, para penari masuk dalam satu arah dan dengan menganggap musuh datang dari arah lain.&lt;br /&gt;5. Posisi bintang.&lt;br /&gt;Penari masuk dari tiap sudut yang berbeda dan langsung masuk dengan gerakan tarinya masing-masing.&lt;br /&gt;6. Posisi bintang berkelompok. Pada posisi ini, setiap penari dalam kelompok berisi dua atau tiga orang masuk dari sudut masing-masing dengan gerakan tariannya.&lt;br /&gt;7. Posisi tunggal. Kalau hanya seseorang yang menari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap posisi yang cocok bisa digabungkan dalam satu pementasan, dengan cara merangkaikan tiap posisi itu dalam satu alur kisah atau dramatisasi. Masing-masing posisi mempunyai gerakan sendiri yang khas sesuai isi pesan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6917926512113958963-7860348812205088696?l=penaadonara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/7860348812205088696/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2009/11/tari-hedung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/7860348812205088696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/7860348812205088696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2009/11/tari-hedung.html' title='TARI HEDUNG'/><author><name>Simpet Soge</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2k4pE9J8p3A/Smo16aj0PCI/AAAAAAAAAhg/nfp4AmdoXLA/S220/wert.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963.post-1110087783250175414</id><published>2009-11-07T10:21:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:22:42.068-08:00</updated><title type='text'>LEGENDA PULAU KLARA</title><content type='html'>(Sumber cerita: Ian de Peskim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dentang bunyi tambur berirama cepat seperti langkah-langkah kaki tergesa. Nyala obor meliuk-liuk layaknya tarian samba di sabana pulau Sabu. Gadis-gadis menari sampai terbius tariannya sendiri di pagi buta ini. Lantas, dari sela-sela pohon lontar, datang perintah tuan kampung. Suara bulat hasil rembug tetua memutuskan tarian diteruskan sampai fajar merekah. Melewati waktu bertahan yang seharusnya. Pesta sudah berlangsung sampai malam ketiga bulan purnama. Orang-orang mengalir datang dan pergi, dan tak henti pula alunan nyanyian solo ditingkahi denting sasando merayu pengunjung untuk terus bertahan di tempat sampai purnama menjadi pucat oleh fajar pagi nanti.&lt;br /&gt;Hari ini upacara pemanggilan. Seperti ritus sia-sia untuk menjemput kembali para pelanggar sumpah adat keramat. Pelanggaran yang membuat lenyap sebuah daratan dari tiga daratan yang sejak dulu dengan damai didiami. Semua percaya, pulau kerabat mereka hanya lenyap dari pandangan, dan akan muncul saat purnama berjaya di atas lautan.&lt;br /&gt;Dunia di pulau itu adalah misteri yang sama tak terungkapnya dengan rencana menyelamatkan pulau dari tindasan penakluk dan penjelajah yang berkuasa atas lautan dan daratan. Pengelana yang kemudian tiba di segenap negeri adalah manusia yang sama tetapi dengan tangan ajaib menciptakan peralatan-peralatan dan membuat manusia lain tunduk mengakui dan takluk pada kekuatan besar itu. Warga pulau sekeliling mengerti apa artinya takluk. Kamu dan semua yang kamu kenal akan diseret ke tempat yang tidak kamu inginkan. Melakukan apa yang tidak kamu niati. Padahal manusia adalah sebuah kebebasan untuk membuat nyata apa yang akalnya beritahu. Akal satu-satunya yang membuat kemanusiaanmu tegak di atas tegarnya karang.&lt;br /&gt;Nyanyian solo telah berhenti kini. Berganti lagi ke tambur dalam irama perang. Laki-laki turun ke tengah-tengah arena dengan mengacung gada kayu. Para wanitanya mengibar-ngibarkan selendang coklat dengan motif bintik-bintik. Di sekeliling tepi kerumunan, bergumam hadirin yang tidak masuk dan ikut gerakan berirama tambur beradu desir ombak.&lt;br /&gt;'Kita kerabat, kita mengundang mereka datang, berbagi keriangan seperti yang ditunjukkan turun-temurun sebagai nilai mulia kebersamaan dan kesatuan yang tak terpecahkan', kumandang suara di tengah himpunan.&lt;br /&gt;Semua diam tepekur, tahu suara itu menembus batas-batas kelihatan dan yang tak kelihatan. Satu-satunya hal yang bisa buat kerabat mereka merasa pasti untuk diundang.&lt;br /&gt;Rasi gubug penceng sudah di kemiringan sepertiga jarak tegak, seseorang sedang mengamati itu. Tanda fajar menyingsing beberapa jarak waktu lagi. Waktu di mana para pengunjung mesti dibuat tetap berada di tempat dengan hati riang dan tak peduli lagi pada waktu yang merayap lamban....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6917926512113958963-1110087783250175414?l=penaadonara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/1110087783250175414/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2009/11/legenda-pulau-klara.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/1110087783250175414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/1110087783250175414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2009/11/legenda-pulau-klara.html' title='LEGENDA PULAU KLARA'/><author><name>Simpet Soge</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2k4pE9J8p3A/Smo16aj0PCI/AAAAAAAAAhg/nfp4AmdoXLA/S220/wert.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963.post-288249922015853114</id><published>2009-11-07T10:10:00.002-08:00</published><updated>2009-11-07T10:21:04.151-08:00</updated><title type='text'>MPAB AMA-Kupang 2008</title><content type='html'>Gedung aula BPG ruangannya memang luas, walaupun gedungnya terkesan tua dan terbengkelai karena belum direnovasi. Letaknya strategis yaitu di dalam kota, tepat di depan undana lama, di belakang kompleks perkantoran elit. Untuk mencapainya, cukup dengan menyusuri lorong masuk beraspal, menuju ke arah belakang lalu membelok masuk ke arah kanan. Gedung yang tepat di sebelah kanan tikungan, yang terlebih dulu kita jumpai, adalah aula komodo.&lt;br /&gt;Seperti yang kita ketahui, aula adalah bangunan besar yang cocok untuk kegiatan massal, yaitu sampai ratusan orang, misalnya pertemuan, seminar, diskusi panel, dan sebagainya. Jadi, sama sekali tidak ditujukan untuk dijadikan tempat aktivitas perkantoran. Praktis, gedung tersebut hanya dipakai pada saat-saat tertentu. Sebagian besar dari masa baktinya, ia tidak dipergunakan. &lt;br /&gt;Ke tempat itulah saya pergi pada suatu sore yang cerah di bulan Oktober. Di luar panas, seperti biasanya kalau musim kering berakhir. Tapi tak berdebu.&lt;br /&gt;Oh, ya. Sebelumnya saya ceritakan pula bahwa kami sering membuat kegiatan kelompok mahasiswa di tempat ini. Bayarannya lumayan mahal, yakni 700 ribu untuk tiga hari kegiatan siang malam. Tempat yang kami pakai adalah dua buah ruangan sebagai tempat tidur untuk putra dan putri, satu buah kamar untuk dapur, pekarangan, dan aulanya untuk tempat pertemuan atau kegiatan kelompok. Satu hal yang menguntungkan, tempat itu jauh dari hunian dan jauh dari kios tempat rokok dijual. Jadi, peserta tidak mungkin merokok kalau tidak membawanya di tas pakaian. &lt;br /&gt;Bagi panitia kegiatan, cukup penting untuk mengecek isi tas peserta kegiatan. Biasanya, para peserta juga membawa barang-barang yang tidak diperintahkan. Di antara barang-barang tersebut adalah rokok, biskuit, minuman keras dan ringan, wafer tango untuk cewek, kosmetik yang berlebihan atau perhiasan. Pekerjaan pengecekan/razia dilakukan oleh seksi keamanan, tapi itu kalau mereka ingat, sebab mereka tidak diwajibkan. Seringkali dalam tata tertib kegiatan, peserta hanya diperbolehkan membawa perlengkapan yang telah disebutkan. Tak jarang, mereka juga menyelundupkan barang-barang seperti di atas. Bagi petugas, pelanggaran itu menguntungkan. Barang-barang yang disita langsung menjadi milik petugas itu. Tak ada aturan atau kesepakatan yang melarangnya menghabiskan barang sitaan. Tango, rokok, dan minuman akan dihabiskannya tanpa uang sepeserpun yang ia serahkan ke kios.&lt;br /&gt;Dalam beberapa hal, panitia memang berada pada posisi menguntungkan. Peserta yang notabene adalah anggota baru tidak akan mengajukan protes macam-macam.&lt;br /&gt;Kembali lagi ke kegiatan di aula siang itu. Ruangan dipenuhi seratus kursi plastik. Peserta kegiatan jumlahnya di bawah angka itu. Di belakang, pada emperan menuju dapur, petugas sedang membentak-bentak peserta. Mereka ditemani beberapa pria yang bertugas sebagai anggota keamanan. &lt;br /&gt;Panjang emperan sekitar sepuluh meter dari pintu keluar menuju dapur sebagai tempat makan siang. Sepanjang emperan itu ada empat buah pos yang harus dilewati.&lt;br /&gt;Di pos pertama, peserta ditanyai tentang materi ceramah yang baru diterima. Panitia memperlakukan ini sebagai ujian apakah peserta memperhatikan pemberian materi. Pertanyaan sering pula jauh melebar. Peserta bukannya diuji, tetapi ditanyai identitasnya. Ini setidaknya memangkas sekian persen waktu. Untuk sang penanya, yang sebagiannya adalah cewek yang bertugas di dapur, kesempatan ini sedikit dipakai untuk mengenal si peserta baru. Peserta ditanyai macam-macam tentang nama, sekolah, kenalan, pacar, dan sebagainya. Sering pula diuji menyebutkan nama panitia. Kalau tidak mengetahui nama panitia, itu kesalahan besar bagi peserta. Ia diperintahkan untuk menanyakan sendiri nama panitia yang bersangkutan langsung kepada orangnya, yang biasanya memberi hukuman sebelum namanya diberitahu. Kalau peserta enggan dihukum, ia akan dibentak hingga ketakutan. Itulah keahlian dan kompetensi petugas keamanan. Mereka dipilih dari golongan berbadan besar dan berwajah seram. Membuat peserta gemetar adalah yuridiksi mereka. Itulah kebiasaan yang diterima diam-diam. Kurang terlalu jelas teori mana yang dipakai panitia untuk aksi bentak-bentakan seperti itu.&lt;br /&gt;Oh, ya. Terlebih dahulu saya sampaikan bahwa kegiatan kali ini adalah Masa Penerimaan Anggota Baru Angkatan Muda Adonara. Sebagian besar anggotanya adalah mahasiswa. Tentang kelompok ini akan dibicarakan lain waktu. Di sini, kita hanya melihat sedikit kegiatan mereka di siang yang cerah ini. Tempat ini memang sedang ramai, dengan peserta puluhan orang. Salah satu peserta disuruh berteriak keras-keras "kaka-kaka panitia kalau macam-macam saya bakar!" Ia disuruh berteriak begitu berulangkali, mirip teriakan saat kerusuhan. Yang menyuruhnya adalah seorang cewek. Suaranya juga melengking tinggi. Jadi, yang belum tahu akan mengira sedang terjadi pertengkaran di situ. Tidak ada yang mengamati orang itu secara khusus, karena semua peserta baru akan mendapat gilirannya sebentar lagi. Semua orang di situ telah atau akan mengalaminya. Lagipula, semua peserta baru sibuk dengan tugasnya yang diberitahu di setiap pos. Di antaranya, wawancara singkat wawancara singkat tentang isi materi, menanyakan tentang tokoh-tokoh pengurus perkumpulan dan sebagainya. Suara bising membaur. Tiap pos siap dengan pertanyaan yang diajukan. Peserta siap dengan jawaban mereka. Di pos lain, peserta disuruh melakukan pekerjaan yang tidak biasa: menggigit sendok, piring dijunjung, lompat pocong, dan sebagainya. Di pos berikutnya, mereka harus merayap di antara dua kursi yang hanya cukup untuk dilewati seseorang. Merayap harus serendah mungkin sebuah kayu dipalangkan beberapa senti di atas tanah, dan badan harus lolos pada jarak itu. Kadang-kadang, saat merayap peserta disuruh berteriak "saya lelaki buaya". Di pos terakhir terletak meja makan. Tempat itulah yang dituju sebab sudah hampir pukul dua kini.  &lt;br /&gt;Sebelum menyentuh nasi, mereka disuruh berteriak pelan "selamat siang nasi, selamat siang sayur, selamat siang ikan, selamat siang air, saya lapar, saya mau makan." Lolos dari situ, ia siap untuk makan. Piring terisi makanan seadanya yang diberikan oleh petugas dengan porsi seragam. Yang kurang menyenangkan bagi panitia, menyediakan hidangan bagi puluhan orang itu dilakukan oleh mereka sendiri. Kesibukan itu cukup berat, terutama bila panitia putri hanya sedikit yang hadir akibat kesibukan akademis.&lt;br /&gt;Tentang aksi tiap pos dan hukuman-hukuman itu, ada banyak pendapat berbeda, baik mendukung maupun menentang. Pada saat pendaftaran anggota, peserta diberitahu bahwa tidak akan ada aksi fisik berbau militer. Kalau kita katakan bahwa itu  taktik,  memang benar demikian. Dengan menyampaikan hal itu, peserta tidak akan menarik diri kerena kegiatannya dianggap menarik. Mereka mendatangi lokasi tanpa tahu bahwa hukuman-hukuman dan kegiatan fisik yang aneh menanti mereka di tempat kegiatan. Tentu saja mereka merasa kecele saat kegiatan berlangsung. Panitia sudah punya cara mengantisipasinya. Yang langsung berhubungan dengan peserta baru adalah panitia yang tidak punya kedekatan dengan peserta tersebut. Seandainya ada, mereka harus tampak tegas dan berwibawa. Mereka harus membuat peserta merasa bahwa panitia berada pada level di atas mereka. Mereka sebut itu senioritas. Senior, khususnya panitia harus dihormati dan dihargai, dan juga selalu benar kalau diajak atau diberi kesempatan berdebat. Dalam wujud paling ekstrimnya, tapi tidak digunakan lagi, adalah pasal sakti yang melindungi senior: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal I: Senior selalu benar.&lt;br /&gt;Pasal II: Kalau senior salah, lihat pasal I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kopian langsung dari yel-yel wajib bagi pelajar Jerman di jaman Hitler. Setiap hari sekolah, mereka serentak mengucapkan ini setelah aba-aba: Hitler selalu benar!&lt;br /&gt;Sampai selama ini, belum ada peserta yang berani lama berdebat dengan panitia. Panitia sering tampak terlalu menakutkan untuk diajak berdebat. Andaikata seseorang berani berdebat, ia akan dikeroyok berdebat oleh panitia lainnya karena dianggap lancang. Memang, waktu yang singkat dan terselenggaranya kegiatan adalah atas "jasa" panitia, sehingga peserta biasanya pasrah saja. &lt;br /&gt;Tentang kegiatan fisik dan siksaan, ini bukanlah hal yang baru. Sejak dulu ini disebut pelonco, yaitu upacara penerimaan. Kebiasaan ini sering digunakan bagi mahasiswa lama untuk menyambut mahasiswa baru di fakultas-fakultas Universitas. Dimulai sejak dulu sekali, bahkan sebelum kemerdekaan. Ini bisa kita baca di roman Siti Nurbaya-nya Marah Rusli. Di sekolah kedokteran Belanda di Jawa, upacara inisiasi alias pelonco sudah dilakukan. Mahasiwa baru, dalam suatu aksi fisik, akan disuruh melewati barisan penyiksa di kiri-kanan "selat". Selat adalah ruang antara barisan senior yang telah siap dengan senjata mereka masing-masing: tangan, tinju, karet, pentung kayu, rotan, dan lainnya. Peserta akan diuji dengan alat-alat tersebut.&lt;br /&gt;Untungnya, aksi melewati selat ini tidak ada lagi kini, khususnya di angkatan muda Adonara. Kengerian ini hanya berbekas -dan untungnya ditulis- di roman, dalam bentuk surat Syamsul Bahri kepada Siti Nurbaya di kota Padang. Dan saya jamin kebenarannya, sembilan puluh sembilan persen senior angkatan muda Adonara belum tahu aksi ini. Kita memang jarang membaca. &lt;br /&gt;Ok, kembali ke tempat kegiatan, peserta menikmati makan siang mereka di tempat masing-masing sepanjang emperan. Mirip di pesta, ini tergantung giliran. Peserta terdiri dari putra dan putri. Semuanya membaur, kecuali saat tidur. Kamar mereka terpisah jauh. Harus menyeberangi aula dan halaman. Sebagian peserta putri berjilbab. Sejauh yang saya amati, tak seorangpun peserta yang saya kenal. Yang jelas, asal mereka adalah dari Adonara. Semuanya tersebar di belasan perguruan tinggi di kota ini. Yang saya catat, semua peserta ini tak seorangpun yang berasal dari Adonara Barat, Adonara Tengah, atau Wotan Ulumado.  &lt;br /&gt;Saya sendiri menangani seksi perlengkapan dan dekorasi yang telah rampung sesaat sebelum kegiatan dimulai. Selama berlangsungnya kegiatan, saya tidak ikut serta, kecuali hadir di siang itu bertepatan dengan kegiatan seminar bulan bahasa di aula komodo tempat di samping lokasi kegiatan. Saya hanya mampir siang itu dan mengetahui bahwa konsumsi belum siap, padahal menjelang pukul setengah dua! Lagipula, ini kesempatan untuk mengenal beberapa panitia di situ. Sebagian besar mereka berasal dari belahan timur Adonara, tambahan pula kami tidak berada pada satu kampus atau jurusan, atau satu sekolah sebelumnya.&lt;br /&gt;Yang di dapur hanya ada tiga orang, semuanya cewek. Dan mereka mahasiswi.  Di jantung kota Kupang, tak perlu takut, kami pakai bahasa suku, bahasa Lamaholot. Yang seorang, Agnes Tokan namanya, mengerjakan cucian perlengkapan makan peserta. Ia berkulit putih, berambut air. Pasti ibu atau neneknya berdarah Jawa. Seperti biasanya, dengan kesamaan identitas dan kemahiran berbahasa suku, kami dapat segera akrab. Cewek yang satunya bernama Endang, sedang merajang sayur. Warna kulitnya sawo matang, berambut ikal, cantik. Dia yang berinisiatif mengajak berkenalan. Ternyata, kami berada di fakultas yang sama, dan kami baru berkenalan saat itu. Saya pikir, dia pernah kenal saya sebelumnya. Tentu saja ia melihat saya di fakultas. Banyak dari kawan-kawan saya berasal dari Adonara Timur. Kemungkinan besar, saya tidak terlalu memperhatikan bahwa kami mungkin telah bertemu beberapa kali, sehingga justru dialah yang lebih dulu merasa akrab. &lt;br /&gt;Tentang mengenal atau tidak mengenal seseorang seperti itu adalah hal yang biasa. Kita sering mengenal orang karena kedekatan. Mungkin kedekatan pada aktivitas, karena kita pernah berada pada tempat dan waktu yang sama. Mungkin pula kedekatan emosional, misalnya rasa simpati dan kebersamaan membuat seseorang mudah diingat. Mungkin pula karena publisitas, karena ia memang orang terkenal. Khususnya di sini karena misalnya ia seorang yang mencolok:  &lt;br /&gt;penampilan fisik, keistimewaan seperti menonjol di satu bidang, latar belakang hidup, kedudukan dan lain-lain. Tetapi ada pula orang yang kedudukannya bagus, tapi tidak dikenal.&lt;br /&gt;Kembali kita perhatikan dapur kita dengan tiga orang "ibu-ibu" di sana. Endang sedang merajang daun dalam jumlah besar dengan kecepatan yang sama dengan yang dilakukannya dengan satu ikat. Lambat. Kemungkinan ia sudah melakukannya sejak beberapa jam yang lalu. Sebagian daun kangkung yang sudah dipotong tampak layu. Semuanya harus siap kurang dari satu jam lagi. Harus ada orang yang mengerjakannya saya rasa. Saya mengambil pisau dan mulai merajang juga. Di dapur ini, tumpukan belanjaan dari pasar kelihatannya baru didatangkan. Lengkap, berwarna-warni, mirip di pesta. Sayangnya, saya tidak tahu nama-namanya. &lt;br /&gt;"Huh. Enak sekali hidangan untuk anak-anak itu." saya menggerutu, hendak melihat reaksi para ibu yang bersusah payah itu.&lt;br /&gt;"Ini hari terakhir!", jawab Agnes Tokan memberitahu. &lt;br /&gt;Untuk setiap kegiatan, mewah tidaknya tergantung di tangan panitia. Di saat dana melimpah, kegiatan jadi lebih mirip pesta foya-foya. Misalnya nasi  ayam yang jarang dijumpai anak kost, aqua berkardus-kardus, dll. Ini didatangkan dari warung yang bisa buat dompet anda ringan dalam sekali mampir. &lt;br /&gt;Dalam situasi ekstrim yang lain, anda cukup puas dengan sepertiga telur goreng dengan garam, serta air sumur rebus. Inilah yang lebih sering dialami. &lt;br /&gt;Untuk penutup kegiatan hari ini, makan malam disiapkan dengan istimewa. Paling miskin ada sepotong ikan segar lengkap dengan bumbu-bumbunya kalau itu dibuat sendiri, tidak didatangkan dari warung.&lt;br /&gt;Di atas tungku kini, di luar emperan, air dalam panci besar mulai mendidih. Cahaya matahari menimpa tempat itu. Saya mengeceknya dan meminta Agnes bantu mengangkat. Kuali besar yang dicuci Endang menggantikan tempat panci tadi. Agnes melakukan pekerjaan berikutnya, menuang minyak dan memasukkan bumbu-bumbu. Wajahnya yang putih tampak mengkilap di bawah matahari siang. Butir-butir keringat menitik di pori-pori. Sejumlah besar sayur lalu saya masukkan ke dalam kuali. Ia membolak-baliknya. Katanya, sayur kangkung akan berwarna hitam kalau tidak dibolak-balik. Saya lalu meminta pengawal -maksud saya, saya ke sama dengan seorang pria lain, anak semester satu- untuk melakukan pekerjaan mengaduk-aduk sayur di kuali besar itu. Kami seharusnya sedang dalam kegiatan lain, seminar bulan bahasa yang materi ceramahnya membosankan. &lt;br /&gt;Pria ini diam saja karena kami menggunakan bahasa Lamaholot sejak tadi. Pria lugu, mungkin ini pikiran para ibu di dapur, dan mengesankan, karena ha tampan.  Ia tenang, sedikit sentimentil, mungkin berbakat jadi sastrawan. Ia tamatan seminari menengah dari pulau Flores. &lt;br /&gt;Pria ini terus mengaduk-aduk sayur kangkung di kuali besar. Dengan nada bercanda, Serli mengatakan bahwa sayur mereka petang ini akan sedap sekali karena yang jadi kokinya adalah seorang pria tampan. Meski dipaksa nyambung, ini umpan yang tepat.   &lt;br /&gt;Pria ini tidak keberatan lagi bicara di sini.&lt;br /&gt;Sementara itu, di ruangan aula, para peserta mulai lagi dengan materi. Seorang pria lagi muncul, mungkin anggota panitia.&lt;br /&gt;"Posisi dapur ini sepertinya tidak tepat," kata saya spontan ketika pria yang baru tiba mendekat, sambil menatap ke deretan jendela di aula yang terbuka. Kepala-kepala peserta tampak dari luar.&lt;br /&gt;Pria itu tampaknya langsung mengerti.&lt;br /&gt;"Nanti saya suruh tutup jendela-jendela itu," katanya. Di sana, terutama para peserta yang di dekat jendela, perhatian mereka terbagi antara bunyi desis minyak di penggorengan dan ceramah pemateri di depan. Jarak antara dapur dengan aula memang sangat dekat, sekitar sepuluh meter.&lt;br /&gt;Di hadapan peserta, tampak seorang pemateri dan seorang yang bertugas sebagai moderator. Materi yang mereka bawakan bukan bahan yang baru bagi seseorang yang pernah mengikuti kelompok pembinaan pemuda mahasiswa.&lt;br /&gt;Yang bisa disebut materi dasar karena sudah saya lihat ada sejak di KMK Keluarga Mahasiswa Katolik PMKRI Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia API REINHA Aktivitas Pendalaman Iman Reinha, sampai AMA-K Angkatan Muda Adonara adalah Public Speaking diskusi, debat, pidato, dll, memimpin rapat, kesekretariatan, dinamika kelompok, selayang pandang/sejarah perkumpulan, dan materi lainnya. Materi yang sama sudah didapat oleh sebagian peserta dua minggu sebelumnya dalam kegiatan MPAB PMKRI di Buraen. Saat ditanya-secara pribadi- kenapa mereka ikut pula kegiatan ini, padahal isi materinya sama, seseorang dengan santai menjawab: "Seharusnya kami tidak ikut saja. Materi di PMKRI toh levelnya lebih tinggi. Tapi karena Lewotanah memanggil, jadi kami aktif pula di sini."&lt;br /&gt;Di belakang pemateri, ada tulisan dari kertas berwarna di latar belakang kain biru:&lt;br /&gt;"MASA PENERIMAAN ANGGOTA BARU ANGKATAN MUDA ADONARA, puin ta'an uin, gahan ta'an kahan"&lt;br /&gt;Peserta mengikuti kegiatan ini dengan bersemangat. Sebagian besar darinya, karena belum pernah ikut kegiatan ini sebelumnya, tampak sangat tertarik. Mereka menggantungkan harapan yang besar bahwa dengan ikut hadirnya mereka saat ini, mereka akan dapatkan sesuatu yang lebih baru daripada yang didapat teman-teman mereka yang tidak ikut.&lt;br /&gt;Saya sendiri tidak akan masuk ke dalam aula, karena materi yang disampaikan dan kegiatan peserta yang membosankan. Di dapur, saya mengamati bahwa yang sibuk di situ adalah para gadis. Posisi mereka ternyata masih sama seperti di kampung halaman sana, mengurus rumah tangga. Pernah ada sebuah graviti berbunyi demikian:  PUTRA ADONARA DILAHIRKAN UNTUK MENGUASAI, BUKAN UNTUK DIKUASAI. Sedangkan di sini, bunyinya dibalik PUTRI ADONARA DILAHIRKAN UNTUK DIKUASAI, BUKAN UNTUK MENGUASAI. &lt;br /&gt;Ketiga gadis lalu diperintah-dihaluskan menjadi diminta- untuk mempercepat pekerjaan mereka oleh Steering Commitee. Bapak petugas ini beralasan bahwa materi berikutnya masih cukup padat. Beberapa saat kemudian, seorang pria muncul dengan membawa tiga bungkus es cendol untuk ketiga gadis. Mereka ceria kini, lalu mulai bisa berbicara lagi.&lt;br /&gt;"Kamu di sini sejak kemarin?" Endang bertanya ke arah saya.&lt;br /&gt;"Tidak. Kebetulan saya mampir."&lt;br /&gt;"Jadi, kamu baru datang tadi?" tanyanya keberatan.&lt;br /&gt;"Tidak. Tiga hari lalu saya di sini mengurus dekor. Sejak itu saya pulang karena tidak ada lagi yang saya kerjakan. Tapi sebagai panitia, tidak salah kan kalau saya mampir sini? Di gedung sebelah, kegiatan jalan sebentar lagi. Kami telah habis makan siang dan ini saatnya istirahat."&lt;br /&gt;Kawan seperjalanan saya lalu muncul dengan rokok di tangan. Ia baru membelinya di jalan utama di depan gedung FKM Undana. Asap lalu mengepul. Pekerjaan memasak dilanjutkan. Kini gadis-gadis menuang air ke ember minum. Air dari panci besar harus didinginkan sebentar untuk disaring. Semua air di Kupang, kecuali air mineral, harus disaring dulu dari kapur yang terlarut. Kapur bisa beresiko menyebabkan batu ginjal.  &lt;br /&gt;Gadis lain memasukkan nasi ke baskom besar dan memindahkannya ke meja makan. Peralatan makan sudah ditumpuk di meja itu sejak tadi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6917926512113958963-288249922015853114?l=penaadonara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/288249922015853114/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2009/11/gedung-aula-bpg-ruangannya-memang-luas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/288249922015853114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/288249922015853114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2009/11/gedung-aula-bpg-ruangannya-memang-luas.html' title='MPAB AMA-Kupang 2008'/><author><name>Simpet Soge</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2k4pE9J8p3A/Smo16aj0PCI/AAAAAAAAAhg/nfp4AmdoXLA/S220/wert.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963.post-7279378645879801940</id><published>2009-11-07T10:10:00.001-08:00</published><updated>2009-11-07T10:10:35.704-08:00</updated><title type='text'>PENGHARGAAN</title><content type='html'>Huh. Makan surat penghargaan dari duta Vatikan itu! Kalau kamu tahu kamu bisa kenyang kebanggaanmu dengan  kertas selembar itu. Kamu mesti tahu, kamu dihargai karena pekerjaanmu, bukan karena kehebatanmu. Dan penghargaan itu bukan diberikan di akhir, itu diberikan di tengah-tengah usahamu supaya kamu dapat sedikit dorongan yang kedengarannya bernilai religius, bagi besarnya gereja katolik.”&lt;br /&gt;Dan langkah di tengah-tengah yang kini kau hentikan itu. Coba lihat, amati. Apa langkahmu benar-benar kau hentikan ataukah kau melanjutkannya di jalan lain dengan tujuan yang sama. Saya hanya mendiagnosa tentu, kalau kamu benar-benar berhenti, mandeg. Satu bahasa yang kedengarannya sinonim dengan mati. Yang namanya penghargaan hanya berlaku kalau kamu masih berharga seperti yang dikatakan dalam penghargaan itu. Kebanggaan yang sebenarnya adalah suatu keadaan di mana anda benar-benar telah berharga, masih berharga, dan terus berharga dan anda merasakan dan tetap menghidupi itu. Meski tanpa selembar kertas dengan tandatangan orang lain atau nama besar sebuah lembaga besar. Mereka itu yang biasanya punya ide besar yang sebetulnya datang dari interaksi antar orang-per orang juga seperti kamu dan orang-orang lainnya. Kita hanya sekumpulan manusia dengan niat dan akal yang bergerak jauh melebihi kekuatan masing-masing kita untuk mengendalikannya, karena itu adalah kehendak dalam himpunan yang menembus batas ruang waktu.&lt;br /&gt;Aris memaki di tengah-tengah perjalanan pulang. Jenuh dengan semua yang terikat pada kebanggan masa lalu sehingga mengira dunia hanyalah himpunan masa lalu yang dikisahkan.&lt;br /&gt;Di kostnya, ia punya seorang yang dengan bangga menceritakan tentang tulisannya yang menembus redaksi horizon dan dimuat di salah satu edisinya. Dan satunya lagi ia jumpai hari ini. Tulisannya dapat penghargaan dari duta Vatikan.&lt;br /&gt;Tapi kini, itu sama-sama hanyalah legenda yang tak meninggalkan bukti dalam diri orang-orang itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6917926512113958963-7279378645879801940?l=penaadonara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/7279378645879801940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2009/11/penghargaan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/7279378645879801940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/7279378645879801940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2009/11/penghargaan.html' title='PENGHARGAAN'/><author><name>Simpet Soge</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2k4pE9J8p3A/Smo16aj0PCI/AAAAAAAAAhg/nfp4AmdoXLA/S220/wert.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963.post-5065180130121164380</id><published>2009-11-07T10:06:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:07:19.189-08:00</updated><title type='text'>POLITISI</title><content type='html'>Ia berbicara seenaknya. Padahal belakangan saya tahu kalau sekolahnya belum kelar.&lt;br /&gt;"Kalau mau jadi PNS, saya pasti sudah lama masuk," bualnya tanpa ragu.&lt;br /&gt;"Masa?"&lt;br /&gt;"Jelas ya. Kolegaku banyak yang pejabat. Wabup sendiri malahan jadi teman baikku. Sering saya main ke rumah jabatan. Kalau saya ke sana, saya sering menelepon ke rumah teman-teman. Saya ajak mereka bicara hal yang tidak penting di telepon. Berjam-jam. Dengar, berjam-jam, kadang bisa sampai separuh malam. Mereka sering balik nanya, apa masih lama saya bisa menelpon. Hahahaha. Jelas. Omongan kita yang tidak masuk akal ini harga pulsanya mahal. Tapi jangan takut saya bangkrut. Ini semua sudah dibayar oleh rakyat. Saya sedang ada di rumah jabatan Wabup sekarang."&lt;br /&gt;"Kacung lu."&lt;br /&gt;"Begitulah enaknya dekat dengan orang politik. Ke mana-mana enak dapat fasilitas. Tapi itu kalau menang pilkada. Kalau kalah, ya jadi abu. Siap diinjak-injak orang."&lt;br /&gt;Ia melirik ke jam tangannya. Cepat-cepat saya menyambung bertanya.&lt;br /&gt;"Sejak kapan kamu masuk ke lingkaran orang politik semacam itu?"&lt;br /&gt;"Barusan saya muncul di pilkada lalu. Waktu itu tim kami dibentuk untuk seorang calon yang sekarang jadi pemenang. Kami punya seratus tiga puluh orang di tim. Saat itu, sebelum masa kampanye tentunya, tim kami turun dengan menyaru sebagai tim peneliti. Tim peneliti apaanlah. Ada yang sebagai peneliti budaya, sosial, pendidikan, kesejahteraan masyarakat, dan politik. Seluruh anggota kami disuruh menyebar ke semua desa di kecamatan. Kami punya dua orang di tiap desa. Tiap akhir pekan ada pertemuan yang digilir tiap ibukota kecamatan, yang kami ganti setiap minggunya. Kami berhasil merekrut banyak kepala tiap pertemuan. Dari situ, mereka kami giring untuk mempelajari setiap konsep yang kami berikan. Mulanya ilmu budaya, sosial, pendidikan, dan kesejahteraan. Nah. Setelah mereka tenggelam dalam kekaguman atas pengetahuan kami-karena mereka bodoh tentunya-tanpa sadar mereka kami cekoki dengan visi-misi unggul partai kami."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6917926512113958963-5065180130121164380?l=penaadonara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/5065180130121164380/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2009/11/politisi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/5065180130121164380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/5065180130121164380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2009/11/politisi.html' title='POLITISI'/><author><name>Simpet Soge</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2k4pE9J8p3A/Smo16aj0PCI/AAAAAAAAAhg/nfp4AmdoXLA/S220/wert.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963.post-3028479343761834034</id><published>2009-11-07T10:04:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:06:08.863-08:00</updated><title type='text'>LARANGAN</title><content type='html'>“Kakanda akan berbagi cerita”, kata-kata pertama menandai sesi tutur cerita.&lt;br /&gt;Puluhan peserta membisu di atas tikar, persiapkan diri agar bisa diberi inspirasi dari kegiatan hari itu. Ini hari kedua. Di depan, duduk bersila tiga orang berpeci hijau. Sebuah spanduk hijau di belakang ketiga pencerita ini ditempeli  tulisan kertas berwarna terang.&lt;br /&gt;Tuturan berlanjut. Semua mendengar dan sesekali mencatat. Tiga pria ada di barisan tengah, canggung di depan cerita berapi-api. Mereka baru diterima dan diperkenalkan sehari sebelum itu dengan kelompok pemuda yang berhimpun untuk kegiatan membina diri. Ini adalah kelompok yang sudah punya tradisi panjang, sudah dipercaya untuk menjadi tempat berhimpun dan berbina jasmani rohani.&lt;br /&gt;Sesi itu selesai ketika mereka diingatkan kembali pada aturan-aturan sunah. Semua peserta telah paham, setelah berwudhu, tidak diperkenankan untuk bersentuhan dengan muhrim, yaitu para gadis-gadis sesama peserta. Tapi siapa yang bisa mengawasi semuanya? Ketika ada waktu lowong, ketiga pria canggung menyusup ke luar ruangan. Di sela-sela bangunan mesjid raya, banyak sudut-sudut tanpa penerangan lampu. Ketiga pria canggung memergok Kakanda panitia yang sejak tadi tidak kelihatan lagi mengawasi. Ia ternyata kini ada di sana, di sudut dengan siluet gelap, menjauh dari keramaian bersama seorang gadis berjilbab. Di sudut satunya begitu pula. Seorang pria lain dengan gadis yang duduk mematung seperti kebingungan.&lt;br /&gt;Mereka ternyata hanyalah gelegak darah muda di tengah rangkaian kegiatan yang disebut pembinaan ini.&lt;br /&gt;Sesi berikut pun dimulai lagi. Di hadapan peserta, di bawah bendera hijau hitam, duduk bersila seorang kakanda lainnya. Ia belum dikenal sebelumnya oleh ketiga pria canggung yang memang baru hadir bergabung kemarin. Tapi ia seperti sudah mengenal semua hadirin dan apa yang mereka pikirkan. Dan apa yang mereka yakini.&lt;br /&gt;“Sebagai muslim sejati,” ia pun berbagi cerita, sepeti lima enam kakanda sebelumnya, 'kita jangan berhubungan dengan ini'. Kata-kata tegas.&lt;br /&gt;Sebuah kertas dikeluarkan. Semua menahan napas. Kertas itu dibuka satu per satu lipatannya lalu dibentangkan di hadapan hadirin. Gambar salib.&lt;br /&gt;Salah satu dari tiga pria canggung mengangkat tangannya. Menyatakan tidak sepakat. Ia lalu keluar, mengambil tasnya, lalu pamit kepada dua pria canggung lain dan penyelenggara.&lt;br /&gt;“Kenapa kamu berniat pulang?”&lt;br /&gt;“Saya tidak sepakat dengan apa yang disepakati oleh semua orang di sini.”&lt;br /&gt;“Oh, ya. Kamu muslim kan?”&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;“Lantas apa yang mengganggu?”&lt;br /&gt;“Ibu saya katolik. Dan mereka yang di dalam itu melarang saya sebagai muslim sejati. Saya  rasa saya tak layak untuk ikut di sini.”&lt;br /&gt;Tanpa basa-basi dan tawar menawar, si pria pergi. Tinggalkan sebuah lambang peradaban di belakang sana, kubah besar tempat umat pilihan allah didengar doa-doanya. Di dalam naungan bangunan tembok besar di bawah kubah putih itu. Dan para pemuda di dalamnya. Apakah mereka mengerti peradaban itu ketika seluruh dunia berputar, dan mereka pun ikut berputar, dan karena itu tak ada satupun yang berada di pusat perputaran itu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6917926512113958963-3028479343761834034?l=penaadonara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/3028479343761834034/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2009/11/larangan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/3028479343761834034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/3028479343761834034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2009/11/larangan.html' title='LARANGAN'/><author><name>Simpet Soge</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2k4pE9J8p3A/Smo16aj0PCI/AAAAAAAAAhg/nfp4AmdoXLA/S220/wert.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6917926512113958963.post-346579082213694360</id><published>2009-11-07T10:01:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T10:03:44.450-08:00</updated><title type='text'>ADBAR</title><content type='html'>Waktu menunjukkan hampir pukul dua malam ini. Sebuah jalan saya di kawasan walikota tentu saja tidak gelap pekat karena lampu jalan memerangi dari dua sisi, kira-kira tiap jarak 20 meter. Kota sunyi dalam lelap tidur penghuninya, tetapi tidak di jalan raya itu. Sekitar dua puluhan orang menyusuri jalan lebar itu dengan cerita masing-masing. &lt;br /&gt;Kamu mungkin merasa berada pada tempat dan waktu yang salah karena menemukan bahwa kelompok orang ini adalah orang Adonara, tepatnya pelajar Adonara Barat. Mereka baru selesai dari kegiatan pertemuan beberapa menit lalu. Yang terlibat adalah pelajar Adonara Barat yang aktif dalam IPMAB. Kelompok orang yang berjalan kaki ini adalah sebagian anggotanya. Sebagiannya yang lain memilih bertahan di gedung pertemuan atau menginap di kost-kostan di sekitar gedung. &lt;br /&gt;Tak ada satupun kendaraan umum yang lewat. Semua orang bergerombol di badan jalan. Hanya sesekali lewat mobil dan motor besar milik polisi yang berpatroli. Sekilas kelihatan bahwa polisi juga sibuk dengan handy talky. Soalnya, malam ini telah melewati pukul 00.00, maka saat ini sudah terhitung dalam hari libur wajib di kota Kupang. Hari ini, atau tepatnya lima jam lagi, pemilihan paket walikota dilakukan. Gerombolan orang di jalanan pada dinihari patut dicurigai sebagai tim serangan fajar, yaitu kelompok orang yang disuruh salah satu calon yang akan menyuap warga untuk memilihnya. &lt;br /&gt;Tujuan mereka masih jauh, sekitar empat kilometer lagi. Mereka, pelajar Adonara Barat, berjalan kali sejauh itu pada satu dinihari. Tak ada kendaraan jemputan, kendaraan umum, apalagi ojek. Apa yang mereka lakukan sehingga di saat biasanya sedang beristirahat mereka masih dalam pekerjaan mereka? &lt;br /&gt;Sejak 18 jam lalu, atau pukul 8 pagi kemarin, semuanya sudah berhimpun di aula PMI yang terletak di walikota. Undangan dari panitia menyebut ini kegiatan Rapat Umum Anggota. Agenda pentingnya adalah laporan pengurusi pembahasan AD/ART serta pemilihan pengurus baru.&lt;br /&gt;Perhatian dipusatkan pada pemilihan pengurus baru. Isu yang lebih dulu merebak adalah soal wilayah timur-barat. Persaingan timur-barat yang akhirnya mengabaikan soal kualitas telah ada sejak dulu. Jauh hari sebelum pertemuan, tiap wilayah telah mengorganisir massanya. Pengorganisasian massa tergantung dari kedekatan pribadi. Kelompok yang nyata-nyata ada-tapi tentu saja tidak diakui secara terbuka- terbagi dua: Lite, Lewobele, Nubalema, dan daerah timur Adonara Barat di satu pihak, berhadapan dengan Kokotobo, Bukit Seburi, Waiwadan dan daerah barat lainnya. Biasanya, tiap kelompok memberi kesempatan bagi seorang untuk 'maju', istilah untuk jadi calon ketua. Memperjuangkan supaya calon dari wilayahnya menjadi pemenang adalah tujuan utama dari pertemuan ini. Kurang jelas, yang dipertaruhkan di sini apakah gengsi pribadi atau gengsi kelompok, atau sesuatu yang lebih penting?  &lt;br /&gt;Yang maju dari wilayah bagian barat adalah Vitus Pehan, seorang aktivis PMKRI dari Fisip Undana, sedangkan yang maju dari wilayah timur adalah seorang aktivis API REINHA dari FKIP Undana. Untuk mengejar kemenangan, maka tiap calon harus tampil menunjukkan kemampuan serta kesiapannya, dan di samping itu (yang paling penting) mendatangkan sebanyak mungkin massa. Massa terbagi menjadi massa petarung dan massa pemilih. Kalau kita katakan massa untuk merujuk pada orang dalam jumlah besar, maka tidak cocok di sini, karena jumlah orang tidak sampai ratusan yang hadir. Massa petarung berjuang dengan ide dan konsep-konsep pada saat rapat. Massa inilah yang nantinya paling vokal, istilah untuk banyak bicara saat rapat, dan paling ribut saat rapat. Sedangkan massa pemilih penting kalau voting dilaksanakan. Massa ini kadang-kadang tidak penting saat rapat berlangsung dan wajib ada saat voting, kalau perlu dikirim penjemput untuk menjemput orang dari kediamannya masing-masing dengan kendaraan. Setiap calon pasti telah mendata massa atau orang yang potensial menjadi massanya. Dengan demikian, ia bisa meramalkan, apakah ia bisa maju dengan meyakinkan ataukah tidak.&lt;br /&gt;Untuk mendatangkan massa, perlu pula usaha sendiri. Semua orang tinggal saling berjauhan, sehingga kadang sukar dijangkau. Saya sendiri tinggal sejauh lebih dari sepuluh kilometer dari calon wilayah barat yang secara teritorial masuk wilayah saya. Untuk mendata, seharusnya itu bukan pekerjaan yang susah. Yang menyulitkan adalah karena kita justru memandang itu pekerjaan yang sederhana sehingga menganggapnya remeh.&lt;br /&gt;Sekitar 19 jam lalu.&lt;br /&gt;Sekitar enam sampai tujuh orang telah berkumpul di sebuah rumah kontrakan yang terletak di jalan nangka, Oeba, Kupang. Salah seorangnya memegang daftar lengkap berisi nama-nama orang yang nantinya akan memberi suara saat voting nanti. Ia sibuk memikirkan bagaimana semua orang dalam daftar itu akan datang saat voting pada RUA nanti sehingga suara mereka bisa memenangkannya. Ia telah menyatakan diri akan maju dalam pertarungan merebut posisi ketua kali ini, sehingga basis massa Adonara barat dipegangnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6917926512113958963-346579082213694360?l=penaadonara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaadonara.blogspot.com/feeds/346579082213694360/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2009/11/adbar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/346579082213694360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6917926512113958963/posts/default/346579082213694360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaadonara.blogspot.com/2009/11/adbar.html' title='ADBAR'/><author><name>Simpet Soge</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2k4pE9J8p3A/Smo16aj0PCI/AAAAAAAAAhg/nfp4AmdoXLA/S220/wert.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
